Thursday, November 14, 2013

Broadcast

Lagi-lagi aku menulis postingan soal agama. Suatu hal yang sering aku hindari karena aku bukanlah ahli agama dan juga tidak suka menuai masalah. Tapi kali ini aku dibuat terkagum-kagum oleh hal yang dilakukan kakakku dua hari yang lalu.


#Puasa dibulan Muharram,pada Taasu'a(9 Muharram) dan hari ‘Asyura (10 Muharram)#

Bismillah,

Insya Allah Ta’alaa Puasa

9 Muharram jatuh tanggal 13-11-2013 (hari Rabu)
10 Muharram jatuh tanggal 14-11-2013 (hari Kamis)

Dianjurkan berpuasa pada tanggal sembilan muharram,berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu bahwa beliau berkata: tatkala Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya. Mereka (para shahabat) berkata:wahai Rasulullah,itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara. Maka bersabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam : jika tiba tahun yang berikutnya,insya Allah kita pun berpuasa pada hari kesembilan. Namun belum tiba tahun berikutnya hingga Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam wafat.” (HR.Muslim:1134)

Hadits Abu Qatadah bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura,maka beliau menjawab:


يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ


“menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR.Muslim:1162).



Begitulah tepatnya isi broadcast yang ia terima di hape-nya. Sengaja aku copy/paste-kan lengkap dengan tulisan aksara Arab-nya agar aku tidak salah tulis atau dianggap meng-edit konteksnya.
Maka beginilah ia merespon broadcast tersebut:


Menyimak cerita diatas:
Nabi Muhamad SAW bersabda: insya Allah (yg berarti atas ijin Allah) kita pun berpuasa pada hari kesembilan. Namun belum tiba tahun berikutnya hingga Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam wafat.
Yang menjadikan bahwa Allah tidak mengijinkan beliau dan para sahabatnya untuk berpuasa bersama-sama pada hari kesembilan tsb.


Yang aku kagumi darinya adalah bahasa halus dan sopan yang digunakan dalam mengungkapkan apa yang ia percaya benar tapi bisa dikatakan penentangan terhadap pesan yang terkandung dalam broadcast tersebut. Begitu santunnya hingga tentangan itu bisa jadi mencegah keinginan si pengirim broadcast untuk mendebatkannya jika bukan karena memang respon kakakku sangat masuk akal.

Aku menemukan banyak kesamaan prinsip beragama dengan kakakku yang satu ini. Mungkin karena kami pernah menjalani masa muda yang serupa dengan segala perjuangan terhadap tantangan hidup yang serupa pula. Sehingga kami sama-sama menilai banyak hal dengan logika yang menjadikan kami anti-fanatisme dalam beragama. Kami masih sering tukar pendapat tentang agama dan meskipun sesekali kami punya pengartian yang berbeda, dengan mudahnya kami menyudahinya secara damai dan ikhlas tanpa perlu saling berusaha untuk menjadi yang lebih benar.

2 hari belakangan ini adalah hari-hari ke 9 dan 10 bulan Muharram, yang dianggap banyak orang sebagai hari mustajab yang jika diisi dengan berpuasa niscaya puasanya akan memberikan imbalan yang berlipat-lipat. Ada yang mengatakan imbalannya puasa setahun, ada juga yang bilang pengampunan dosa selama setahun, dan lain sebagainya. Mengapa ada anggapan seperti itu? Sederhananya karena itulah yang tersebut dalam hadits di atas.
Aku tidak menentang puasa tersebut, namun yang tidak aku suka adalah mereka yang memperlakukannya sedemikian rupa sehingga terkesan sebagai suatu keharusan. Dari yang kesal jika himbauannya untuk menjalankan puasa tersebut tidak diindahkan, hingga yang berani menghakimi orang sebagai pendosa jika tidak menjalankannya.

