Tak ada yang bisa memungkiri bahwa saat ini masyarakat kita tengah berada di suatu posisi yang teramat sulit. Belum selesai orang mempertanyakan tentang hasil kepemimpinan presiden Jokowi yang dianggap tidak mencapai target janjinya (bagi mereka), muncul lagi topik baru yang singgahnya pada sosok yang erat hubungannya dengan presiden ke 7 ini.
Ahok, yang menjabat sebagai pengganti Jokowi di tahta kepimpinan kota Jakarta, sedang menjadi primadona pemberitaan dimana-mana, terutama di media internet yang memberi kebebasan bersuara pada setiap orang. Gaya bicaranya yang terkenal tegas, ceplas ceplos, berani dan kadang cenderung kasar memberikan berbagai alasan kepada orang untuk menanggapinya. Beberapa waktu yang lalu ia sempat melontarkan kata-kata yang dinilai tidak etis diucapkan seorang pejabat. Tidak berhenti disitu, ia bahkan melakukan pembelaan disana sini tanpa pilih kasih pada siapapun yang menudingnya. Suatu keberaniannya yang telah ditunjukkannya sejak ketika ia masih menjadi wakil gubernur. Hanya saja dulu, sebagai orang kedua pemegang tampuk kepemimpinan, tindak tanduknya itu tidak terlalu digubris karena (mungkin) gaya kekaleman Jokowi dianggap bisa mengimbanginya.
Nah, ketika pada saat yang sama kepemimpinan negara dan kepemimpinan ibukota sedang dipertanyakan, lagi-lagi terjadi perang debat antara pro dan kontra-nya. Meski ini bukan kali pertama rakyat menyatakan ketidakpuasannya terhadap kinerja (atau ahlak) orang-orang nomor satu di negeri ini, namun sepertinya baru kali ini ada suara sumbang yang mengisyaratkan penyesalan telah menjatuhkan pilihannya di ajang Pilpres maupun Pilkada yang lalu. Dan dengan terdengungnya suara-suara itulah lalu muncul mereka-mereka yang mencuatkan kekhawatiran akan ambruknya kondisi kesejahteraan rakyat sambil mengajakan untuk ikut berjuang memperbaiki nasib bangsa.
Ironisnya, ajakan ini diiringi dengan ketakutan yang (bagiku) terlalu dramatis. Dengan menghadirkan lagi quote-quote yang bernafaskan perjuangan atau sosial dari orang-orang terkenal terdahulu seperti Chairil Anwar atau Tan Malaka atau Soekarno, bahkan yang bersifat religius dari sosok yang mendunia seperti Ummar bin Khatab, ajakan itu jadi lebih terasa bersifat menakut-nakuti. Takut kalau negeri ini morat-marit lah. Takut kalau peristiwa 1988 terulang lagi lah. Takut kalau keamanan negeri terancam seperti tahun 1965 lah, dan lain-lain. Padahal, mereka yang melakukan aksi pendramatisan ini rata-rata masih terbilang muda untuk dianggap terkena dampak bahkan dari peristiwa tahun 1988. Lalu mereka tau apa? Apakah kegentingan yang mereka gambarkan itu terbentuk berbasis apa yang mereka baca dari internet? Yang bisa ditulis oleh siapapun tanpa kenal batasan dan tak perlu lolos sensor pihak berwenang? Otentikkah?
Kita harusnya ingat apa saja yang kemudian terjadi setelah peristiwa-peristiwa nasional itu. Ada hari baru dengan harapan baru setelah malam yang buruk berlalu. Ada perjuangan yang mengawali perubahan yang kemudian (bisa) membawa negeri ini ke fase yang lebih baik, meskipun hanya sesaat bila kemenangan yang (diduga) telah kita raih itu ternyata hanya semu atau sebuah langkah yang salah. Dulu banyak yang menganggap pemaksaan Soeharto untuk lengser ternyata tidak pada tempatnya. Sekarang terjadi lagi tentang pemilihan para pemimpin. Harusnya ketimbang meratapi kesalahan itu, kita bisa bersikap legowo dengan apapun yang akan terjadi tanpa perlu berspekulasi ini itu. Kalau saja nantinya negeri kita tercinta ini harus menghadapi masa-masa kritis, biarlah itu dilalui dengan penuh kebijaksanaan diri tanpa melakukan aksi-aksi anarkis yang (ternyata) bisa saja jadi salah langkah (lagi). Karena suatu kesuksesan dari hasil perjuangan kesabaran yang hebat akan punya aroma yang lebih harum daripada yang didapat dengan mudah.
