Monday, November 10, 2014

Bodoh Mungkin, Tapi Yang Penting Benar.

Mungkin memang bukanlah hal yang mudah untuk menjalankan amanah. Pesan seseorang yang kita terima dan lalu kita jadikan sebagai sebuah janji untuk dilaksanakan saja sering begitu mudahnya terbengkalai dengan alasan klasik yang (menurut pendapat banyak orang) mau tidak mau harus diterima: lupa.
Jujur saja, aku bahkan sering menganggap ringan janji yang pernah aku ucapkan bila keadaan yang aku hadapi aku anggap sebagai suatu halangan yang cukup untuk dijadikan alasan.

Namun amanah dari mendiang ayahku yang satu ini tidak seperti hal-hal lain yang pernah aku jadikan sebagai janji untuk siapapun. Meskipun aku tidak pernah secara langsung berjanji akan melanjutkan niat baiknya dalam menyantuni begitu banyak mantan pegawai perusahaan yang pernah dipimpinnya, tapi penyampaian tentang niatnya ini kepadaku sekitar 3 bulan sebelum kepergiannya aku jadikan sebagai sebuah amanah tidak langsung darinya yang layak aku jalankan sebagai ahli warisnya.

Yang mengherankan justru mengapa dalam situasi yang rumit seperti sekarang ini, dimana wadah yang diciptakan oleh ayahku untuk dijadikan kendaraan dalam memperjuangkan niatnya ini praktis mogok dan harus dilepas dengan kompensasi yang jauh di bawah nilainya, ada saja pihak-pihak yang lalu berharap lain tanpa peduli dengan nasib mereka yang pernah diperjuangkan oleh ayahku semasa hidupnya? Parahnya, harapan lain itu justru tercetus demi kepentingan pribadi.

Anggap saja ayahku meninggalkan sebuah mobil mewah yang rencananya dipakai sebagai alat transportasi bagi sejumlah orang. Bahwasanya saat ini, mobil itu mogok sedangkan aku tidak mungkin mampu membayar biaya perbaikan dan pemeliharaan yang mahal itu, aku dengan mudah dapat menjualnya sebagai mobil rusak yang nilainya jauh lebih rendah. Dari hasil penjualan itu, aku lalu membeli sebuah mobil lain yang murah , tidak memiliki fasilitas yang memadai seperti halnya sebuah mobil mewah namun tetap bisa digunakan sebagai alat transportasi.

Pertanyaannya, sementara aku sendiri bukanlah termasuk orang yang hidup berkecukupan, apa iya aku lebih memilih menggunakan hasil penjualan mobil rusak itu untuk mencukupi kebutuhanku ketimbang mewujudkan niat ayahku? Apakah itu hal yang benar untuk dilakukan jika aku beranggapan bahwa ayahku tentu akan senang melihatku hidup berkecukupan? Apakah semua yang aku terima dari ayahku selama hidupnya masih begitu kurang sehingga aku perlu memprioritaskan kepentinganku di atas kepentingan orang lain?
Jawabanku: sama sekali tidak.

Kenyataannya, ada saja yang merasa hal itu layak dilakukan dengan berbagai macam dalih, termasuk demi pemenuhan rukun terakhir Islam. Tak hanya saudara sekandung, namun mereka yang bukan anak ayahku tiba-tiba merasa punya hak mutlak atas kompensasi yang buatku juga menjadi hak para mantan pegawai ayahku, sekecil apapun jumlahnya dan seberapa kecukupanpun hidup mereka. Intinya, aku lebih suka tidak mendapatkan sepeserpun selama niat baik ayahku terpenuhi. Apalagi jika dikemudian hari usahaku untuk mewujudkan niatnya memenuhi kegagalan. Tak terbayangkan bagaimana aku hidup berkecukupan sementara amanah ayahku sama sekali tidak aku bela.

