Monday, January 7, 2013

Coca-Cola




Kata Coca-Cola berasal dari gabungan 2 unsur "obat" yang menjadi bahan dasarnya, daun Coca dan kacang Cola. Coca merupakan tanaman mahal yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di daerah Andean/Andes, Peru. Sedangkan Cola, yang mengandung caffeine, adalah pohon yang berasal dari hutan Afrika. Formula Coca-Cola ini pertama kali dibuat tahun 1886 oleh John Styth, seorang apoteker dan mantan tentara konfederasi, dengan proporsi 3:1 antara Coca dan Cola.

Tumbuhan Coca ini dianggap mahal karena dari daunnya lah kemudian dihasilkan "obat bius" yang bernama Cocaine (Kokain). Bubuk Cocaine sendiri dulu sering dipergunakan sebagai penghilang rasa sakit pada luka parah di medan peperangan. Dengan penggunaan bubuk Cocaine, penderita akan merasa ba'al (mati rasa) pada lukanya. Sedangkan Coca-Cola awalnya dibuat sebagai minuman alternatif pengganti minuman keras beralkohol tinggi. Tentunya cukup dipahami bila istilah "Coke" sering digunakan sebagai sebutan untuk baik Coca-Cola maupun Cocaine, bukan?

Penggunaan Cocaine sebagai bahan dasar Coca-Cola ini telah berlangsung hingga 1929 saat Coca-Cola menyatakan dirinya "bebas-Cocaine" setelah adanya serangan dari masyarakat sejak tahun 1890 tentang penggunaan Cocaine dalam minuman tersebut. Karena penyalahgunaan Cocaine yang telah merebak dimana-mana, maka pemerintah Amerika telah melarang impor dan kepemilikan Cocaine dalam bentuk apapun di Amerika.

Namun, ada sumber yang menyatakan bahwa ternyata Cocaine masih digunakan untuk mempertahankan dan melindungi nama merk dagang "Coca-Cola". Hanya saja kadar penggunaan Kokain di dalamnya telah dikurangi. Karena itulah, meskipun larangan telah diberlakukan di Amerika, Coca-Cola merupakan pengecualian yang hingga kini masih menjadi satu-satunya pihak yang secara legal boleh mengimpor tanaman Coca.

Lepas dari benar tidaknya berita tentang Coca-Cola masih menggunakan Cocaine atau kepada negara mana pihak Coca-Cola memberi donasinya, Coca-Cola masih merajai penjualannya di atas merk minuman lain. Mungkinkah logo Coca-Cola bukanlah satu-satunya hal yang dipertahankan sejak dulu? Entahlah...

Friday, December 21, 2012

Proses

Sepintas tulisan itu tampak telah siap untuk dibaca orang lain. Bahkan setelah kuperiksa ulang beberapa kali, aku sempat memutuskan untuk mempublikasikannya secara umum. Namun entah kenapa, ada yang terasa mengganjal dalam hatiku sehingga aku urungkan niatku itu dan kuputuskan untuk menyimpannya sebagai sebuah draft yang akan kubaca lagi setelah beberapa hari kemudian. Aku sendiri tidak tau ganjalan apakah itu.

Lalu di saat-saat kesendirianku, aku mencoba memikirkan makna apa yang terkandung di dalam tulisan itu. Aku mencoba mengingat apa yang menjadi alasanku menulisnya.
Akhirnya setelah menimbang benar-salahnya isi dan arti yang hendak kusampaikan disitu, baik-buruknya dampak yang akan ternuai dari penulisan itu, mengingat keaneka ragaman persespsi masing-masing pembacanya, maka aku urungkan niat awalku.

Tulisan itu merupakan suatu ulasan isi hati yang mungkin lebih tepat untuk disimpan sendiri bagaikan sebuah jurnal yang layaknya dituangkan ke dalam buku harian yang sifatnya sangat pribadi. Pada siapa lagi aku bisa mengandalkan pengertian yang murni sejalan dengan pengertianku kalau bukan pada aku sendiri. Aku bisa salah menilai siapapun yang kuduga mampu menarik arti tulisanku itu dengan benar. Dan jika itu terjadi, aku hanya akan menambah masalah dalam kehidupanku. Nantinya, bisa jadi tulisan yang seharusnya merupakan upaya dalam melepaskan beban pikiranku justru menciptakan beban baru.