Bagai semut yang bekerja keras mengumpulkan stok pangan menghadapi musim dingin, harusnya kita juga mempersiapkan diri menghadapi masa paceklik yang mungkin terjadi kelak.
Berhentilah bicara yang tak penting dan mulailah membekali diri....!!
Monday, March 30, 2015
R.E.S.P.E.C.T
Most people say that money isn't everything, but I'm pretty sure there are some other believe otherwise. Take my friend for instance. He once said to me (and I'm sure to others too), that people who say money can't buy everything are those who don't know where to shop. He believes that people, religion and even God can be bought. He proved it when he was actually treated as if he was so powerful to some of his followers. At that time, he was like a God to them that whatever he said would be marked as something they had to believe. As for love and happiness, they are like affordable materials.
I never agree with his believe about money since I know whatever bought with money would only worth as much as the amount of the money and last that long (or short). We would lose it soon as we lose the money, as simple as that. And that goes the same for respect. Happiness in your society can be created when you get respect from people. And you would only get respect when you give it as well. That's how you earn it, not by buying them.
And while my friend keeps spending money to keep himself happy, I would rather save my money and go the hard way, trying to show respect to those who may make my life miserable. It may take a lot to swallow my pride but I'm going for the true happiness that would come along the way.
I don't care if you only respect me when you can get some money out of me because if that's what it takes, respect from you may not be one of the keys to my happiness. You may think it would make people assume you have power to control my life that they would respect you for it, but you would never get it from me for you may be among those who don't determine my happiness as I to yours. I believe I have a path to go through in life. And when I believe the path isn't going to take me to where to go or I may be taking the wrong ride, I would let the bus stop and take another or even take a walk if that would be my option. I'm not planning to do some spending for something that is actually free or worthless and meaningless to my happiness.
I never agree with his believe about money since I know whatever bought with money would only worth as much as the amount of the money and last that long (or short). We would lose it soon as we lose the money, as simple as that. And that goes the same for respect. Happiness in your society can be created when you get respect from people. And you would only get respect when you give it as well. That's how you earn it, not by buying them.
And while my friend keeps spending money to keep himself happy, I would rather save my money and go the hard way, trying to show respect to those who may make my life miserable. It may take a lot to swallow my pride but I'm going for the true happiness that would come along the way.
I don't care if you only respect me when you can get some money out of me because if that's what it takes, respect from you may not be one of the keys to my happiness. You may think it would make people assume you have power to control my life that they would respect you for it, but you would never get it from me for you may be among those who don't determine my happiness as I to yours. I believe I have a path to go through in life. And when I believe the path isn't going to take me to where to go or I may be taking the wrong ride, I would let the bus stop and take another or even take a walk if that would be my option. I'm not planning to do some spending for something that is actually free or worthless and meaningless to my happiness.
Monday, March 23, 2015
Salah Alamat
Kemarin pagi aku sibuk berkomen ria di beberapa grup Whatsapp yang aku ikuti. Mungkin karena memang di hari libur seperti itu banyak orang yang sedang santai sehingga punya banyak waktu untuk berinteraksi aktif seperti aku. Salah satu grup-nya hanya beranggota kakak dan adik kandungku saja, dan kali ini topik pembicaraan kami bersifat khusus untuk lelaki dewasa dengan pengikutsertaan beberapa foto-foto yang vulgar. Tentu saja ini adalah hal yang fun bagi kami yang memang punya hubungan persaudaraan yang kental sejak kami kecil.