Aku sudah berkali-kali mencoba menerima dengan ikhlas apa yang aku dapatkan (dan yang tidak aku dapatkan). Meski bukan hal yang mudah, aku sering mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa perjuangan yang aku lakukan dalam hidupku ini didasari kepentingan Ukhrawi, dan bukan Duniawi. Dari situ aku belajar berikhlas, tidak hanya untuk kebaikanku saja tapi juga untuk kebaikan para penerusku di akhir zaman. Jika memang apa yang aku perjuangkan dianggap sebagai suatu hal yang bodoh karena tidak membuat hidupku sendiri di dunia ini lebih baik, paling tidak ada niat mulia yang mendasarinya. Dan buatku, kebenaranlah yang lebih penting bagiNya. In shaa Allah...




Wednesday, November 5, 2014

Pelajaran Dari Ayahku, Prabowo dan Jokowi

Setelah bergulat mati-matian (aku tidak berlebihan dalam hal ini) memperjuangkan amanah yang ditinggalkan mendiang ayahku untuk memperbaiki hidup ratusan mantan perusahaan yang pernah dipimpinnya, bahkan dengan menceburkan diri kedalamnya, akhirnya aku harus rela melepaskan hasil jerih payahnya dengan kompensasi yang buatku jauh di bawah harapan. Menyakitkan memang, terlebih ketika perjuanganku dilandasi komitmen yang begitu besar pada amanah beliau yang disampaikannya padaku sekitar 3 bulan sebelum kepergiannya. Namun aku harus ikhlas menerima "kegagalan" yang bukan merupakan suatu "kekalahan" di segala hal. Kalau ada yang mengingatkan aku bahwa "kegagalan adalah sukses yang tertunda", aku akan menyambutnya dengan "in shaa Allah". Kenapa tidak? Toch aku memang belum tau apa yang akan terjadi di depan nanti setelah kegagalan ini aku alami, dan kesuksesan tentunya merupakan pengharapanku.

Sama halnya dengan kegagalan Prabowo dalam memenangkan kursi kepresidenan yang dipertarungkan kemarin. Tapi apakah kegagalannya itu pantas disebut sebagai kekalahan? Dalam perebutan kursi mungkin bisa, tapi mungkin saja suatu hari nanti kegagalan ini justru memberikannya kemenangan dalam hal lain. Prabowo pun telah menunjukkan sikap karismatik dan legowonya dengan memberikan salam hormat pada Jokowi sesaat sebelum Jokowi dilantik sebagai presiden terpilih, sementara Jokowi sendiri dengan kesederhanaannya membungkuk di hadapannya. Sikap-sikap kepemimpinan yang sportif yang layaknya patut ditiru oleh para pendukungnya.

Lalu bagaimana dengan para pendukung Prabowo sendiri?
Aku selalu ingat perkataan kakakku dahulu kala sesaat sebelum pertarungan tinju antara Muhammad Ali dan Joe Frazier dimulai. Ia mengoreksi ucapanku yang mengisyaratkan harapan agar Frazier kalah dengan anjuran agar aku mendoakan Ali menang. Dengan begitu, meskipun artinya sama, namun sebaiknya doa yang terucap dari mulutku merupakankan suatu hal yang bersifat kebaikan dan bukan keburukan.
Selayaknya para pendukung ini mengharapkan posisi Prabowo yang bukan sebagai presiden justru memberikan hal yang positif bagi dirinya. Bukan mengharapkan Jokowi akan menemui banyak masalah dalam menjalankan tugasnya sebagai presiden.

Sejak awal dimulainya pertarungan perebutan kursi kepemimpinan negara ini aku lebih memilih tidak ikutan berkampanye. Aku justru lebih menyimak teman dan kerabat yang kerap berdebat dan saling menyerang demi membela jagoannya, terutama di jejaring sosial. Yang mengherankan, mengapa setelah semua harusnya berakhir saat pemenang pertarungan diumumkan, perdebatan itu masih berlangsung? Tak hanya itu, meskipun ada kalanya perdebatan bisa dihindari, namun ahlak buruk pendukung masing-masing kubu tetap dipertahankan seolah keikhlasan menerima kenyataan itu masih belum ada. Dari mulai cibiran, keluhan atau sarkasme yang terlontarkan dalam postingan atau komen, sampai drastisnya penurunan jumlah orang yang "mau" berpartisipasi di postingan "teman" yang kebetulan berseberangan kubu. Sampai segitunya "sakit hati" yang tersisa rupanya...ckckck...