Bedanya dengan kakakku, aku berulang kali berdiam menahan keinginan berkomentar dalam menghadapi kaum yang suka memberikan rupa mengerikan pada agama atau bahkan pada Tuhan dengan cara mengumbar ancaman hukuman yang berat bagi siapapun yang dinilainya berdosa. Ironisnya, hal tersebut sudah merembet ke hal-hal yang hanya formatnya sunnah, bukan wajib. Aku menahan diri karena aku memang bukan (lagi) seorang pendebat yang umumnya punya ideologi harus memenangkan setiap perdebatan. Aku justru menghindar dan menarik diri sebelum aku terjebak dalam arena perdebatan yang sangat mungkin mempertemukan aku dengan lawan yang memaksaku untuk percaya pada fahamnya yang dianggap paling benar.

Semua insan manusia punya hak untuk berpendapat dan aku hargai pendapat mereka. Perbedaan faham itu adalah variasi hidup yang dianugerahkan dariNya sehingga harusnya dimengerti dan diterima dengan baik oleh semua orang. Harusnya orang dengan mudah bisa menerima perbedaan tanpa harus merubahnya jika tidak dirasa perlu. Pada akhirnyapun, kelak di hadapanNya semua kembali pada individu masing-masing dimana segala keduniawian akan ditanggung sendiri-sendiri. Bak saat umat Islam berada di tanah suci, harusnya tak seorangpun yang punya waktu untuk mengurus orang lain yang punya faham berbeda agama dalam menjalani hari-harinya sebagai tamu Allah swt.


Insya Allah mereka, baik yang berpuasa sunnah maupun yang tidak, sama-sama berlimpah berkah dariNya. Aamiin.
  

 

Tuesday, November 5, 2013

Jinx

Seorang teman bercerita tentang perkara yang baru ia alami akhir minggu kemarin. Mobilnya yang tengah dalam posisi terparkir di sisi jalan diserempet mobil lain sehingga dudukan kaca spionnya patah terhantam kaca spion mobil lainnya itu. beruntung temanku itu memang sedang berada di dalam mobilnya sehingga ia lalu dapat mengejar dan menghentikan mobil yang menyerempetnya. Maka setelah melalui negosiasi dan tawar menawar biaya dan upaya penggantian kerusakan yang ada kedua belah pihak mencapai kesepakatan secara damai.
Ceritanya lumayan seru karena ia juga menceritakannya dengan penuh semangat mengingat ia sempat khawatir jika urusan ini jadi bertele-tele dan mungkin berujung pada pertikaian yang buntu. Namun aku justru tertarik pada fakta yang bisa mengukuhkan pola pemikiranku yang selama ini ditentang banyak orang yang notabene kuanggap religius.

Aku selalu kesal dengan mereka yang menanggapi suatu musibah dengan nasehat atau himbauan agar kita seharusnya membaca doa-doa tertentu agar terhindar dari musibah. Pendek kata, seolah dengan membaca doa-doa tertentu kita akan (pasti) terhindar dari petaka. Lalu ketika kita telah membaca doa tertentu tapi masih mengalami musibah, berarti doa yang kita panjatkan belum lengkap atau bahkan salah.
Kejadian yang dialami temanku kemarin itu telah membuktikan bahwa musibah tetap saja menghampirinya bahkan ketika ia tidak sedang mengemudi dan mobilnya diparkir di posisi yang pada tempatnya. Sama halnya dengan orang yang memutuskan untuk tidak keluar rumah agar ia tidak mengalami kecelakaan tidak berarti ia akan terhindar dari kecelakaan. Umpamakan saja ia tengah bersantai dududk di atas sofa yang nyaman menikmati cemilan sambil menonton tv tiba-tiba diseruduk sebuah truk tronton yang rem-nya blog, kehilangan kendali dan menerobos tembok rumahnya.