Sialnya, ketika salah satu foto itu hendak aku kirim ke seorang temanku, juga lewat Whatsapp, aku justru mengirimkannya ke grup Whatsapp lainnya yang terdiri dari sekian banyak peserta yang setengahnya adalah wanita. Pasalnya, kamu Hawa disitu kebanyakan lebih cenderung akan menilainya sebagai tindakan yang tidak etis. Belum lagi kalau kemudian diikuti dengan penghakiman atau bahkan penuduhan yang bukan-bukan.
Aku sempat kelimpungan mencari cara untuk "nge-les" sebagai antisipasi dari protes yang bisa kapan saja segera dilemparkan. Untungnya, foto yang salah alamat itu bukan bersifat vulgar meskipun bisa membentuk sebuah penganggapan di benak siapapun yang melihatnya bahwa akulah pembuat foto tersebut yang mengartikan bahwa aku termasuk lelaki yang "nakal". Sempat aku berniat untuk meminta moderator grup untuk mencabut foto itu mengingat hanya ia yang punya wewenang atas hal itu. Namun aku urungkan niatku karena moderatornya pun seorang wanita. Kemungkinan besar ia akan dengan senang hati melakukannya jika memang ia menganggap foto itu tak layak bertengger disitu, hanya saja aku belum mampu untuk menanggung malu dalam memintanya.
Yang lebih menguntungkan adalah bahwa ada beberapa teman lelaki yang mengendus kesalahanku itu dan segera saling bersautan secara marathon sambil perlahan memanuverkan topik pembahasan. Alhasil, interaksi kami, sesama peserta lelaki, berakhir di pembahasan pembentukan bisnis baru di dunia kulineri, yang memang belakangan tengah diminati sejumlah teman wanita di grup ini yang kemudian juga "turun gunung" untuk ikut membahasnya.
Sementara setelah lebih kurang satu jam sejak kesalahan yang aku lakukan, foto itu dicabut oleh moderator.
Phew...sebuah polemik yang mungkin bisa selalu terjadi jika kita tidak berhati-hati ketika tengah aktif berinteraksi aktif dengan banyak pihak secara bersamaan. Yang penting diingat adalah bahwa kita harus siap dengan respon yang cerdik saat kita sedang terpojok.
Sialnya, ketika salah satu foto itu hendak aku kirim ke seorang temanku, juga lewat Whatsapp, aku justru mengirimkannya ke grup Whatsapp lainnya yang terdiri dari sekian banyak peserta yang setengahnya adalah wanita. Pasalnya, kamu Hawa disitu kebanyakan lebih cenderung akan menilainya sebagai tindakan yang tidak etis. Belum lagi kalau kemudian diikuti dengan penghakiman atau bahkan penuduhan yang bukan-bukan.
Aku sempat kelimpungan mencari cara untuk "nge-les" sebagai antisipasi dari protes yang bisa kapan saja segera dilemparkan. Untungnya, foto yang salah alamat itu bukan bersifat vulgar meskipun bisa membentuk sebuah penganggapan di benak siapapun yang melihatnya bahwa akulah pembuat foto tersebut yang mengartikan bahwa aku termasuk lelaki yang "nakal". Sempat aku berniat untuk meminta moderator grup untuk mencabut foto itu mengingat hanya ia yang punya wewenang atas hal itu. Namun aku urungkan niatku karena moderatornya pun seorang wanita. Kemungkinan besar ia akan dengan senang hati melakukannya jika memang ia menganggap foto itu tak layak bertengger disitu, hanya saja aku belum mampu untuk menanggung malu dalam memintanya.
Yang lebih menguntungkan adalah bahwa ada beberapa teman lelaki yang mengendus kesalahanku itu dan segera saling bersautan secara marathon sambil perlahan memanuverkan topik pembahasan. Alhasil, interaksi kami, sesama peserta lelaki, berakhir di pembahasan pembentukan bisnis baru di dunia kulineri, yang memang belakangan tengah diminati sejumlah teman wanita di grup ini yang kemudian juga "turun gunung" untuk ikut membahasnya.