Aku kian menyadari bahwa aku hidup di tengah begitu banyak orang yang merasa perlu untuk mengenakan topeng dalam menjalani kesehariannya. Topeng yang dianggap perlu untuk mendapatkan keinginan pribadi...ketenaran, kesusksesan, pertemanan, cinta, kehormatan, dan banyak hal lainnya. Aku tau betul jika topeng-topeng ini bermanfaat untuk menebar pesona, karena akupun sering mengenakannya. Aku yakin banyak orang yang mengandalkan topengnya untuk menutupi identitas yang oleh dirinya sendiri dianggap tidak layak untuk ditampilkan.

Mengapa kemudian aku lebih memilih untuk tidak melepaskan topengku saat aku memutuskan untuk men-delete saja tulisanku itu?
Ini adalah hasil dari suatu proses pembelajaran, yang kemudian menjadi bagian dari pembelajaran yang lain. Aku masih harus belajar banyak tentang bagaimana membuka diri pada masyarakat. Seringkali bersifat transparan justru membuntukan jalan yang aku lalui jika dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Dan dari pembelajaran yang kulakukan selama ini, keputusanku untuk tetap mengenakan topengku disini merupakan langkah yang tepat untuk saat ini.

Sangat melelahkan memang mengenakan topengku. Bersikap manis pada saat aku seharusnya memaki-maki atau menangis sangat menguras tenaga dan menggerogoti perasaanku. Ingin sekali aku melepaskan topengku dan membakarnya hingga abu terakhir agar tidak akan ada lagi celah buatku untuk kembali mengenakannya.
Namun sekali lagi, ini sebuah proses yang layak aku lalui. Pembelajaran demi pembelajaran masih harus aku lalui sebelum sampai waktuku untuk membuka diri sepenuhnya, mengingat apa yang aku inginkan untuk hidupku bukanlah suatu hal yang kecil. Dan demi bisa mendapatkannya, aku harus rela berkorban dengan berikhlas dalam terus mengenakan topengku ini.




Thursday, November 1, 2012

Sebuah Kenangan

Dua malam yang lalu seorang lagi teman memenuhi panggilanNya. Bang Remy bukan saja teman namun juga mentor yang telah memberiku banyak ilmu terutama di dunia musik dan hiburan. Bagi kebanyakan seniman Indonesia, ia termasuk tokoh terkenal yang telah sekian lama menekuni bidangnya sebagai jurnalis, pengamat musik dan budayawan. Sosok yang sangat santai dan berpikiran sederhana. Tidak habis-habisnya ia memberikan pengarahan pada seniman-seniman muda dalam meniti karirnya. Yang aku segani darinya adalah bahwa ia bukan tipe penjilat yang terus haus pujian atau dukungan orang. Ia sangat jujur dalam memberi penilaian dan kejujuran itu ia utarakan dengan gamblang, apa adanya tanpa ragu.

Aku ingat ketika aku bertikai dengan seorang musisi, yang kebetulan memang yang mengenalkanku dengan bang Remy. Musisi ini adalah teman masa kecilku yang sempat aku bantu dalam bisnis label rekamannya. Banyak sekali teman di sekitarku yang meskipun sangat memahami duduk perkara yang terjadi, cenderung mengambil sikap abstain seolah tidak ingin di cap sebagai aliansiku. Bahkan ada yang lebih dulu mengenalku, justru menjauhiku demi mempertahankan pertemanannya dengan musisi ini sekedar untuk ikut menikmati cipratan kepopulerannya. Mungkin jumlah orang yang kemudian mengambil sikap membelaku bisa dihitung dengan jari-jari tanganku. Bang Remy merupakan salah satu dari kelompok kecil ini, dan ia malah dengan tegasnya kerap menceritakan ke orang lain betapa besarnya dukungan yang ia berikan padaku. Ia juga sering menjelaskan kepada orang lain bahwa musisi ini merupakan suatu contoh sosok yang penuh ego yang kerap melakukan berbagai tindakan tanpa logika. Bang Remy juga menyebutnya sebagai contoh seniman yang karirnya berantakan karena ulahnya sendiri yang tidak menjunjung tinggi etika dalam bisnis musik.