Bagiku seburuk-buruknya musibah adalah perkara yang sudah disuratkan pada siapapun yang mengalaminya, baik itu dicoba dihindarinya atau tidak. Bukan berarti Tuhan tidak adil dengan menuliskan sesuatu yang buruk untuk terjadi pada manusia, namun aku yakin bahwa justru hal buruk yang dialami manusia merupakan pengimbang dari kebaikan yang kesemuanya hanya menunjukkan betapa adilnya Tuhan. Hanya saja manusia cenderung picik untuk bisa melihatnya. Sangatlah manusiawi jika di kala sedang ketiban sial, seseorang tidak ingat akan segala kebaikan yang pernah diterima sebelumnya. Aku tidak menganggap pemanjatan doa adalah hal yang sia-sia, namun aku tidak juga menganggapnya sebagai tiket jaminan untuk mendapatkan segala kebaikan atau untuk menolak bala. Aku meminta dalam doa keselamatan dan segala kebaikan dengan catatan aku juga harus ikhlas menerima ketentuanNya yang wujudnya justru bertolak belakang dari yang jadi pengharapkanku. Disitulah aku menjadi lebih realistis dalam berharap dari apa yang kuminta dari Tuhan.

Jadi...cukup lah kita mengutarakan rasa keprihatinan kita pada orang yang sedang atau telah menerima sebuah musibah tanpa kita harus mencoba mengajarkan orang teori ilmu yang bisa saja kelak akan membuatnya tambah kecewa jika terbukti tidak manjur buatnya.




Friday, November 1, 2013

Konsep Keikhlasan

Kemarin sore ketika aku tengah mengobrol dengan kakakku sambil menunggu hujan badai mereda, ia bercerita tentag pengalamannya mengalami sebuah tabrakan.

Ceritanya, saat mengantri di sebuah gerbang tol ia sempat memperhatikan papan pengumunan elektronik yang memuat info situasi di jalan tol yang siap ia telusuri. Konsentrasinya yang terbagi inilah yang membuatnya kurang memperhatikan laju kendaraan yang ada di depannya, sehingga ketika kendaraan itu tiba-tiba kembali berhenti, refleks dadakannya dalam menghentikan mobilnya tidak mengelakkannya dari menabrak kendaraan tersebut. Tabrakan ringan itu tetap menyebabkan keretakan kecil pada bemper mobil didepannya yang terbuat dari bahan fiberglass.

Singkat cerita, kakakku terlibat dalam pembahasan tentang besarnya ganti rugi dari kerusakan ini. Mobil sedan tua yang ditabraknya itu ternyata berisi 5 pemuda yang semuanya mengenakan baju koko dan kopiah seolah mereka santri. Ketika kakakku menawarkan uang sebesar Rp. 150.000 untuk mengganti biaya perbaikannya, pemuda yang mengendarai mobil terlihat merasa tidak puas dengan tawaran tersebut. Padahal, kakakku merasa uang tersebut sudah lebih dari cukup untuk kerusakan kecil terutama yang terjadi pada mobil tua yang kondisinya memang jauh dari mulus.

Dengan sopan, kakakku mencoba meminta pengertian pemuda itu bahwa hanya sejumlah itulah uang yang ada padanya saat itu sampai ia memperlihatkan isi dompetnya. Kakakku bahkan mengusulkan untuk bersama ke atm agar ia dapat mengambil kekurangan dana bila dirasa perlu. Dan segera setelah usulan itu dilemparkan, pemuda lain yang tadi duduk di sebelah pengemudi, yang rupanya pemilik mobil tersebut setelah dari awal hanya mendengarkan kemudian angkat bicara. Ia segera menyepakati jumlah uang yang ingin ditawarkan kakakku.

Ketika kakakku menyerahkan dana pengganti tersebut, pemilik mobil itu bertanya pada kakakku, "jadi hanya sejumlah ini saja yang bapak akan berikan kepada saya khan?"

"Hanya itu saja yang ada pada saya saat ini", jawab kakakku.

"jadi kalau saya terima uang ini, urusan kita tuntas, khan?, tanyanya lagi.

"Kalau mas anggap tuntas, saya anggap tuntas juga".

"Bapak ikhlas memberikan uang ini pada saya?"

"Tentu saya ikhlas", kakakku merespon.

"Alhamdulillah. Kalau begitu saya terima uang ini dengan ikhlas juga. Dan urusan kita sudah beres atas kesepakatan bersama ya?"

"Alhamdulillah iya mas. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya dan terima kasih atas pengertian mas."