Sementara setelah lebih kurang satu jam sejak kesalahan yang aku lakukan, foto itu dicabut oleh moderator.
Phew...sebuah polemik yang mungkin bisa selalu terjadi jika kita tidak berhati-hati ketika tengah aktif berinteraksi aktif dengan banyak pihak secara bersamaan. Yang penting diingat adalah bahwa kita harus siap dengan respon yang cerdik saat kita sedang terpojok.
Sunday, February 22, 2015
Menghayati Kehidupan
Pagi ini dapat email dari Soundcloud yang menyatakan kalau sebentar lagi jumlah download
postingan lagu ini mencapai batas maksimum yang ditentukan sehingga jika saya tidak
meng-upgrade akun saya, tombol download-nya akan dinonaktifkan begitu
mencapai limit.
Saya lalu ingat kekecewaan saya waktu dengar kalau alm. Chrisye memutuskan untuk berhenti memainkan bass-nya (yang mungkin demi mengikuti demand dari pelaku bisnis musik terkait), sementara (ini yg banyak orang tidak tau) ia adalah seorang bassist hebat yang permainannya punya ciri khas tersendiri seperti yang bisa terdengar dalam lagu ini.
Intinya bukan di jumlah downloadnya, tapi di bagaimana orang bisa (dan mau) menghargai karya seni musisi terdahulu saat industri musik kita belum dijadikan ajang sapi perah dan dihantui pembajak yang mengebirikan kreativitas musisi.
oh well...begitulah kehidupan
https://soundcloud.com/docsx/kehidupanku-fariz-rm-junaidi
Saya lalu ingat kekecewaan saya waktu dengar kalau alm. Chrisye memutuskan untuk berhenti memainkan bass-nya (yang mungkin demi mengikuti demand dari pelaku bisnis musik terkait), sementara (ini yg banyak orang tidak tau) ia adalah seorang bassist hebat yang permainannya punya ciri khas tersendiri seperti yang bisa terdengar dalam lagu ini.
Intinya bukan di jumlah downloadnya, tapi di bagaimana orang bisa (dan mau) menghargai karya seni musisi terdahulu saat industri musik kita belum dijadikan ajang sapi perah dan dihantui pembajak yang mengebirikan kreativitas musisi.
oh well...begitulah kehidupan
https://soundcloud.com/docsx/kehidupanku-fariz-rm-junaidi
Wednesday, February 11, 2015
Setelah Niat Terpenuhi
Sebenarnya sudah dari awal aku diingatkan untuk tidak memaksakan diri dalam beramal. Artinya, jika aku memang tidak mampu untuk beramal atau amalanku itu akan memojokkan posisiku, selayaknya aku merelakan diri untuk beramal hanya lewat niat saja. Apalagi bahwa sudah banyak orang yang menganggapku terlalu sering beramal atas dasar rasa kasihan tanpa mengasihani diriku sendiri.
Ya....dalam hal yang satu ini, aku memang sudah menyadari bahwa amalan yang tengah aku perjuangkan saat itu bisa menjadi bumerang bagiku karena masa depan keuanganku yang belum jelas akan menjadi seperti apa. Namun niat yang ada dalam hati dan benakku sudah terlanjur terbentuk begitu bakunya sehingga aku tetap berusaha mengeksekusinya. Perjalanan panjang menuju garis finish itu memang akhirnya dipenuhi dengan segala kerumitan dan rintangan yang jelas-jelasan menyita banyak moril dan materi dariku.
Dan akhirnya, pasangan sayap metal yang merobek-robek awan putih di langit Jakarta pagi ini memberikan kelegaan di hatiku karena selesai sudah segala usaha yang perlu aku lakukan demi tercapainya niatku dalam beramal.