Sama halnya dengan pendukung Jokowi yang telah mencurahkan segenap dukungan moril dan materilnya, seharusnya siap menerima keadaan apapun yang terbentuk setelah Jokowi menjadi presiden. Kenyataannya, banyak dari mereka yang kini kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan sebelumnya. Rupanya ada konsep "pamrihan" di belakang aksi dukungan yang diberikan selama kampanye sehingga kemenangan yang didapat Jokowi dirasa sebagai sesuatu yang mengandung imbalan "pribadi" untuk pendukungnya, bukan untuk negara secara keseluruhan. Aku melihat betapa meredamnya dukungan mereka pasca pemerintahan baru mulai berjalan. Bahkan tidak sedikit yang justru mulai mengicaukan kekecewaannya karena merasa kebijakan Jokowi tidak sejalan lagi dengan harapannya.

Jika aku sekarang mencoba berusaha melakukan manuver dalam mencari jalan lain yang sekiranya tetap bisa mewujudkan amanah mendiang ayahku, mengapa tidak para pendukung Jokowi dan Prabowo juga melakukan hal yang sama? Aku mencoba membayangkan apa yang kira-kira akan ayahku lakukan di posisiku? Aku yakin beliau tidak akan lalu "mutung" bahkan mencoba menggagalkan siapapun yang akhirnya meneruskan usaha yang telah dirintisnya. Beliau yang memang bukan seorang pendendam, mungkin akan mencoba menggunakan situasi ini untuk mewujudkan impiannya dengan cara yang tidak merugikan siapapun. Begitu pula harusnya yang dilakukan pendukung Prabowo dalam menjalani hari-harinya sebagai warga negara yang dipimpin oleh seorang Jokowi. Karena biar bagaimanapun, siapapun yang jadi presidennya, hidup tenang, makmur dan sentosa di negara ini tentunya adalah hal yang diinginkan semua orang. Bagaimana mungkin hidup tenang jika kita sendiri tidak ikhlas menerima apa yang sudah digariskanNya?

MOVE ON, PEOPLE...

 .

Monday, August 4, 2014

Oh...Bama...


Masih ingat waktu Barrack Obama mulai mendunia saat tampil sebagai petarung perebutan tahta kepresidenan Amerika Serikat? Namanya langsung melejit karena jjika terpilih, ia akan menjadi pemimpin pertama negara adi daya itu yang non-bule.
Namanya makin tersohor dipelosok negeri kita karena ia sempat tinggal dan mengecap pendidikan sekolah dasar didaeran Mentang Dalam selama beberapa tahun. Hal itulah yang lalu mendorong warga Menteng (yang bukan Dalam) termasuk mereka yang statusnya sudah mantan penghuni, untuk mendirikan perkumpulan anak Menteng dan memberi support kepadanya seolah mereka kenal langsung dengannya...beuh!

Itu kejadian di tahun 2008 dan akhirnya ia berhasil mengalahkan rivalnya, John McCain dalam pemilihan presiden tahun itu. Tak seperti para pendahulunya, ia dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan pandai berpidato. Ia juga dikenal sebagai presiden yang luwes serta ramah pada pers sampai-sampai aktivitasnya bermain basket one-on-one dengan mantan pemain Chicago Bull, Michael "Air" Jordan pun dengan mudah diliput wartawan termasuk mereka yang bukan "pilihan" White House. Karismanya tampak begitu hebat hingga ia juga sempat mendapat penghargaan Nobel Perdamaian 2009. Banyak program kerjanya yang dianggap sukses, yang mungkin menjadi alsan terpilihnya lagi sebagai presiden di tahun 2012 setelah mengalahkan Mitt Romney.