Menyedihkan memang, jika mendengarkan cara khas berceritanya bang Remy tentang musisi ini mengingat aku pernah menganggapnya sebagai teman dekat. Namun bahwa pertemanan itu berakhir dengan pertikaian yang berbumbu pemfitnahan, aku sama sekali tidak melihat adanya upaya pendramatisan dari bang Remy. Itulah salah satu diantara sekian banyak sifat bang Remy yang aku ingin teladani. Aku yakin banyak orang yang beranggapan serupa tentang dirinya. Semoga sifat-sifatnya itu terus memberikan banyak manfaat bagi semua yang mencintainya.

Selamat jalan bang Remy Soetansyah. Doaku selalu menyertai perjalananmu menujuNya.




Wednesday, October 31, 2012

Korban Qurban

Mungkin memang lucu kedengarannya sehingga aku cukup memaklumi dan merasa tidak tersinggung ketika orang tertawa begitu mendengar cerita tentang nasibku diseruduk seekor hewan. Meskipun rasa sakit dan kecederaan yang diakibatkannya kurang lebih sama dengan ditabrak kendaraan bermotor yang melaju dengan kecepatan 10 km/jam, namun aku sendiri tidak begitu menanggapinya secara serius mengingat penabraknya adalah sapi qurban yang lepas kontrol.

Bermula dari kehadiranku sekeluarga yang hendak menyaksikan penyembelihan hewan qurban hari sabtu kemarin di halaman belakang sebuah masjid seputar tempat tinggalku. Kemudian aku langsung terlibat pembicaraan tentang prosedur penyembelihan seekor kambing yang telah aku pesan sebelumnya. Naasnya, baru selang sekitar 1 menit, aku mendengar suara keributan masyarakat yang hadir disitu. Belum lagi mengetahui penyebab kegaduhan itu aku merasakan badanku terhempas ke udara dan mendarat tertelungkup di atas tanah becek bercampur darah dan air. Hanya satu dua detik yang kubutuhkan untuk memulihkan kekuatanku untuk bangkit sambil melihat sekilas seekor sapi yang berlari menjauh menuju ke tanah lapang dan membubarkan massa.

Intuisiku langsung menggerakku memeriksa dimana keluargaku berada. Dan aku kaget luar biasa menemukan anak sulungku terbaring di atas dadanya dekat tempatku terjatuh. Untungnya, ia berada dalam keadaan sadar meskipun kondisi sebagian tubuhnya mengalami luka dan memar. Aku segera mengangkatnya dan mendudukannya di bangku yang ada, kemudian membersihkan tubuh dan lukanya dengan air dari sejumlah kemasan air minum yang tersedia karena tidak satu orang panitia pun yang datang memberikan air kepadaku.

Rumah seorang teman anakku yang terletak sangat dekat langsung aku sambangi agar aku dapat melepas pakaiannya yang penuh dengan lumpur dan darah, dan memandikannya dengan baik.
Hari itu, tanpa akhirnya menyaksikan penyembelihan qurbanku, aku sibuk melakukan pelbagai upaya untuk pengobatan anakku termasuk membawanya ke tukang urut dan ke rumah sakit untuk tindakan pengambilan foto ronsen. Alhamdulillah, tidak ada tulang yang patah atau retak pada tubuhnya dan lenganku yang sempat ku gunakan untuk menahan badanku ketika mendarat di atas tanah. Aku hanya mengalami kesleo pada kaki dan pergelangan tangan kananku serta sedikit memar di lenganku. Namun anakku harus mengalami patah gigi depan, gusi yang berdarah, luka di kening, tangan dan kakinya.

Hari yang aku harap akan berkesan bagi kedua putraku yang baru kali pertama hadir untuk menyaksikan penyembelihan hewan qurban berakhir tragis.
Mungkin saja pada akhirnya cerita ini memang lucu karena kini putra sulungku ikut tertawa jika mengingat kejadian yang sangat langka untuk bisa terjadi pada siapa saja. Ia bahkan mungkin suatu hari dapat berbangga dirinya karena bisa bertahan selamat setelah dihajar seekor sapi. Tapi tidak ada yang lucu dengan fakta bahwa hingga kini tidak satupun panitia menyatakan mau bertanggung jawab atas musibah ini bahkan sekedar mencoba mencari tau nasib anakku. Bagi mereka, apa yang kami alami adalah sebuah pengorbanan yang menjadi bagian dari tradisi qurban itu sendiri....