Jujur saja, kemarin-kemarin ketika sedang bertanya pada sendiri tentang perlunya berkorban demi niat ini, aku memang sering menenangkan hati dengan mengharapkan imbalan yang setimpal dariNya. Namun aku juga sadar bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan kepastiannya kecuali jika aku berikhlas. Karena dengan berikhlas itulah aku bisa mensyukuri hal sekecil apapun yang dianugerahiNya padaku dan menganggapnya sebagai bayaran atas apapun kebaikan yang telah aku lakukan.
Kini, setelah niatku terpenuhi, aku tidak ingin lagi berpengharapan pahala atasnya, namun justru berharap atas kelancaran dari perjalanan suci yang semuanya aku serahkan kepadaNya...aamiin.
=02042015=
Ya....dalam hal yang satu ini, aku memang sudah menyadari bahwa amalan yang tengah aku perjuangkan saat itu bisa menjadi bumerang bagiku karena masa depan keuanganku yang belum jelas akan menjadi seperti apa. Namun niat yang ada dalam hati dan benakku sudah terlanjur terbentuk begitu bakunya sehingga aku tetap berusaha mengeksekusinya. Perjalanan panjang menuju garis finish itu memang akhirnya dipenuhi dengan segala kerumitan dan rintangan yang jelas-jelasan menyita banyak moril dan materi dariku.
Dan akhirnya, pasangan sayap metal yang merobek-robek awan putih di langit Jakarta pagi ini memberikan kelegaan di hatiku karena selesai sudah segala usaha yang perlu aku lakukan demi tercapainya niatku dalam beramal.
Jujur saja, kemarin-kemarin ketika sedang bertanya pada sendiri tentang perlunya berkorban demi niat ini, aku memang sering menenangkan hati dengan mengharapkan imbalan yang setimpal dariNya. Namun aku juga sadar bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan kepastiannya kecuali jika aku berikhlas. Karena dengan berikhlas itulah aku bisa mensyukuri hal sekecil apapun yang dianugerahiNya padaku dan menganggapnya sebagai bayaran atas apapun kebaikan yang telah aku lakukan.
Kini, setelah niatku terpenuhi, aku tidak ingin lagi berpengharapan pahala atasnya, namun justru berharap atas kelancaran dari perjalanan suci yang semuanya aku serahkan kepadaNya...aamiin.
=02042015=
Tanda-Tanda Akhir Zaman
Sebenarnya seberapa dekat sih kita dari hari kiamat?
Harusnya tidak seorangpun yang tau karena hal itu (masih) merupakan misteri Illahi yang meski cenayang sehebat Nostradamuspun tidak akan pernah tau. Artinya, apapun yang diduga sebagai pertanda harusnya bukanlah pertanda. Sayangnya, banyak sekali orang yang (kata temanku) o'on dengan style yakin-nya sering mengalamatkan suatu perkara buruk sebagai pertanda dekatnya kiamat. Huh...sebal sekali aku setiap mendengar mereka berucap seperti itu.
Misalnya, ketika mendengar ada berita tentang maraknya korupsi di sana sini, atau meningkatnya angka kejahatan yang dinilai keji, mereka langsung menyatakan itu sebagai pertanda kiamat sudah dekat. Tapi...kalau ditanya seberapa dekat, mereka tidak punya jawabannya. Hellooo...atas dasar apa dugaan mereka ini? Apakah hanya karena apa yang mereka dengar itu adalah sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi? Atau karena kebejatan si pelaku kejahatan sudah dianggap melampaui batas-batas kemanusiaan yang notabene ditentukan sendiri oleh manusia?
Memang ada petunjuk dari Yang Kuasa bahwa suatu hari ahlak manusia akan begitu rapuhnya dan saat itulah kehidupan ini mendekati akhir zaman. Pertanyaannya adalah, bagaimana ahlak manusia yang bisa dikategorikan sebagai "begitu rapuh"? Kalau hanya sekedar "lebih rapuh" dari yang pernah ada, tentuya situasi seperti ini pasti juga pernah berulang kali terjadi di masa lalu. Tak bisa dipungkiri kebejatan manusia memang selalu bertambah dari masa ke masa. Buktinya, manusia yang selalu bertambah pintar dalam mengembangkan cara hidupnya telah memberi celah lebih banyak untuk menuai kesalahan yang lebih fatal.