Namun apakah pamornya masih semanis dahulu? Apakah warga Amerika sendiri masih mendukungnya di masa kepemimpinannya yang kedua ini? Apakah masyarakat dunia masih memandangnya sebagai pemimpin yang dapat diharapkan untuk memelihara perdamaian dunia? Yang jelas, dari banyak hal yang terjadi di luar maupun di dalam negara Amerika Serikat sendiri, posisi dirinya sudah tidak senyaman dahulu ketika kali pertama ia memegang tampuk kepemimpinannya. Dari masalah ekonomi dalam negeri hingga pertikaian di tanah Gaza yang tak kunjung mereda, keliatannya ia dipaksa segera "menampakkan asli" nya. Belum lagi ancaman dari beruang merah yang keliatannya sudah terbangun dari hibernasi panjangnya. Dan dengan berlikunya jalan yang masih harus dihadapi seorang pemimpin negara Amerika Serikat, senyumannya tidak lagi memberi harapan apalagi kenyamanan pada masyarakat dunia.

Tapi.....

...entah ya, bagi anak-anak Menteng itu.  :p




Tanda-tanda Kematian

Bismillahirrahmanirrahim.

Allah Subhanahu Wata'ala telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematiannya.

Tanda 100 hari menjelang ajal :
Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya,
Bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa.

Tanda 40 hari menjelang kematian :
Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur.
Malaikat maut akan mengambil daun kita dan mulai mengikuti perjalanan kita sepanjang hari.

Tanda 7 hari menjlang ajal :
Akan diuji dengan sakit. Orang sakit biasanya tidak selera makan, tapi dengan sakit ini tiba-tiba menjadi berselera meminta makanan ini dan itu.


Tanda 3 hari menjelang ajal :
Terasa denyutan ditengah dahi. Jika tanda ini dirasa, maka berpuasalah kita, agar perut kita tidak banyak najis dan memudahkan urusan orang yang memandikan kita nanti..

Tanda 1 hari sebelum kematian :
Di waktu Ashar, kita merasa 1 denyutan di ubun-ubun, menandakan kita tidak sempet menemui Ashar besok harinya.
Bagi yang khusnul khotimah akan merasa sejuk di bagian pusar, kemudian ke pinggang lalu ketenggorokan, maka dalam kondisi ini hendaklah kita mengucapkan 2 kalimat syahadat.


Imam Al-Ghazali, mengetahui kematiannya. Beliau menyiapkan sendiri keperluannya, beliau sudah mandi dan wudhu, meng- kafani dirinya, kecuali bagian wajah yang belum ditutup. Beliau kemudian memanggil saudaranya Imam Ahmad untuk menutup wajahnya.

Subhanallah..

Malaikat maut akan menampakkan diri pada orang-orang yang terpilih. Dan semoga kita menjadi hamba yang terpilih dan siap menerima kematian kapanpun dan di manapun kita berada. Dan semoga akhir hidup kita semua Husnul Khatimah..

Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..


Monday, July 21, 2014

Ramadhan 2014

Memang begitu hebatnya Allah mengatur rencanaNya sehingga tak satupun dari kita, ummatNya, yang sanggup campurtangan dalam pengeksekusiannya. Bayangkan saja, bulan suci Ramadhan yang telah puluhan tahun berlangsung begitu tenteram dan damai di negeri kita, kali ini diawali dengan kedengkian, kebencian, cacimaki, hujatan yang dilontarkan begitu saja hanya demi kepentingan politik yang kebanyakan sudah diluar kepentingan pelakunya. Bulan yang harusnya menjadi waktu pelatihan untuk meredam nafsu dan emosi jadi terasa seperti bulan-bulan lainnya. Segala hal buruk yang telah dimulai sebelumnya dan layaknya dihentikan ketika Ramadhan tiba justru tetap berlangsung bagaikan kereta yang kebablasan karena kehilangan remnya dan menyeruduk kesana kemari.