Baru saja kakakku selesai berbicara, dengan uang yang ada di tangannya, pemuda itu menyalami tangan kakakku kemudian melepaskan genggamannya sambil meninggalkan semua uangnya di tangan kakakku.
Tentu saja hal ini mengejutkan kakakku yang awalnya mengira uang itu secara tidak sengaja tertinggal di tangannya, namun ketika hendak dikembalikan padanya ia menolak,

"Bapak sudah berniat dan melakukan hal baik dengan ikhlas, itu yang penting buat saya. Apa yang terjadi pada mobil saya adalah musibah. Saya tidak mau bapak jadi tersusahkan oleh kejadian yang bisa kapan saja tejadi pada siapa saja termasuk bapak. Saya juga ikhlas mengembalikan uang itu kepada bapak", jelasnya kepada kakakku.

Kepadaku kakakku mengaku ia sangat terharu dengan tindakan si pemilik mobil ini. Ia lalu menarik pelajaran berharga dari kejadian ini dimana sebuah pengorbanan yang terlihat tidak menguntungkan belum tentu terasa tidak mengenakan bagi pelakunya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pemuda itu berpisah darinya dengan kuluman senyum yang sama sekali tidak mengindikasikan kekecewaan bahkan justru memancarkan kepuasan. Mungkin saja kepuasan karena berhasil membuat kakakku terpaku keheranan hingga tak mampu berkata-kata saat ditinggalkannya. Yang jelas kepuasan itu berhasil dimilikinya tanpa harus merenggut kebahagiaan orang lain. Betapa ia bahkan telah menciptakan kebahagiaan tersendiri dalam diri kakakku. Sungguh suatu hal mulia yang tidak mudah dilakukan begitu saja oleh banyak orang.

Jika dengan melakukan hal seperti itu kita tidak hanya menciptakan kebahagiaan bagi orang lain tapi juga mendapat ketenangan jiwa, terbayangkah seperti apa hari-hari kita jika semua orang mengeksekusikan konsep pemikiran yang sama? Indahnyaaa....




Thursday, October 17, 2013

Tugas Baru

Antara bergairah dengan cemas aku beranjak dari kursi di kantorku yang telah sekian tahun lamanya menjadi singasanaku dalam menjalankan roda pekerjaanku. Ini bukan kali pertama aku meninggalkan kantorku untuk memulai usaha baru, tapi baru kali ini aku beranjak pergi untuk memulai karirku sebagai seorang pegawai. Jika selama ini aku selalu menjadi "petinggi" di semua usaha yang aku geluti karena memang aku menjadi salah seorang pioneernya, kali ini aku harus beranjak pergi untuk memulai karirku sebagai seorang karyawan biasa yang punya beberapa orang boss. Ya, kali ini aku akan bekerja dengan jam kantor yang umumnya diterapkan di kantor-kantor lain tanpa pengecualian. Sementara itu, aku juga baru hari ini bisa melihat tempat kerja yang disediakan buatku tanpa sedikitpun gambaran tentangnya.

Aku sudah lama ingin menjadi bagian dari perusahaan yang tiga tahun belakangan ini aku perjuangkan legalitasnya setelah digonjang ganjingkan dengan berbagai aksi serobot menyerobot antara banyak pihak termasuk para petingginya. Sebuah amanah suci yang kupanggul di atas pundakku menjadi alasanku untuk bergabung di dalam perusahaan ini. Maka meskipun aku sempat diberi keleluasaan untuk memilih jabatan yang tersedia, aku hanya menyerahkan keputusannya pada papa pimpinan perusahaan karena buatku yang terpenting adalah aku bisa ikut mensukseskan usaha apapun yang dijalankannya. Hal inilah yang membuatku bergairah dalam menyambut hari pertamaku di perusahaan ini. Namun kecemasan itu juga hadir mengingat selama ini aku tidak pernah merasa terikat pada peraturan yang aku berlakukan sendiri. Dan kalaupun aku merasa ada peraturan yang memberatkan, dengan mudah aku ubah dan sesuaikannya dengan keinginanku.