Kalau dulu lewat nabi Nuh a.s, Allah swt telah memberi pelajaran berharga bagi umat manusia untuk tidak gegabah dalam menghadapi ujian dariNya, dan nyatanya selama ratusan tahun kemudian umat manusia masih saja melakukan kesalahan yang sama, apa itu bukannya berarti manusia bisa dianggap tidak belajar dari pengalaman? Bukankah air bah yang meluluh lantahkan umat manusia saat itu merupakan bencana yang jauh lebih dahsyat dari bencana apapun yang terjadi di zaman peradaban sekarang? Lalu kalau saat itu, anggap saja ada orang yang mengatakan bencana itu merupakan suatu pertanda dekatnya hari kiamat, mengapa pula kita masih ada disini ribuan tahun kemudian?
Secara teori, tidak salah memang jika kita semakin dekat dengan kiamat. Tiap hari juga kita semakin dekat dengan kiamat. Tapi rasanya mengesalkan sekali jika hal itu lalu dijadikan bumbu dalam mengajarkan umat manusia untuk bertobat, apalagi jika memakai konsep menakut-nakuti. Agama mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak kekal yang suatu saat nanti akan ada "expiration date"-nya. Agama juga mengajarkan bahwa disaat sudah mendekati hari akhir, akan terjadi banyak kejadian yang aneh dan buruk buat umatnya. Hanya sedikit clue saja, dan tidak pernah terinci kejadian buruk dan aneh apa yang akan dihadapi manusia. Mengapa hanya clue? Sekali lagi, karena semua adalah misteri Illahi.
Manusia boleh menciptakan teori atau rumus baru sebagai bagian dari proses menduga-duga dan menebak masa depan, tapi seharusnya tidak perlu didamping panji-panji agama. Dengan embel-embel "didukung hukum agama", apapun yang orang katakan tentang adanya relasi antara perkara buruk dengan makin dekatnya kita pada akhir zaman buatku hanyalah isapan jempol belaka. Akan sama saja konyolnya dengan jika aku menganggap bahwa semakin banyaknya orang yang percaya pada hal itu juga adalah pertanda semakin dekat juga kita dengan hari kiamat. :p
Harusnya tidak seorangpun yang tau karena hal itu (masih) merupakan misteri Illahi yang meski cenayang sehebat Nostradamuspun tidak akan pernah tau. Artinya, apapun yang diduga sebagai pertanda harusnya bukanlah pertanda. Sayangnya, banyak sekali orang yang (kata temanku) o'on dengan style yakin-nya sering mengalamatkan suatu perkara buruk sebagai pertanda dekatnya kiamat. Huh...sebal sekali aku setiap mendengar mereka berucap seperti itu.
Misalnya, ketika mendengar ada berita tentang maraknya korupsi di sana sini, atau meningkatnya angka kejahatan yang dinilai keji, mereka langsung menyatakan itu sebagai pertanda kiamat sudah dekat. Tapi...kalau ditanya seberapa dekat, mereka tidak punya jawabannya. Hellooo...atas dasar apa dugaan mereka ini? Apakah hanya karena apa yang mereka dengar itu adalah sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi? Atau karena kebejatan si pelaku kejahatan sudah dianggap melampaui batas-batas kemanusiaan yang notabene ditentukan sendiri oleh manusia?
Memang ada petunjuk dari Yang Kuasa bahwa suatu hari ahlak manusia akan begitu rapuhnya dan saat itulah kehidupan ini mendekati akhir zaman. Pertanyaannya adalah, bagaimana ahlak manusia yang bisa dikategorikan sebagai "begitu rapuh"? Kalau hanya sekedar "lebih rapuh" dari yang pernah ada, tentuya situasi seperti ini pasti juga pernah berulang kali terjadi di masa lalu. Tak bisa dipungkiri kebejatan manusia memang selalu bertambah dari masa ke masa. Buktinya, manusia yang selalu bertambah pintar dalam mengembangkan cara hidupnya telah memberi celah lebih banyak untuk menuai kesalahan yang lebih fatal.