Lucunya, disaat orang seperti aku yang sudah kadung pesimis bahwa tiap hari di bulan Ramadhan ini orang akan selalu mencari pelampiasan berkampanye, Allah punya rencana lain. Sekonyong-konyong Israel kembali kesetanan dan menggempur rakyat Palestina, meluluhlantahkan jalur Gaza yang memakan korban sejumlah anak tak berdosa. Perhatian masyarakat duniapun tertuju kesana, tak terkecuali rakyat kita yang telah sering menunjukkan solidaritasnya sebagai bangsa yang cinta damai dan bermayoritas Muslim. Sebagian besar dari kita mendadak lupa pada PilPres yang saat itu baru saja melewati tahap pemungutan suara. Banyak yang lalu mengabaikan berita tentang PilPres termasuk pembahasan dan perdebatan tentang Quick Count dan lembaga-lembaga surveyer yang melakukannya.

Namun keredaman itu hanya berlangsung dua atau tiga hari hingga kemudian orang telah kembali lagi ke topik PilPres setelah masing-masing kubu kandidat menyatakan akan mengirimkan sumbangan untuk rakyat Palestina. Hufff....bisa saja jika aku kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak, tapi aku jujur mengakui ketelatenan baik tim sukses kedua kubu, media aliansinya dan bahkan pendukung awamnya sekalipun dalam menyikapi Pemilu kali ini sehingga peristiwa apa saja, dimana saja bisa dimanfaatkan sebagai kendaraan kampanyenya. Maka iklim perang demokrasi sementara ini kembali menyelimuti hari-hari diantara kesepuluh hari kedua Ramadhan. Postingan-postingan di media sosial internet yang tadinya sempat didominasi tentang kekejaman bangsa zionist Israel mulai berbagi dengan postingan tentang kekejaman para peserta PilPres dan pendukungnya.

Tapi Allah juga punya rencana lain ketika tepat sebelum memasuki 10 malam terakhir yang sakral dengan Lailatul Qadar nya, dunia digemparkan dengan berita tentang jatuhnya pesawat penumpang Malaysia Airlines, MH-17, hingga menewaskan 283 penumpang dan 15 awak pesawatnya. Yang menyita perhatian adalah bahwa pesawat tersebut ditembak oleh tentara Ukraina setelah diduga merupakan pesawat kepresidenan Rusia milik Valimir Putin. Di sini sendiri, berita itu lebih menarik perhatian karena ada 12 penumpang diantara korban tewas yang merupakan warga negara Indonesia. Dan sekali lagi, ada sebuah kekejaman lain yang melupakan kita untuk melakukan kekejaman dalam berkampanye. Tema khatbah dan tausiyah pun kini lebih terarah pada kemuliaan hidup yang bisa setiap saat terenggut begitu saja oleh kekejaman perang hingga tanpa terasa kita berada hanya sehari saja dari pengumuman hasil pemungutan suara tanggal 9 yang lalu.

Besok adalah hari penentuan pemenang PilPres yang akan diumumkan KPU. Sesekali kita bisa melihat berita tentang persiapan aparat maupun warga dalam menghadapi pengumuman ini dengan segala dampak buruknya yang diwaspadai bisa dan mungkin terjadi.  Sementara di berbagai media sosial telah kembali terlihat postingan-postingan bernada hasutan dan ancaman, proporsi postingan tentang nasib warga Palestina di jalur Gaza dan insiden penembakan MH-17 justru telah membuat suasana Ramadhan lebih kalem. Mungkin saja banyak dari kita yang (akhirnya) lebih siap untuk legowo menerima keputusan dari KPU, namun mungkin juga banyak diantara mereka yang belum siap, memilih untuk lebih prihatin dan peduli pada nilai-nilai kemanusiaan yang direnggut begitu saja di Gaza dan Ukraina sehingga menjadi lebih bijaksana untuk tidak berkampanye lagi.

Dan jika akhirnya, di 7 hari Ramadhan yang tersisa ini, setelah segala keburukan yang telah kita lakukan, kita masih bisa beruntung mendapatkan Lailatul Qadar, ya seperti itulah Allah mengaturnya tahun ini...




