Sebagai manusia normal, selayaknya aku pernah berandai-andai hidup dalam kecukupan bahkan lebih dari sekedar kecukupan. Tentunya aku bicara materi.
Dulu ketika kecil aku pernah menimbun di benakku pelbagai rencana yang akan aku lakukan bila aku kaya raya bak milyuner. Mulai dari memiliki rumah yang cukup mewah hingga isinya yang up-to-date termasuk isi garasinya. Seiring dengan berjalannya waktu, keinginan itu makin terkurangi dalam arti lebih sederhana karena aku mulai menyadari apa saja yang benar-benar aku butuhkan dalam hidup. Kemudian setelah aku mulai bekerja dan paham atas bagaimana sulitnya mendapatkan uang, aku benar-benar terpojok untuk meminimaliskan pengandaianku.
Perjuangan untuk hidup yang telah aku jalani sekian lama ini telah membukakan mataku lebar-lebar. Apalagi dengan menyaksikan sendiri besarnya pengaruh dari harta pada orang-orang di sekelilingku. Ada yang memang berhasil mengendalikan jalan hidupnya pada tempatnya namun jumlahnya hanya segelintir dibandingkan dengan mereka yang kemudian terpuruk. Tidak harus jatuh miskin harta, tapi lebih kepada hilangnya sifat "kemuliaannya". Dengan harta yang berlimpah, mereka melakukan hal-hal buruk yang aku yakin tidak akan mereka lakukan jika kondisi finansial mereka begitu mudah tercukupi.
Kebahagaiaan yang aku incar kini adalah kebahagiaan moril yang mampu memberikan kenyamanan di hati. Seperti yang mungkin dirasakan mereka yang aku lihat tiap pagi tengah duduk-duduk di depan gang tempat tinggal mereka, mengobrol dengan sesama, menikmati kopi atau sarapan sederhananya sambil memperhatikan anak-anak atau adik-adik mereka yang tengah bermain di sekitarnya. Kebahagiaan yang tidak harus berpondasikan materi, tapi cukup dengan ketulusan cinta pada Yang Maha Kuasa, yang juga bisa kurasakan justru ketika aku bisa memberikan bantuan materi kepada yang membutuhkannya.
Cukup sudah aku menyaksikan bagaimana materi merubah total karakter kerabat dan teman-temanku. Kemampuan mereka begitu mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan justru membuatku memilih kesederhanaan dalam berandai-andai. Aku ingin terbangun tiap pagi dengan pikirian yang tenang dan jiwa yang bersih, bukan yang telah dicemari keserakahan duniawi. Harta yang aku butuhkan hanya ketenangan hati dan akal dalam menjalani segala aktivitas harianku, bukan sesuatu yang diincar orang lain untuk dirampasnya dariku. Aku ingin hidup dalam kesederhanaan yang menyajikan tiap pagi di hadapanku udara kebebasan dari segala masalah, hembusan angin segar sepanjang hari dan malam tenang yang berujung nyanyian cinta dan kasih sayang.
Terdengarnya memang sederhana, namun aku sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengira-ngira kapan hal itu semua akan terjadi....
Thursday, June 20, 2013
Tuesday, June 18, 2013
Di Balik Kemerdekaan
Rupanya meskipun tidak selama masa pendudukan bangsa Kesatu, bahkan bila dibandingkannya sangat bisa terbilang jauh lebih pendek, namun masa pendudukan tentara Kedua dianggap telah meninggalkan luka yang begitu dalam bagi para pejuang kita.
Sekali lagi, hari ini aku mendengarkan penuturan seorang mantan pejuang yang mengisyaratkan betapa sangat besar harapannya untuk melihat kemerdekaan yang telah dicapai selama ini benar-benar memberikan manfaat baginya. Pagi ini beliau memang tidak mengisahkan tentang apapun yang telah terjadi selama masa penjajahan itu, namun beliau berpesan agar keutuhan bangsa ini dapat dipelihara sebaik mungkin sehingga tidak terjadi lagi masa-masa kelam yang dulu pernah dilaluinya.
Kemarin, saat sembilan pangti itu kembali berkumpul dalam suasana yang hangat di ibukota, mereka sempat bernostalgia dengan pelbagai cerita ringan di masa perjuangan mereka. Entah karena dirasa tidak tepat momennya atau memang tidak ingin menguak luka lama, tidak seorangpun menyinggung tentang pengalaman pahitnya di penjajahan tentara Kedua itu. Namun mendengarkan cerita-cerita mereka sambil mengingat kondisi mereka saat ini telah membuatku iba. Nyaringnya derai tawa mereka tidak mungkin menyamarkan beban moril yang masih mereka panggul di usia tuanya.
Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu di tempat-tempat yang terpisah, sebagian dari mereka sempat silih berganti menceritakan betapa bertolak belakangnya kondisi alam merdeka dari yang mereka harapkan. Hasil dari perjuangan gigih mereka dulu hingga kini belum juga mereka cicipi. Gambaran atas hidup sejahtera di alam merdeka memang pernah ada, namun berangsur sirna seiring dengan memburuknya kondisi kesehatan presiden yang dahulu memimpin perjuangan mereka hingga akhirnya dijemput ajal. Sejak itu pulalah beban hidup mereka kian memberat dan perlahan menumbangkan kecemerlangan mereka satu demi satu. Apa yang dahulu mereka perangi harus mereka hadapi lagi di masa kemerdekaan di bawah kendali penguasa yang hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan kroni-kroninya.
Sudah saatnya impian mereka yang sempat memudar segera diwujudkan dan perjuangan mereka dibayar dengan penghargaan yang setinggi-tingginya. Mungkin kobaran api semangat perjuangan yang ada dalam diriku tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan yang mereka miliki dulu, namun aku berkiat meneruskan apa yang dahulu diperjuangkan oleh mereka dan presidennya. Perjuanganku bukanlah untuk aku melainkan untuk kemenangan mereka, presidennya dan para pejuang lain yang telah mendahuli mereka. Biarlah Tuhan menjadi satu-satunya saksi atas ketulusanku dalam memperjuangkan "amanah" dan membela hak-hak yang menjadi milik mereka. Aamiin.
Sekali lagi, hari ini aku mendengarkan penuturan seorang mantan pejuang yang mengisyaratkan betapa sangat besar harapannya untuk melihat kemerdekaan yang telah dicapai selama ini benar-benar memberikan manfaat baginya. Pagi ini beliau memang tidak mengisahkan tentang apapun yang telah terjadi selama masa penjajahan itu, namun beliau berpesan agar keutuhan bangsa ini dapat dipelihara sebaik mungkin sehingga tidak terjadi lagi masa-masa kelam yang dulu pernah dilaluinya.
Kemarin, saat sembilan pangti itu kembali berkumpul dalam suasana yang hangat di ibukota, mereka sempat bernostalgia dengan pelbagai cerita ringan di masa perjuangan mereka. Entah karena dirasa tidak tepat momennya atau memang tidak ingin menguak luka lama, tidak seorangpun menyinggung tentang pengalaman pahitnya di penjajahan tentara Kedua itu. Namun mendengarkan cerita-cerita mereka sambil mengingat kondisi mereka saat ini telah membuatku iba. Nyaringnya derai tawa mereka tidak mungkin menyamarkan beban moril yang masih mereka panggul di usia tuanya.
Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu di tempat-tempat yang terpisah, sebagian dari mereka sempat silih berganti menceritakan betapa bertolak belakangnya kondisi alam merdeka dari yang mereka harapkan. Hasil dari perjuangan gigih mereka dulu hingga kini belum juga mereka cicipi. Gambaran atas hidup sejahtera di alam merdeka memang pernah ada, namun berangsur sirna seiring dengan memburuknya kondisi kesehatan presiden yang dahulu memimpin perjuangan mereka hingga akhirnya dijemput ajal. Sejak itu pulalah beban hidup mereka kian memberat dan perlahan menumbangkan kecemerlangan mereka satu demi satu. Apa yang dahulu mereka perangi harus mereka hadapi lagi di masa kemerdekaan di bawah kendali penguasa yang hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan kroni-kroninya.
Sudah saatnya impian mereka yang sempat memudar segera diwujudkan dan perjuangan mereka dibayar dengan penghargaan yang setinggi-tingginya. Mungkin kobaran api semangat perjuangan yang ada dalam diriku tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan yang mereka miliki dulu, namun aku berkiat meneruskan apa yang dahulu diperjuangkan oleh mereka dan presidennya. Perjuanganku bukanlah untuk aku melainkan untuk kemenangan mereka, presidennya dan para pejuang lain yang telah mendahuli mereka. Biarlah Tuhan menjadi satu-satunya saksi atas ketulusanku dalam memperjuangkan "amanah" dan membela hak-hak yang menjadi milik mereka. Aamiin.
Thursday, June 13, 2013
Menjadi Yang Benar dan Baik
Ada orang yang dibukakan mata hatinya pada saat tengah menjalankan ibadah naik haji. Kemudian ia kembali dan merendahkan dirinya sambil mengingatkan orang lain untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tapi ada juga yang kemudian kembali ke tanah air untuk memaksa orang lain untuk ikut menerapkan ilmu yang ia ajarkan dengan modal status haji yang disandang di depan namanya. Bahkan ada yang menyalahgunakan status dirinya itu untuk menghalalkan segala cara hanya sekedar untuk memuaskan nafsu duniawinyai.