Thursday, October 25, 2012

Tanpa Jaminan


Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah atau sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Dinamakan puasa Arafah karena pada saat itu jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Puasa Arafah dianjurkan bagi yang tidak berhaji sedangkan bagi yang sedang berhaji tidak disyariatkan berpuasa.
Keutamaan Puasa Arafah
Rasululllah bersabda: “Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun akan datang.Puasa asyuro (10 Muharam) akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim)

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)”.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Begitulah tepatnya isi pesan singkat (yang cukup panjang) yang aku terima di ponselku dari seorang kerabat dekat. Dan pesan itu hanya satu diantara beberapa pesan lainnya yang bernada serupa.
Sekali lagi aku mendecak sendiri. Bukan karena himbauan itu sendiri tapi justru karena para pengirim pesan ini. Terbayang olehku, sementara di waktu-waktu seperti sekarang yang sudah mendekati hari raya Idul Adha mereka sibuk mengirim anjuran seperti ini sambil membawa nama Rasulullah, namun di waktu lainnya mereka umumnya masih lebih suka menyibukkan diri dengan segala urusan duniawinya...suatu hal yang tidak dilakukan oleh Rasulullah.

Sebenarnya apa yang terlintas dalam benak mereka saat mereka mengajak orang lain melakukan tauladan Rasulullah? Mungkinkah mereka, karena suasana yang makin mereligius menjelang hari besar seperti ini, seolah lupa akan segala tindak tanduk negatifnya, atau memang mereka benar-benar berniat bertobat? Tanpa meragukan kebenaran sabda Rasulullah, aku dengan mudah berburuk sangka bahwa dengan melakukan puasa Arafah, dosa mereka setahun kemarin dihapuskan, dan dengan ringannya mereka kemudian dapat lebih mengumbar nafsu duniawinya setelah menganggap telah mengantongi penghapusan dosa-dosa yang akan mereka lakukan selama satu tahun ke depan. Wow...nyaman sekali!

Aneh bahkan lucu kelihatannya jika himbauan atau ajakan seperti ini datang dari orang yang selama ini begitu teganya merampas hak orang lain. Dengan semena-mena mengabaikan berbagai larangan agama demi kepuasan dirinya sendiri. Mungkin akan masuk akal bila himbauan ini diiringi dengan aksi pengembalian hasil rampasannya lengkap dengan permintaan maaf atas segala kekhilafannya sambil berjanji utnuk tidak mengulanginya. Kalau tidak, akan sama saja dengan menikmati hidangan sahur dan buka puasa yang dibelinya dengan uang yang bukan menjadi haknya. Menjalankan puasa di tengah-tengah harta yang menjadi kebanggaannya sebagai simbolisasi kesuksesan hidupnya.

Banyak sekali orang yang begitu dahsyat usahanya mendapatkan air kehidupan ini melebihi kecukupannya hingga merasa perlu merenggut hak orang lain sampai-sampai tidak mampu lagi menyadari jika mereka tidak sepantasnya berteriak-teriak mengajak orang lain untuk melakukan ibadah. Butuh kesadaran yang tinggi dan jiwa yang bersih untuk seseorang memberi nasihat dan himbauan seperti ini. Belum lagi pakai bumbu kekesalan dan kemarahan atau bahkan sekedar hasrat untuk berdebat jika himbauannya tidak diindahkan dan mendapat penolakan.

Selain mengejar penghapusan dosa 2 tahun, aku tidak tau alasan lain orang ingin melaksanakan puasa ini. Apakah mugnkin sebagai penghormatan pada mereka yang tengah menunaikan ibadah haji dan berada di padang Arafah? Yang jelas, para jemaat haji itu tidak melakukannya. Bagiku. respek kepada para jemaat itu cukup aku wujudkan dalam bentuk pelaksanaan ibadah shalat Ied smbil berdoa untuk keberhasilan dan keselamatan mereka. Karena biar bagaimanapun, beban hidup mereka sekembalinya dari perjalanan haji akan sangat berat guna mendapatkan kemabruran hajinya. Sekali lagi, urusan duniawi jelas harus jauh dari prioritas kehidupannya.