Thursday, July 10, 2014

Pesta Kita dan Air Mata Mereka

Berita serangan brutal Israel terhadap rakyat Palestina di jalur Gaza itu tiba-tiba tersiar saat pesta demokrasi sedang berlangsung di negeri kita. Sekali lagi, (harusnya) kita terpana dan sedih lalu mengecam aksi biadab Israel yang keliatannya tidak akan pernah ada ujungnya. Namun apa yang terjadi disini justru mungkin lebih tragis dari segala kesuraman yang harus dihadapi warga Palestina selama sepekan terakhir ini. Seolah tidak ada yang lebih penting dari pemilihan presiden, sebagian besar dari masyarakat kita sibuk berkampanye, bertukar cerita tentang pengalamannya dalam mengikuti proses pemungutan suara hingga membahas tentang penghitungannya. Rasa kemanusiaan terasa telah dikandaskan oleh celotehan tentang pasangan mana yang berhak mendapat suara lebih banyak dari pasangan lainnya. Sementara perdebatan tentang hal-hal negatif dari masing-masing kandidat masih juga menjadi menu utama aktifitas mereka yang merasa pintar dan layak bicara.

Rakyat negara yang belum lagi berusia 70 tahun ini terlalu terlena dengan sistem pemilihan pemimpin negara yang belum lama mulai diterapkan. Persis seperti sejarah perkembangan telekomunikasi via telpon seluler sejak pertengahan tahun 90an, mental masyarakat kita ibarat badan kerempeng yang dicekoki supplemen steroid dalam dosis yang tinggi sehingga perkembangannya dipacu dengan paksa. Bukan mustahil jika di negeri ini, Nokia sempat mampu merilis sebuah tipe telpon seluler baru tiap minggunya sementara di Amerika, produk baru Nokia muncul tiap dua bulan sekali. Gambaran tentang kecanggihan hidup yang terbentuk di benak manusia Indonesia telah melumpuhkan kemampuannya untuk lebih banyak menggunakan logika. Akibatnya, hingga saat inipun gadget-gadget yang merupakan pengembangan dari telpon selular kini menjadi sesuatu yang sifatnya prioritas bagi hampir setiap orang hingga kita mampu mengesampingkan hal-hal lain yang harusnya lebih penting.

Kebanyakan dari kita tak henti-hentinya mebahas tentang PilPres yang telah berlangsung kemarin. Sebelumnya, kita sibuk ikut berkampanye secara freelance membela kandidat jagoan, dan kalau perlu menjelek-jelekan lawannya. Usainya proses PilPres kemarin tidak membuat kita merasa cukup tentunya sebelum kita tau pasti siapa pemenangnya yang akan diumumkan oleh KPU tanggal 22 Juli mendatang. Aku sangsi jika setelah itu kita bisa dan akan berhenti berbicara tentang PilPres. Asumsiku, semoga aku salah, yang terjadi justru hilangnya penghormatan terhadap yang menang, pengakuan dari yang kalah, keikhlasan dalam menerima keputusan dan pemeliharaan perdamaian. Pemraktekan sistem demokrasi yang masih belia ini telah melenakan dan membutakan masyarakat kita sehinga kita sangat tidak peka dengan hal-hal lain yang terjadi di luar lingkup itu.

Tentara Israel kemarin tertawa lagi di atas penderitaan rakyat Palestina yang kembali menangis. Foto-foto yang mengenaskan tentang hasil kesadisan Israel beredar lagi dimedia nyata maupun maya. Namun topik pembicaraan yang dipilih sebagian besar rakyat kita masih soal pesta demokrasi. Apa yang terjadi di Gaza memang tidak menyangkut agama-agama yang diakui di Indonesia, tidak juga berpautan dengan demokrasi kita yang akan dibentuk oleh masing-masing kandidat PilPres, atau bahan pangan kita yang katanya hasil importan, atau kandungan bumi yang banyak dikuasai pihak asing atau apapun yang telah menjadi bagian dari keramaian kampanye PilPres kali ini, tapi tentang kemanusiaan. Air mata rakyat Palestina menuntut solidaritas kita sebagai sesama umat manusia yang menghargai hidup, sebagai orang tua yang berusaha menciptakan masa depan yang baik untuk anaknya, dan sebagai anak yang butuh orang tua untuk melindunginya.

Dan ketika apa yang mereka miliki terdzalimi begitu saja, masihkah juga kita bicara tentang pesta demokrasi melebihi porsinya?