Lalu di sisi lain, ada orang yang merasa terpanggil untuk menjadi manusia yang baik setelah mengalami jalan hidup yang sulit dan masa-masa yang kelam, seperti misalnya menjadi pecandu narkoba, preman atau mendekam di penjara. Bukanlah hal yang mustahil bila mereka kemudian justru menjadi pendakwah favorit masyarakat. Tapi ada juga yang setelah terpuruk dan bisa bangkit lagi, kemudian justru kembali beraksi melakukan tindakan yang bahkan lebih buruk. Seolah ia tidak mendapatkan pembelajaran yang benar apapun dari keterpurukannya.
Kalau seseorang sudah diberi ujian yang begitu berat sehingga ia pernah harus merasakan kehidupan sebagai seorang tahanan penjara, atau bahkan diberi kesempatan yang begitu berharga sehingga ia sah dipanggil sebagai seorang haji, namun ia tidak juga menetapkan diri di jalan yang benar, harus bagaimana lagi mata hatinya dibuka? Mungkinkah ia perlu mengalami keduanya sebelum ia akhirnya bisa menjadi orang yang benar, yang baik dan yang benar-benar baik? Wallahu a'lam bishawab....
Wednesday, May 15, 2013
Ants
They maybe small but they are among the toughest living creatures on earth
They maybe easily crushed but they aren't afraid of dying and they don't make time to grief over the ones that get crushed.
They never stop trying to look for other ways when something stands in their ways.
They don't waste their time socializing to get others' attentions because they're always busy fighting for their lives.
When they learn something new, they don't bother encouraging others to believe what they know.
Instead, they execute whatever they feel is right and others wouldn't hesitate to follow their lead.
We may consider them greedy but that's how they get their jobs done and survived
They wouldn't think twice to take chances and advantages on anything.
Stop your worrying, quit your preaching.
Tell people what you know no longer.
Be like ants and you will do just fine.
They maybe easily crushed but they aren't afraid of dying and they don't make time to grief over the ones that get crushed.
They never stop trying to look for other ways when something stands in their ways.
They don't waste their time socializing to get others' attentions because they're always busy fighting for their lives.
When they learn something new, they don't bother encouraging others to believe what they know.
Instead, they execute whatever they feel is right and others wouldn't hesitate to follow their lead.
We may consider them greedy but that's how they get their jobs done and survived
They wouldn't think twice to take chances and advantages on anything.
Stop your worrying, quit your preaching.
Tell people what you know no longer.
Be like ants and you will do just fine.
Thursday, May 9, 2013
Walk Away
Aku ini tipe orang yang pemikirannya cenderung simpel. Bukan tipe yang suka mencari tau lebih banyak sampai menggali-gali ilmu yang sudah aku dapatkan. Konsepnya sih sederhana saja...menerima apa yang menurut aku cocok buatku, seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa orang akan mudah menerima sesuatu hanya yang membuatnya merasa nyaman. Justru ilmu yang lebih dalam sering membuatku kaget dan sulit menerimanya. Kerumitan suatu ilmu seringkali akhirnya bertabrakan dengan kerumitan ilmu yang lain.
Aku tau ada sangat banyak orang bertipe yang 180° berbeda di sekitarku. Dengan pelbagai alasan, mereka lebih suka "mendalami" ilmu yang mereka miliki. Seolah tidak puas dengan versi simpel-nya, mereka berlomba-lomba mencari arti dan makna di balik teori yang mereka dapat. Dengan bedah buku lah, browsing internet lah, diskusi (kalau perlu debat) dengan orang lain lah, dan lain sebagainya, mereka mencari pembenaran (atau penyalahan) dari teori-teori itu sebelum kemudian baru diyakininya. Dimaklumi? Sangat! Karena aku sendiri dulu juga pernah menjadi seorang pendebat handal yang sering tidak peduli dengan keabsahan tentangan yang aku terima selama aku merasa aku benar.
Ironisnya...mereka-mereka ini juga mencoba mencari kebenaran (baca: pembenaran) itu dengan menanyakan pendapatku. Ya...aku! Yang mereka tau punya sifat cari gampangnya saja.
Okelah mereka boleh bertanya dan mendengar apa yang menjadi pemikiranku atas subjek yang mereka lontarkan. Kalau mereka hanya tidak setuju dan kemudian memancingku untuk berdebat, aku bisa terima itu dengan cara men"terserah"kan kemauan mereka sambil mundur teratur menarik diri dari pembahasan itu. Tapi siapa yang tidak kesal kalau ternyata pernyataan pendapatku itu dianggap sebagai suatu usaha pengerdilan pendapat mereka? Seolah dianggap sebagai sebagai usaha pendoktrinan secara paksa, aku dicap sebagai suatu pelecehan atau penghinaan terhadap sifat "menggali" mereka....beuh!