Ketika aku tiba di tempat kerja baruku, baru ada seorang karyawan lain yang sudah aku kenal sebelumnya. Ruang kantor ini tidak besar sehingga hanya satu orang saja yang mendapatkan ruangan pribadi sementara aku sendiri ditempatkan dalam cubicle yang bisa memuat 4 karyawan yang 2 diantaranya duduk membelakangi 2 orang lainnya. Terbatasnya privacy buatku mungkin akan menuntut beberapa saat buatku untuk menyesuaikan diri termasuk dalam hal berbicara di telpon atau penggunaan komputer, namun aku sadar bahwa posisiku memang menuntut lebih banyak keseriusan dalam menjalankan tugas-tugasku yang memang sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup perusahaan yang baru saja mengalami perombakan signifikan dalam struktur organisasinya. Jadi memang aku kini berada dalam lingkungan yang terbilang "kaku" buat ukuran orang sepertiku.

Meski begitu, hari pertamaku berjalan cukup santai mengingat kami masih berada dalam suasana orientasi pada sesama pegawai dan penataan tempat kerja. Lagipula memang belum semua posisi jabatan komplit terisi sehingga materi pekerjaan juga belum sepenuhnya dibagikan. Asupan dari presiden komisarispun juga cenderung ringan yang intinya mengingatkan tentang kekompakan dalam kinerja semua karyawan. Aku dan para pekerja lainnya masih perlu menyesuaikan diri dengan segala ketetapan yg diterbitkan oleh pihak pengelola gedung yang tidak aku berlakukan dalam perusahaan yang aku pimpin sebelumnya. Dan di penghujung jam kerjaku, aku masih merasa canggung menerima kenyataan bahwa aku memang tidak diperkenankan berlama-lama berada di areal gedung yang memberlakukan batasan pemakaian listrik termasuk jam pemadaman lampu dan pendingin ruangan.

Disaat banyak orang yang kesal sambil menggerutu atau mengeluh atas kemacetan yang menjebaknya selama berjam-jam menuju tempat tinggalnya, aku justru tersenyum sendiri mencoba menikmati hal yang tidak biasanya aku temui karena selama ini aku bisa memilih sendiri waktu yang tepat untuk meninggalkan tempat kerjaku dan terhindar dari kepadatan jalan yang harus aku lalui. Paling tidak, perjalanan yang mungkin membosankan buatku kelak nanti saat itu menjadi suatu petualangan baru buatku. Aku mungkin kelak bisa ikut mengeluh atau tetap tersenyum menerimanya dengan ikhlas. Bagaimanapun juga aku menyikapinya, aku sadar bahwa semua adalah romantika kehidupanku yang tak mungkin aku prediksi sebelumnya. Alhamdulillah.....



Monday, October 14, 2013

Trauma

Biasanya daya ingat seorang anak kecil lebih tajam dari orang dewasa, apalagi orang dewasa seumurku. Kalau aku masih bisa mengingat dengan jelas peristiwa mengenaskan sekitar setahun silam tatkala aku dan anak sulungku kena seruduk sapi lepas dalam acara sembelih qurban, tentunya anakku itu lebih tidak mungkin lagi melupakannya. Bahkan hal ini seolah masih memberinya rasa ngeri yang besar sehingga ia menolak untuk ikut hadir menyaksikan pemotongan hewan qurban kami besok. Rasa sakit yang begitu hebat yang dideritanya ketika itu telah membuatnya trauma dan takut jika kejadian seperti itu terulang lagi.

Aku mengerti betul posisinya dan suara hatinya, namun aku juga tidak ingin ia dikalahkan begitu saja oleh rasa takut yang harusnya justru bisa ditaklukannya. Apalagi aku sudah terlanjur menggunakan namanya sebagai pemilik hewan yang siap aku qurbankan besok. Aku mengatakan padanya bahwa segala yang terjadi, baik atau buruk, adalah ketentuan Illahi yang tidak mungkin dihindari bila sudah menjadi suratannya. Bahwa semua merupakan misteri itulah yang kemudian memberikan kita tantangan untuk siap menghadapi yang terburuk dan menggunakan akal logika kita dalam memecahkan berbagai masalah yang kita temui.