 

Tuesday, July 8, 2014

Sinarnya

Tak seperti biasanya, di Jum'at pagi yang cerah kemarin, aku sudah melaju dengan motorku mengarah ke Timur kota dengan berharap bisa menyelesaikan urusan dengan pihak pemerintah daerah setempat sedini mungkin. Biasan sinar matahari yang terasa menghangatkan kulit lengan dan tangan dibalik manset dan sarung tangan yang kupakai mengingatkanku pada masa-masa ketika aku masih menjadi seorang mahasiswa di negeri seberang. Sambil menikmati kilauan sinarnya dari balik kacamata hitamku, aku teringat lagi hujaman kesilauan yang sama aku rasakan lewat kulit mukaku yang kering dan mataku yang memerah saat itu. Bedanya hanya ketika itu aku meluncur dengan kendaraan beroda empat di jalanan bebas hambatan yang lurus dan panjang mengarah ke arah Timur.

Aku dulu seringkali menjadi "destination driver" karena aku memang sejak remaja punya keahlian menahan ngantuk untuk waktu yang lebih lama dari teman-teman sepermainanku. Untuk waktu yang teramat lama setelahnya, ketahananku bahkan dapat pulih kembali cukup hanya dengan konpensasi tidur selama dua atau tiga jam saja. Pernah sekali, aku harus bolak balik ke sebuah diskotik hanya untuk menjemput dan mengantar sekelompok teman-teman yang sudah terintoksikasi minuman beralkohol sehingga tidak layak untuk mengemudikan mobilnya. Aku bisa mengendarai mobil di malam yang larut demi keselamatan teman dan di esok harinya ketika matahari sedang terbit demi kenyamanan teman yang lain. Aku sempat menyandang julukan "pembantu" karena kebiasaanku yang bangun paling awal dan tidur paling akhir diantara teman-temanku.

Aku dan sekelompok teman setanah air pernah menjalani suatu kehidupan yang teratur tapi tak biasa. Kami punya kegiatan rutin yang pastinya dianggap berlebihan oleh orang lain. Bukan kami menggunakan obat-obat terlarang atau bermabukan apalagi melakukan hal-hal uang asusila, namum sebaik-baiknya kegiatan apapun yang menjadi rutinitas kami, di hari-hari tertentu selalu berakhir di waktu yang larut di rumah mewah seorang teman yang merupakan salah satu tempat kami sering berkumpul. Rumah ini cukup besar dengan tempat parkiran dan halaman belakang yang sangat luas sehingga sangat nyaman dijadikan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu kami. Letaknya cukup jauh di pedalaman, di sebelah barat kota-kota yang kami huni. Sayangnya, kami kurang bisa mengatur jadwal kegiatan kami dengan bijaksana sehingga setelah kami harus tertidur larut malam di rumah itu, kamipun masih punya kewajiban untuk kuliah di esok harinya. Maka disinilah peranku diandalkan dalam mengendarai mobil mengarah ke matahari yang baru mulai memancarkan cahayanya sementara teman yg lain melanjutkan tidurnya dalam mobil.

Flashback ini membuatku kembali tersenyum sendiri seperti ketika hal itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Aku mungkin memang banyak sekali melakukan aktifitas yang orang lain bisa menganggapnya sebagai sebuah kesia-siaan yang tidak bermanfaat buatku, namun aku merasakan kebahagian tersendiri ketika tengah menjalaninya. Tentu saja aku bisa melakukan hal lain yang mungkin lebih memberiku kenyamanan tanpa perlu bersusah payah memusingkan nasib orang lain, tapi "pengorbanan" seperti ini memberiku kegembiraan karena merasa dibutuhkan oleh orang lain. Hal yang membuatku sadar jika aku tidak hanya berperan sebagai seorang teman yang enak diajak bermain tapi juga teman yang peduli. Lalu sudah jadi apa dan kemana saja mereka sekarang? Entahlah...namun bahwa aku masih bisa menikmati hangatnya guyuran sinar matahari yang sama sekaligus menyilaukan pandanganku di Jum'at pagi kemarin itu sudah lebih dari cukup buatku...