Kalau dulu lewat nabi Nuh a.s, Allah swt telah memberi pelajaran berharga bagi umat manusia untuk tidak gegabah dalam menghadapi ujian dariNya, dan nyatanya selama ratusan tahun kemudian umat manusia masih saja melakukan kesalahan yang sama, apa itu bukannya berarti manusia bisa dianggap tidak belajar dari pengalaman? Bukankah air bah yang meluluh lantahkan umat manusia saat itu merupakan bencana yang jauh lebih dahsyat dari bencana apapun yang terjadi di zaman peradaban sekarang? Lalu kalau saat itu, anggap saja ada orang yang mengatakan bencana itu merupakan suatu pertanda dekatnya hari kiamat, mengapa pula kita masih ada disini ribuan tahun kemudian?
Secara teori, tidak salah memang jika kita semakin dekat dengan kiamat. Tiap hari juga kita semakin dekat dengan kiamat. Tapi rasanya mengesalkan sekali jika hal itu lalu dijadikan bumbu dalam mengajarkan umat manusia untuk bertobat, apalagi jika memakai konsep menakut-nakuti. Agama mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak kekal yang suatu saat nanti akan ada "expiration date"-nya. Agama juga mengajarkan bahwa disaat sudah mendekati hari akhir, akan terjadi banyak kejadian yang aneh dan buruk buat umatnya. Hanya sedikit clue saja, dan tidak pernah terinci kejadian buruk dan aneh apa yang akan dihadapi manusia. Mengapa hanya clue? Sekali lagi, karena semua adalah misteri Illahi.
Manusia boleh menciptakan teori atau rumus baru sebagai bagian dari proses menduga-duga dan menebak masa depan, tapi seharusnya tidak perlu didamping panji-panji agama. Dengan embel-embel "didukung hukum agama", apapun yang orang katakan tentang adanya relasi antara perkara buruk dengan makin dekatnya kita pada akhir zaman buatku hanyalah isapan jempol belaka. Akan sama saja konyolnya dengan jika aku menganggap bahwa semakin banyaknya orang yang percaya pada hal itu juga adalah pertanda semakin dekat juga kita dengan hari kiamat. :p
Wednesday, February 4, 2015
Keeping
There are lots of things about you that makes him fall for you even that you often disagree with many of them. For whatever happens, what matters to him is that he gives you whatever he think is right for you in the good times and the bad times. And that's the reason why he's still around, even when you treat him unkindly. To him, you are very special that he tries his best to tolerate your behavior when you're not in a good mood. Stepping aside in silence doesn't make him care any less just for you because he tries to avoid making false moves accidentally that may make your situation worse.
All the attentions he gives you may sometimes look unnecessary to you or others but that's how he show how he cares. He doesn't have a lot to give you but he gives you everything he can, including his heart. He may not be a perfect guy, but then again, who is? There are many who would want to be in his shoes, but surely there's none that would treat you as good as he does. So when you happen to feel like ignoring him, make sure that he knows why and that you're not giving him a reason to dislike how you treat him. And unless you are really ready to lose him, you should too give full effort to keep him in your heart.
All the attentions he gives you may sometimes look unnecessary to you or others but that's how he show how he cares. He doesn't have a lot to give you but he gives you everything he can, including his heart. He may not be a perfect guy, but then again, who is? There are many who would want to be in his shoes, but surely there's none that would treat you as good as he does. So when you happen to feel like ignoring him, make sure that he knows why and that you're not giving him a reason to dislike how you treat him. And unless you are really ready to lose him, you should too give full effort to keep him in your heart.
Subscribe to:
Posts (Atom)