Jika aku biarkan trauma menghantuiku, aku tentu telah lama tidak mengendarai motor sejak aku terjatuh hanya karena aku bercanda dengan kakakku kemudian hilang keseimbangan. Atau setelah terjatuh karena menghindari adik kelas adikku yang menyebrang jalan sembarangan sehingga membuatku dirawat di rumah sakit selama 2 minggu karena mukaku terseret di atas aspal sejauh 5 meter. Memang, jika aku saat dulu langsung menyerah dan memutuskan untuk tidak mengendarai motor lagi, mungkin saja aku tidak akan pernah mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkan tulang keringku patah sehingga perlu dioperasi dan disambung dengan sebuah plat besi dan 12 pin selama setahun. Tapi aku menganggap kecelakaan itu sudah menjadi milikku untuk aku alami, sehingga semua yang telah berlaku diatur sedemikian rupa sampai aku harus mengalaminya.

Ada kekhawatiran dalam diri anakku akan terulangnya kembali peristiwa naas yang dialaminya tahun kemarin. Tapi ia harus menyadari bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang mudah terjadi dan bukan peristiwa yang akan membatasinya dalam menjalani hari-harinya. Meski hal serupa mungkin saja masih bisa terjadi lagi dengan skema yang jauh berbeda, bukanlah berarti ia tidak bisa menempatkan dirinya di posisi yang dianggapnya aman. Dan satu hal yang pasti, keikhlasannya tentu akan membuatnya tenang dan percaya bahwa apa yang terjadi padanya adalah apa yang telah ditakdirkan olehNya untuk dirinya. Aku cukup meyakinkannya bahwa apapun yang terjadi, segala konsekuensinya menjadi berkah untuknya di saat ia telah sepenuhnya siap menerima apapun dengan keikhlasan penuhnya.

Aku berpesan pada kedua putraku agar mereka tidak membiarkan diri mereka dihantui rasa trauma karena rasa itu hanyalah simbol dari keraguan dan ketakutan kita pada seusatu yang tidak absolut sifatnya. Kalau mereka tidak ingin melakukan sesuatu karena mereka memang tidak suka melakukannya, dalam arti suatu hal yang tidak bermanfaat, maka mereka boleh saja menghindarinya. Namun aku juga menghimbau mereka untuk melakukan hal-hal yang berguna meskipun mereka mungkin tidak menikmatinya. Aku hanya tidak ingin mereka melewatkan apa yang mungkin, secara tidak langsung, bisa memberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam hidup mereka kelak.



Monday, September 23, 2013

Kembali

Pada akhirnya, engkau akan melihat sendiri sekokoh apa pilar yang selama ini kau anggap kuat untuk menopang atap yang menaungimu. Mungkin kau sudah muak dengan apa yang telah kulontarkan meski dibalik itu hanya ada itikad baik. Mungkin juga himbauan dari orang-orang lain yang hanya terdengar sebagai cemoohan olehmu sudah membuatmu menutup telinga rapat-rapat. Tapi apakah kau tidak ingin menelaah lebih jauh tentang apa yang dibisikkan bahkan diteriakkan ke telinganmu dengan kepositifanmu? Tidakkah kau menganggap kau, sebagai manusia yang layak berbuat salah, perlu juga mendapat asupan yang bisa membuatmu lebih baik?

Aku bukan ingin mengajarimu karena aku merasa paling benar. Aku hanya ingin berbagi denganmu apa yang selama ini aku anggap benar. Itu artinya, akupun bisa salah dan kau bisa menjadi orang yang membuatku menyadari kesalahanku lalu memberiku kesempatan untuk memperbaikinya. Dan sebagai manusia biasa, akupun bisa mengulangi kesalahan yang sama ketika aku tau aku memang seorang "slow learner". Tapi bila hal itu kemudian membuatmu menutup diri maka aku akan seterusnya berdiri di tempat yang salah. Ilmu tinggi-mu itu mungkin akan terus membuatmu melihatku di bawah sementara aku akan terus melihat ke semua arah untuk mencari tau dimana kau berdiri.