Aku tidak sedikitpun berniat untuk menghadapi ujian berpuasa Arafah, karena apa yang tengah aku hadapi dalam hidup saat ini sudah menjadi suatu ujian yang sangat berat. Hari-hariku telah penuh dengan ujian berat yang harus aku lewati dengan sebaik mungkin agar aku bisa menetapkan langkahku di jalanNya.
Aku juga tidak tergiur dengan peghapusan dosa itu, karena aku hanya bisa berharap taubat yang pernah aku mohon kepadaNya atas setiap dosaku di waktu yang lampau dihadiahi pengampunan dan penghapusan tanpa penentuan batasan periode. Dan aku hanya bisa berharap bisa menghindari diri dari dosa di waktu mendatang tanpa merasa perlu punya jaminan keselamatan bak surat sakti atau kekebalan hukum.




Thursday, October 4, 2012

Kepuasan Tersendiri

Mungkin bukan pada tempatnya bila aku tertawa di atas penderitaan orang lain. Tapi kalau boleh aku mencari pembenaran atas apa yang aku rasakan, alasanku sepertinya cukup masuk akal.
Coba bayangkan apa yang akan anda rasakan bila seorang yang begitu dekat dengan anda, yang telah anda anggap sebagai saudara sendiri, anda pinjami sejumlah besar uang, namun kemudian menolak untuk mengembalikan pinjaman tersebut? Apalagi penolakan itu berbumbu alasan yang tidak masuk akal bahkan cenderung menjurus pada fitnah.

Nah, hal itulah yang aku alami sekitar satu dekade yang lalu. Pinjaman yang aku berikan pada teman masa kecilku yang aku kenal sejak di bangku sekolah dasar itu cukup besar. Saat itu ia mengajak aku membangun sebuah perusahaan label rekaman yang rencananya akan menaungi artis-artis baru dan muda yang menurutnya layak diorbitkan. Sebenarnya tawaran untuk menanamkan investasi pada usaha ini cukup menggiurkan mengingat ia saat itu merupakan seorang musisi lokal terkenal dan aku mengakui kejeliannya dalam memilih musisi dan musik yang berbobot, sehingga usahanya bisa diprediksi punya peluang yang bagus untuk sukses. Tapi aku merasa perlunya menjadikan dana tersebut sebagai pinjaman ketimbang investasi karena aku sendiri belum tau persis bagaimana ia bekerja selaku seorang usahawan karena selama ia hanya baru membuktikan dirinya sebagai seseorang yang sukses sebagai musisi.

Aku kemudian memang ikut membantunya menggerakan roda bisnis label rekamannya. Bahkan aku sudah sepakat untuk nantinya mengurus urusan manajemen semua artis yang musiknya bernaung di bawah bendera label rekaman tersebut. Sebelum album rekaman diluncurkan, tentunya aktifitas yang ada dalam perusahaan itu melulu hanya perekaman, sehingga aku belum punya tugas resmi. Kehadiranku yang hampir setiap hari di kantor itu lebih merupakan bagian dari proses dari persiapan membentuk manajemen artisnya. Aku juga sering mendampingi dan membantunya dalam menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan segala urusan perekaman dan karirnya sendiri.

Dan ketika ia butuh tambahan investasi, ia meminta tolong aku menjembatani usahanya untuk mendatangi dengan seorang sahabatku, Chandra yang sebelumnya pernah menjadi house mate ku selama masa kuliahku di luar negeri. Tidak ada sedikitpun penentangan atas niatnya ini karena bagiku semua bergantung pada masing-masing pihak. Aku bahkan menekankan pada Chandra bahwa aku bukanlah penjamin baik omongan teman kecilku ini maupun investasi yang mungkin dilakukan oleh Chandra. Bahwa yang akhirnya terjadi adalah kesepakatan pinjam-meminjam sejumlah besar uangpun dilakukan kedua belah pihak dengan menyadari segala hak, kewajiban dan konsekuensi dari masing-masing pihak tanpa melibatkan aku.


Sayangnya, ego tinggi dan sifat keras kepala yang dimiliki teman kecilku ini kemudian menjadi penyebab rontoknya usaha yang dirintisnya. Belum lagi pola hidupnya yang akrab dengan kehidupan malam, lengkap dengan clubbing dan entertaining nya. Meski tidak diakuinya, aku menduga ia terpengaruh efek minuman alkohol saat mobil sewaan yang dikendarainya menabrak sebuah tiang listrik pukul 4 pagi sepulangnya menjamu teman lama yang tengah berkunjung dari luar kota. Mobil itulah yang saat itu menjadi andalan untuk antar jemput salah seorang artis perusahaannya. Itu hanya satu diantara serentetan kasus lain yang lalu memposisikan baik dirinya maupun usahanya di bawah jurang kehancuran.