Aku memang selektif dalam menentukan diskusi mana yang layak aku ikuti. Yang jelas, aku pasti melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam debat. Hanya saja aku kecewa dengan diskusi damai yang kemudian dijadikan ajang debat. Yang lebih menyakitkan lagi adalah diskusi yang berbuntut penghakiman atas sifatku atau bahkan fitnah keji yang didasari oleh ketidak setujuan mereka pada pendapatku. Kalau memang mereka hanya ingin dengar hal-hal yang mendukung pemikiran mereka, ya jangan tanya pendapatku yang biasanya bertentangan.
Aku tidak pernah menganggap orang yang doyan menggali ilmu itu konyol bahkan bodoh. Aku hanya menganggap penggalian ilmu itu bukan sifatku. Mereka mau menggali ilmu sedalam samudra ya silahkan. Mau mendalami ilmu sampai ke negeri Cina ya silahkan. Mau makan bacaan sampai kenyangpun ya silahkan saja. Tapi jangan coba cari tambahan ilmu dari aku yang ilmunya cetek dan aku biarkan cetek. Apalagi kalau dibumbui dengan penghakiman dan/atau fitnah yang (mungkin) bisa membuat mereka merasa lebih pintar atau bijaksana. Apa yang menjadi tanggung jawabku adalah hidupku....bukan hidup mereka. Untuk apa pula aku harus repot-repot meyakinkan bahkan memaksa mereka menjalani hidupnya dengan ilmu dan teori yang aku percaya? Toch segala dampak dan manfaat dari apa yang mereka lakukan mereka sendiri yang merasakan.
Kalau tidak suka dengan pendapatku, simply just walk away.
If I can do it, why can't they?
Aku tau ada sangat banyak orang bertipe yang 180° berbeda di sekitarku. Dengan pelbagai alasan, mereka lebih suka "mendalami" ilmu yang mereka miliki. Seolah tidak puas dengan versi simpel-nya, mereka berlomba-lomba mencari arti dan makna di balik teori yang mereka dapat. Dengan bedah buku lah, browsing internet lah, diskusi (kalau perlu debat) dengan orang lain lah, dan lain sebagainya, mereka mencari pembenaran (atau penyalahan) dari teori-teori itu sebelum kemudian baru diyakininya. Dimaklumi? Sangat! Karena aku sendiri dulu juga pernah menjadi seorang pendebat handal yang sering tidak peduli dengan keabsahan tentangan yang aku terima selama aku merasa aku benar.
Ironisnya...mereka-mereka ini juga mencoba mencari kebenaran (baca: pembenaran) itu dengan menanyakan pendapatku. Ya...aku! Yang mereka tau punya sifat cari gampangnya saja.
Okelah mereka boleh bertanya dan mendengar apa yang menjadi pemikiranku atas subjek yang mereka lontarkan. Kalau mereka hanya tidak setuju dan kemudian memancingku untuk berdebat, aku bisa terima itu dengan cara men"terserah"kan kemauan mereka sambil mundur teratur menarik diri dari pembahasan itu. Tapi siapa yang tidak kesal kalau ternyata pernyataan pendapatku itu dianggap sebagai suatu usaha pengerdilan pendapat mereka? Seolah dianggap sebagai sebagai usaha pendoktrinan secara paksa, aku dicap sebagai suatu pelecehan atau penghinaan terhadap sifat "menggali" mereka....beuh!
Aku memang selektif dalam menentukan diskusi mana yang layak aku ikuti. Yang jelas, aku pasti melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam debat. Hanya saja aku kecewa dengan diskusi damai yang kemudian dijadikan ajang debat. Yang lebih menyakitkan lagi adalah diskusi yang berbuntut penghakiman atas sifatku atau bahkan fitnah keji yang didasari oleh ketidak setujuan mereka pada pendapatku. Kalau memang mereka hanya ingin dengar hal-hal yang mendukung pemikiran mereka, ya jangan tanya pendapatku yang biasanya bertentangan.
Aku tidak pernah menganggap orang yang doyan menggali ilmu itu konyol bahkan bodoh. Aku hanya menganggap penggalian ilmu itu bukan sifatku. Mereka mau menggali ilmu sedalam samudra ya silahkan. Mau mendalami ilmu sampai ke negeri Cina ya silahkan. Mau makan bacaan sampai kenyangpun ya silahkan saja. Tapi jangan coba cari tambahan ilmu dari aku yang ilmunya cetek dan aku biarkan cetek. Apalagi kalau dibumbui dengan penghakiman dan/atau fitnah yang (mungkin) bisa membuat mereka merasa lebih pintar atau bijaksana. Apa yang menjadi tanggung jawabku adalah hidupku....bukan hidup mereka. Untuk apa pula aku harus repot-repot meyakinkan bahkan memaksa mereka menjalani hidupnya dengan ilmu dan teori yang aku percaya? Toch segala dampak dan manfaat dari apa yang mereka lakukan mereka sendiri yang merasakan.