Bungkamku bukan berarti aku kecewa, tapi karena aku tidak ingin mengusik ketenangan atau kegundahan hatimu karena selama hatimu masih merasa terancam aku tidak bisa menemukan cara lain yang mungkin dapat menyejukannya. Aku tidak mungkin lagi mencoba membuatmu tersenyum dan tertawa jika itu berarti kau terpaksa mengabaikan pembelajaran yang bermanfaat buat kita. Aku hanya bisa terdiam sambil menunggu awan mendungmu berlalu ketika kembali bersedia menyapaku dengan ketulusan hatimu karena aku kau anggap sebagai orang yang berarti buat hidupmu. Aku lebih suka kau merangkulku kembali di bawah sinar matahari yang terang tapi tetap menyejukan tanpa perlu aku memohon.



Saturday, September 21, 2013

Bersih dan Aman

Sejak kecil aku memang dididik dengan cara yang terbilang ketat dalam hal kebersihan oleh kedua orangtuaku. Mungkin pada awalnya aku sempat merasa berat dalam mematuhi semua aturan yang diterapkan di dalam keluarga ayahku, aku tidak ingat, tapi yang kuingat hanyalah selama puluhan tahun sebelum aku punya anak, tidak satupun aturan kesehatan yang diberlakukan padaku itu terasa memberatkan. Mungkin saja karena setelah sekian lama digenjot dan dipaksa, aku jadi terbiasa hingga tidak lagi merasa terbebani. Lagipula aku juga tidak merasakan kerugian yang berarti setelah aku beradaptasi dengan semua aturan itu.

Aku baru mengerti sepenuhnya akan pentingnya aturan-aturan kesehatan itu diterapkan justru setelah aku menjadi orang tua. Aku jadi bisa melihat dengan lebih jelas bagaimana bermanfaatnya segala aturan itu bagiku dahulu sebagai seorang anak lelaki setelah aku punya tanggung jawab atas 2 anak lelaki ku sendiri. Bagaimana tidak? Tidak seperti anak perempuan umumnya yang lebih memilih aktifitas yang kalem, sifat ketidakacuhan dan ingin seenaknya yang ada dalam diri mereka yang tentunya juga aku miliki dulu cenderung mengarah ke pengabaian atas kebersihan dan aspek higienis. Dari mulai yang masih di lingkungan rumah seperti bermain di lantai dan teras rumah hingga di luar rumah seperti memegang bola yang telah bergulir kemana-mana termasuk masuk ke gorong-gorong sampai bergulingan di lapangan umum atau sekolah.

Sering sekali himbauanku pada mereka untuk mencuci kaki dan tangannya bahkan mandi seusai bermain mendapat respon yang mencerminkan kemalasan atau keengganan sehingga aku merasa perlu untuk menjadikannya sebagai paksaan. Semua itu tidak lain didasari oleh kepedulianku terhadap kesehatan mereka sendiri. Aku tidak mungkin membiarkan kuman dan bakteri yang terkandung dalam kotoran dan debu mengancam kesehatan mereka melalui makanan atau karena mereka mengucek matanya dengan tangan kotornya. Aku juga tidak ingin kuman dan bakteri itu tersebar di tempat duduk atau tempat tidur mereka yang harusnya menjadi tempat yang higienis dan aman buat kesehatan mereka.

Mungkin saja mereka kemudian dicap ribet oleh teman-temannya seperti halnya aku dulu. Mungkin saja mereka menganggapku kolot seperti bagaimana aku mungkin pernah menganggap orangtuaku dulu. Mungkin juga mereka lalu menyimpan rasa kekesalan padaku di balik kepatuhan mereka terhadap aturan yang kuterapkan pada mereka. Yang jelas, apa yang aku lakukan bukanlah upaya balasdendam sebagai pelampiasan kekesalanku dulu tapi murni karena sebagai orang tua, aku wajib mengajarkan pola hidup bersih kepada anak-anakku dan menjaga kesehatan mereka. Mulai dari mana lagi mereka harus belajar kalau bukan dari rumahnya sendiri?