Yang lebih mengenaskan lagi, situasi genting yang dihadapinya justru disikapi dengan pemfitnahan terhadap berbagai pihak termasuk aku. Mungkin peringatan, nasehat atau himbauan yang pernah aku lemparkan kepadanya justru menjadi bumerang buatku. Seolah tidak ingin mengakui kebenaran dari apa yang pernah aku katakan padanya, ia justru melemparkan tuduhan bahwa aku merupakan faktor terbesar dari semua kegagalan yang ia temui. Buntutnya, ia dengan lantang mendeklarasikan bahwa tidak akan mengembalikan dana pinjaman dariku sebagai pelampiasan kekesalannya terhadapku.

Hmm..baiklah. Ini bukanlah sesuatu yang mudah ditelan begitu saja jika aku menganggapnya sebagai hal yang jelas merugikanku, namun setelah beberapa lama, aku sanggup menerimanya dengan penuh keikhlasan. Dan itu bisa terjadi karena aku lebih mengangapnya sebagai suatu kegagalan besar untuknya hingga ia mampu mengarang berbagai fitnah dan mengambil sikap negatif yang nantinya akan menjadi beban berat yang harus digendongnya.

Lalu bagaimana dengan kewajibannya yang belum selesai dengan Chandra?

Lucunya, apa yang terjadi sebagai kelanjutan dari kesepakatan itu sama dengan yang terjadi antara aku dengan teman kecilku itu. Padahal, Chandra jelas tidak ikut campur dalam usaha yang dilakukan teman kecilku. Pinjaman dana yang harusnya kembali dalam kurun waktu tertentu tidak pernah terlaksana. Niat yang mengarah kesanapun tidak diperlihatkan teman kecilku. Ia tidak berusaha menghubungi Chandra untuk hanya sekedar meminta maaf atas keterlambatnya dan ia tidak pernah punya nomor telpon yang tetap untuk jangka waktu yang lama mengingat banyak sekali pihak yang berusaha menghubunginya untuk menagih hutang.

Tentunya, dengan sikapnya mengabaikan kewajiban dalam menyelesaikan hutang selama lebih kurang 5 tahun ini ia tidak pernah tau menau apapun yang terjadi pada Chnadra. Kalaupun tau, mungkin saja ia tidak peduli. Begitu pula ketika Chandra divonis menderita gagal ginjal sekitar setahun yang lalu. Perjuangannya begitu besar hingga ia harus melalui operasi transplantasi ginjal di negeri Cina hanya untuk kemudian menerima fakta bahwa operasi itupun berbuntut kegagalan. Proses penyembuhan yang memakan biaya besar ini memaksanya menjual banyak harta bendanya termasuk sebidang tanah kosong yang dimilikinya sejak lama. Dan penderitaan itu berakhir ketika hari Sabtu yang lalu, Chandra berpulang memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa.


Apa yang kemudian akan berlaku pada masalah hutang piutang antara almarhum dengan teman kecilku? Apakah berita mangkatnya Chandra sampai ke teman kecilku? Entahlah. Sewajarnya ada mutual friend yang mungkin menyampaikan berita duka itu kepada teman kecilnya. Jika iya, mungkinkah teman kecilku itu merasa berdosa dan masih mau berbesar hati untuk menyampaikan rasa penyesalannya pada keluarga almarhum? Mungkinkah ia lalu melunasi hutang yang telah bertahun-tahun diabaikannya? Atau justru dengan arogansinya, ia kini merasa lega bahwa pihak yang dihutanginya sudah berkurang satu?

Apapun yang terjadi, aku melihatnya sebagai suatu keterlambatan. Bagaimanapun ia selama ini bisa dengan ringannya menganggap remeh hutangnya kepada almarhum, ia kini memanggul dosa yang jauh lebih berat. Aku merasakan iba yang mendalam terhadap keluarga yang ditinggalkan almarhum, dan aku sangat kehilangan sahabatku ini, namun aku juga mendapatkan kepuasan tersendiri jika melihat apa yang harus ditanggung teman kecilku dengan kepergian almarhum.

Doaku untuk sahabatku Chandra; Semoga hutang teman kecilku yang tidak pernah terbayar selama hidupmu bisa ikut melancarkan perjalananmu ke kebahagiaan hidup di sisiNya. Aamiiin...