Kalau tidak suka dengan pendapatku, simply just walk away.
If I can do it, why can't they?
Monday, April 8, 2013
Dialog Bapak dan Anak
Bapak:
Ada dua hal penting yang perlu kau ingat dalam menjalani hidupmu. Pertama, lakukan apa yang kau anggap baik untuk hidupmu selama itu tidak mencelakai orang lain. Meskipun orang lain menganggap sebaliknya. Jangan pernah mendahulukan pendapat orang lain ketika kau benar-benar yakin atas apa yang kau yakini.
Kedua, Jangan mencoba mengharapkan orang lain melakukan apa yang kau kehendaki bila mereka merasa tidak nyaman untuk melakukannya, meskipun kau yakin hal itu adalah sesuatu yang baik bagi mereka. Biarkan mereka menentukan sendiri pilihannya seperti halnya kau bebas menentukan pilihanmu.
Anak:
Tp bagaimana jika ternyata pilihanku salah sedangkan aku sebelumnya telah diberi kesempatan memilih yang benar?
Bapak:
Ya akibatnya hanya kau yang menanggungnya. Seperti juga akibat salah pilih dari mereka yang telah kau sodorkan pilihan yang benar menurutmu tapi tidak memilihnya.
Anak:
Lalu aku hanya bisa menyesal?
Bapak:
Jangan menyesal karena kau telah menjatuhkan pilihan pada apa yang kau anggap baik untukmu meskipun ternyata kau salah. Kau boleh menganggap itu suatu pelajaran berharga untukmu sehingga di lain waktu kau dapat memilih yang lebih benar. Disitulah kau harusnya belajar tentang dirimu dan hidupmu sendiri. Dengan cara itulah kau dapat mengenali dirimu lebih dalam dan tau apa yang lebih baik untukmu.
Anak:
Lalu, jika aku tau ada orang yang akan mengambil keputusan yang tidak baik untuknya namun aku hanya berdiam diri, bukankah itu suatu hal yang bisa dikatakan membiarkan orang terjerumus ke dalam lubang? Mungkin saja orang itu tidak tau keberadaan lubang itu dan butuh orang lain untuk memberitaunya. Bukankah kita wajib untuk menolong sesama?
Bapak:
Kau boleh mengingatkannya dan itu menjadi kewajibanmu terutama jika kau peduli dengannya. Namun hanya itu yang butuh kau lakukan. Selebihnya, semua menjadi keputusannya.
Anak:
Jika suatu ketika, aku melihat orang tidak beribadah seperti yang seharusnya ia lakukan. Lalu aku ingatkan dia untuk beribadah tapi pengingatan itu tidak ia indahkan, apakah aku tidak seharusnya terus mengingatkannya?
Bapak:
Bukan tugasmu untuk mengembalikannya ke jalan yang benar. Ketika kau mengingatkannya, kau telah melaksanakan tugasmu. Apa yang kemudian ia lakukan dengan segala akibatnya menjadi tanggung jawabnya.
Ketika kau tau seseorang telah melanggar hukum negara, selama kau bukanlah abdi negara yang berwenang, kau tidak pula berwenang untuk menghakimi dan menghukumnya. Boleh saja kau laporkan tindakan itu dan biarkan pihak yang berwenang yang berhak menentukan apa yang perlu dilakukan atasnya. Begitu pula dengan orang yang melanggar hukum agama. Dan hanya kepada Tuhanlah kau boleh melapor
Anak:
Lalu siapa yang boleh menghakimi mereka yang menyalahi hukum agama?
Bapak:
Tidak satupun manusia yang punya hak menghakimi dan menghukum tindak kriminal dalam beragama, karena tidak seorang pun mendapat hak seperti itu dari Tuhan. Segala bentuk tindakan dalam beragama urusannya langsung dengan Tuhan. Manusia terlalu kerdil untuk memegang hak untuk menghukum manusia lainnya yang melanggar hukum agama.
Anak:
Jadi jika aku dianggap menyalahi agama sedangkan aku sendiri yakin aku benar, aku tidak layak dihukum oleh manusia?
Bapak:
Setiap insan manusia punya hak untuk berpendapat. Seperti halnya kau punya hak berpendapat melakukan hal yang benar dalam beragama, orang lain juga punya hak berpendapat bahwa apa yang kau lakukan tidak benar. Tapi seberapa besar ketidak benaran tindakanmu bagi mereka, mereka tidak berhak menghukummu. Pada saat Tuhan menghakimimu, tidak satupun orang yang berhak menuntutmu dan hanya kaulah yang berhak bertanggung jawab dan membela dirimu sendiri.
Anak:
Kalau sampai aku dihukum oleh manusia dalam hal beragama, bagaimana?
Bapak:
Maka akibat dari tindakan mereka itu harus mereka tanggung sendiri di hadapan Tuhan nantinya. Sedangkan jika saat itu kau merasa dirugikan sementara kau tidak melakukan hal yang salah di mata Tuhan, niscaya Tuhan akan mengganti kerugianmu kelak. Kesengsaraan yang kau dapati atas ulah manusia pada dirimu tidaklah seberapa dibanding kemuliaan yang kelak akan kau dapatkan dariNya.
Anak:
Jadi, apakah artinya kita hidup di dunia ini hanya untuk mengurus diri sendiri? Bukankah itu egois?
Bapak:
Bapak:
Hidup di tengah masyarakat sewajarnya mengajarkanmu untuk peduli terhadap sesama. Namun, tidak satupun mahluk ciptaan Tuhan yang sebenarnya punya cukup waktu
untuk mengurus hidup orang lain lebih banyak dari waktu untuk mengurus
dirinya sendiri. Apalah manfaatnya mencoba membuat hidup orang lain menjadi lebih baik jika hidupmu sendiri belum baik?
Anak:
Misalnya aku melihat orang melakukan ibadah dengan cara yang salah, apakah aku tidak perlu mencoba memperbaikinya?
Bapak:
Bagaimana kau bisa memperbaiki apa yang kau anggap salah namun belum tentu salah? Keyakinanmu atas kebenaran yang kau miliki tidak dapat dibuktikan siapapun. Begitu pula jika orang lain mencoba untuk memperbaiki apa yang kau anggap sudah baik atau membetulkan apa yang kau anggap sudah benar. Semua yang benar dan salah dalam agama akan kau ketahui nanti di hadapan Tuhan.
Anak:
Bagaimana jika aku menganggap orang lain salah karena aku merasa didukung oleh ajaran agama yang aku peroleh dari kitab suci?
Bagaimana jika aku menganggap orang lain salah karena aku merasa didukung oleh ajaran agama yang aku peroleh dari kitab suci?
Bapak:
Kau dan setiap orang lainnya berhak mengartikan dengan caranya sendiri apa yang tertulis dalam kitab suci. Apa yang kau simpulkan belum tentu sama dengan kesimpulan orang lain. Makna yang kau dapatkan selayaknya kau jadikan pedoman hidupmu, bukan hidup orang lain. Tidaklah bermanfaat bila kau mencoba menjadikannya bahan perdebatan dengan maksud memaksakan orang lain melakukan apa yang kau lakukan.
Anak:
Jadi aku lebih baik diam?
Bapak:
Apapun ilmu yang kau miliki, pastikan bermanfaat untuk kebaikan hidupmu sendiri, dan biarkan ilmu yang orang lain miliki bermanfaat untuk kebaikan hidupnya. Jika itu berarti kau harus berdiam, maka berdiamlah kau dalam kebahagiaan hidupmu.
Wednesday, April 3, 2013
Masa Depan Anak
Awalnya, tekadku untuk banting tulang, melacur dalam hal bekerja disana sini, utamanya adalah untuk membiayai pendidikan sekolah anak. Aku sudah beberapa kali merasakan bagaimana dana simpanan yang terkumpul dengan cepat bisa tersedot hingga tipis saat anak-anakku memulai sekolahnya. Uang sekolah yang dikenakan mungkin tidaklah seberapa, namun uang pendaftaran sebagai murid baru bukan hal yang murah. Apalagi ada begitu banyak buku yang harus dibeli setiap tahun ajaran baru. Ada juga pungutan untuk ini dan itu yang tidak sedikit selama tahun ajaran berjalan. Dari pengadaan perangkat komputer, yang hingga kini masih saja terbilang sedikit, sampai sumbangan pembangunan musholla yang nilainya ditentukan oleh pihak sekolah.
Di saat pihak pemerintah berupaya untuk "memperbaiki" kurikulum pendidikan dengan salah satu cara ramai-ramai melakukan kunjungan resmi ke beberapa negara untuk "studi banding" menggunakan uang kas negara, masih banyak terlihat pemandangan yang mengenaskan akan nasib anak-anak di berbagai daerah terpencil di negeri ini dalam menjalani prosesi belajar di sekolahnya. Bagaimana sulit dan jauhnya perjalanan yang harus mereka tempuh ke dan dari sekolah, rapuhnya gedung-gedung sekolah mereka, ruang kelas yang harus dibagi karena keterbatasan yang ada, guru yang harus mengajar lebih dari satu kelas di waktu yang sama atau bangku dan meja yang jumlahnya tidak sebanyak muridnya.
Sementara itu, ketika masih banyak anak tidak mampu yang belum dapat kesempatan untuk mengecap pendidikan di sekolah, sejumlah pelajar justru lebih suka membolos dan menghabiskan waktu sekolahnya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat di tempat-tempat lain di luar rumah. Mereka lebih memilih ikut tawuran ketimbang menghindarinya. Beberapa kasus sex bebas, pelecehan oleh guru terhadap muridnya dan penggunaan narkoba pun masih sering terjadi, seolah akhlak kini sudah menjadi hal yang langka di lingkungan sekolah.
Pendidikan sekolah itu tidak murah. Kita bisa saja rela bekerja keras membanting tulang mencari nafkah demi pendidikan sekolah anak, tapi biaya yang kita keluarkan belum tentu setaraf dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Apakah yang mereka pelajari di sekolah akan berguna bagi masa depan mereka? Apakah mereka masih perlu sekolah tinggi-tinggi di saat peluang kerja mereka nanti kian menipis? Akan mubazirlah semua dana, usaha dan waktu yang telah dikeluarkan selama ini jika nantinya yg mereka temukan hanyalah pengangguran atau pekerjaan yang tidak sepadan dengan ilmu yang mereka kuasai.
Aku percaya bahwa lebih banyak ilmu yang bisa didapatkan dari pendidikan non-formal. Artinya, kita seharusnya bisa mendapatkan banyak ilmu yang lebih bermanfaat di luar sekolah. Seorang teman pernah berkata bahwa anak-anaknya hanya perlu disekolahkan untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. Dalam hal ini, menghitung tidak termasuk penggunaan ilmu matematika tingkat tinggi. Hanya cukup untuk tidak dikelabui orang ketika mereka sudah bekerja nantinya. Sisanya, bisa mereka dapatkan dari kehidupan di luar sekolah. Aku setuju dengan pendapat ini, mengingat di negeri ini urusan pekerjaan tidak lagi menuntut orang untuk berilmu tinggi.
Aku kemudian bertanya pada diri sendiri, masih perlukah aku habiskan dana yang hingga kini terus menerus aku dapatkan dengan susah payah untuk membiayai sekolah anak-anakku? Kalau aku lihat dari pengalaman sejumlah teman yang sukses dalam bisnisnya, kebanyakan dari mereka tidak memulainya dari nol. Mereka mendapat hibahan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Kesuksesan orang tua mereka dalam berbisnis kemudian tinggal dilanjutkan oleh mereka yang tentunya didukung kemapanan dari orang tuanya di pelbagai hal. Mereka hanya perlu belajar tentang bisnis yang dilakoni orang tuanya sebelum akhirnya mereka dianggap mampu meneruskan bisnis tersebut.
Pertanyaan berikutnya, kalau memang aku kemudian menerapkan konsep di atas, apakah bisnis apapun yang aku hibahkan nanti akan punya peluang yang sama untuk berkembang? Apakah anak-anakku akan mampu membangkitkan minatnya dalam menggeluti bisnis yang diharapkan dapat menafkahi hidup mereka? Aku sangat prihatin dengan beban yang kian memberat yang harus mereka tanggung selama mereka sekolah. Beratnya beban itu disebabkan oleh banyaknya ilmu yang belum tentu mereka butuhkan di kemudian hari. Jika aku berniat untuk sesegera mungkin membebaskan mereka dari keharusan belajar akan ilmu yang tidak mereka minati, tentunya bukanlah hal yang tepat untuk kemudian memaksa mereka menaruh minat pada apa yang aku minati.
Lalu aku mencoba mengamati apa yang mereka sukai dan minati. Aku mencoba mengenali sejak dini apa yang mungkin akan selalu memberi ketertarikan pada mereka. Tentunya akan lebih efisien jika mereka terjun ke dalam usaha yang berkaitan dengan apa yang mereka sukai. Sehingga yang aku butuhkan adalah mempelajari apa yang mereka minati dan menjalani usaha itu dari sekarang untuk di kemudian hari dilanjutkan oleh mereka. Bisa saja hal itu dianggap sebagai tindakan yang memanjakan anak dimana anak menjadi tidak perlu belajar bersusah payah nantinya, namun aku tidak mungkin pernah bisa menebak apa saja yang harus mereka hadapi kelak. Jadi, aku perlu membukakan jalan untuk mereka dan mempersiapkan masa depan yang baik untuk anak-anakku.
Jika kerja keras merupakan syarat yang harus dipenuhi, biarlah itu menjadi bagian penting dari tugasku sebagai orang tua.
Di saat pihak pemerintah berupaya untuk "memperbaiki" kurikulum pendidikan dengan salah satu cara ramai-ramai melakukan kunjungan resmi ke beberapa negara untuk "studi banding" menggunakan uang kas negara, masih banyak terlihat pemandangan yang mengenaskan akan nasib anak-anak di berbagai daerah terpencil di negeri ini dalam menjalani prosesi belajar di sekolahnya. Bagaimana sulit dan jauhnya perjalanan yang harus mereka tempuh ke dan dari sekolah, rapuhnya gedung-gedung sekolah mereka, ruang kelas yang harus dibagi karena keterbatasan yang ada, guru yang harus mengajar lebih dari satu kelas di waktu yang sama atau bangku dan meja yang jumlahnya tidak sebanyak muridnya.
Sementara itu, ketika masih banyak anak tidak mampu yang belum dapat kesempatan untuk mengecap pendidikan di sekolah, sejumlah pelajar justru lebih suka membolos dan menghabiskan waktu sekolahnya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat di tempat-tempat lain di luar rumah. Mereka lebih memilih ikut tawuran ketimbang menghindarinya. Beberapa kasus sex bebas, pelecehan oleh guru terhadap muridnya dan penggunaan narkoba pun masih sering terjadi, seolah akhlak kini sudah menjadi hal yang langka di lingkungan sekolah.
Pendidikan sekolah itu tidak murah. Kita bisa saja rela bekerja keras membanting tulang mencari nafkah demi pendidikan sekolah anak, tapi biaya yang kita keluarkan belum tentu setaraf dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Apakah yang mereka pelajari di sekolah akan berguna bagi masa depan mereka? Apakah mereka masih perlu sekolah tinggi-tinggi di saat peluang kerja mereka nanti kian menipis? Akan mubazirlah semua dana, usaha dan waktu yang telah dikeluarkan selama ini jika nantinya yg mereka temukan hanyalah pengangguran atau pekerjaan yang tidak sepadan dengan ilmu yang mereka kuasai.
Aku percaya bahwa lebih banyak ilmu yang bisa didapatkan dari pendidikan non-formal. Artinya, kita seharusnya bisa mendapatkan banyak ilmu yang lebih bermanfaat di luar sekolah. Seorang teman pernah berkata bahwa anak-anaknya hanya perlu disekolahkan untuk belajar membaca, menulis dan menghitung. Dalam hal ini, menghitung tidak termasuk penggunaan ilmu matematika tingkat tinggi. Hanya cukup untuk tidak dikelabui orang ketika mereka sudah bekerja nantinya. Sisanya, bisa mereka dapatkan dari kehidupan di luar sekolah. Aku setuju dengan pendapat ini, mengingat di negeri ini urusan pekerjaan tidak lagi menuntut orang untuk berilmu tinggi.
Aku kemudian bertanya pada diri sendiri, masih perlukah aku habiskan dana yang hingga kini terus menerus aku dapatkan dengan susah payah untuk membiayai sekolah anak-anakku? Kalau aku lihat dari pengalaman sejumlah teman yang sukses dalam bisnisnya, kebanyakan dari mereka tidak memulainya dari nol. Mereka mendapat hibahan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Kesuksesan orang tua mereka dalam berbisnis kemudian tinggal dilanjutkan oleh mereka yang tentunya didukung kemapanan dari orang tuanya di pelbagai hal. Mereka hanya perlu belajar tentang bisnis yang dilakoni orang tuanya sebelum akhirnya mereka dianggap mampu meneruskan bisnis tersebut.
Pertanyaan berikutnya, kalau memang aku kemudian menerapkan konsep di atas, apakah bisnis apapun yang aku hibahkan nanti akan punya peluang yang sama untuk berkembang? Apakah anak-anakku akan mampu membangkitkan minatnya dalam menggeluti bisnis yang diharapkan dapat menafkahi hidup mereka? Aku sangat prihatin dengan beban yang kian memberat yang harus mereka tanggung selama mereka sekolah. Beratnya beban itu disebabkan oleh banyaknya ilmu yang belum tentu mereka butuhkan di kemudian hari. Jika aku berniat untuk sesegera mungkin membebaskan mereka dari keharusan belajar akan ilmu yang tidak mereka minati, tentunya bukanlah hal yang tepat untuk kemudian memaksa mereka menaruh minat pada apa yang aku minati.
Lalu aku mencoba mengamati apa yang mereka sukai dan minati. Aku mencoba mengenali sejak dini apa yang mungkin akan selalu memberi ketertarikan pada mereka. Tentunya akan lebih efisien jika mereka terjun ke dalam usaha yang berkaitan dengan apa yang mereka sukai. Sehingga yang aku butuhkan adalah mempelajari apa yang mereka minati dan menjalani usaha itu dari sekarang untuk di kemudian hari dilanjutkan oleh mereka. Bisa saja hal itu dianggap sebagai tindakan yang memanjakan anak dimana anak menjadi tidak perlu belajar bersusah payah nantinya, namun aku tidak mungkin pernah bisa menebak apa saja yang harus mereka hadapi kelak. Jadi, aku perlu membukakan jalan untuk mereka dan mempersiapkan masa depan yang baik untuk anak-anakku.
Jika kerja keras merupakan syarat yang harus dipenuhi, biarlah itu menjadi bagian penting dari tugasku sebagai orang tua.
Subscribe to:
Posts (Atom)





