Monday, April 28, 2014
Menyiasati Ujian
Setelah dihadapi dengan berbagai masalah, akhirnya Sabtu kemarin tereksekusikan juga rencana yang aku buat bersama adik bungsuku sejak hampir setengah tahun yang lalu. Bisnis penjualan t-shirt sekolah almamater yang memang dirancang untuk dimulai lewat event tahunan Alumni Day kemarin akhirnya dilaksanakan juga dengan taruhan investasi moril dan materil.
Ide bisnis ini tercetus berdasarkan desain-desain kaos yang dipasarkan oleh pihak perhimpunan alumni tahun lalu yang menurut kami sangat standar. Kami yang punya latarbelakang pendidikan arsitektur yang berbasis seni menganggap penjualan kaos akan lebih baik dengan desain yang lebih baik pula, sehingga kami lalu memutuskan untuk merancang model dan grafis sendiri dan mencoba ikut memasarkannya di ajang tahun ini.
Rencana ini rupanya tidak bisa begitu saja direalisasikan karena dari awal kami sudah terbentur dengan masalah finansial. Baik aku maupun adikku, harus mencari sumber pendanaan lain ketika ada kemacetan dalam pencairan dana dari sumber dana yang awalnya kami andalkan. Kami harus mencari dan bahkan mengalihkan sebagian dana yang kami miliki untuk keperluan bisnis ini. Itupun akhirnya kami hanya berhasil menghimpun setengah dari budget awal yang kami butuhkan. Hal ini sempat menguatkan kekhawatiran adikku yang didasari oleh pengalamannya dalam gagal di berbagai usaha yang pernah digelutinya. Namun aku juga terus menerus meyakinkannya bahwa hal itu tidak akan selamanya terjadi.
Sebelumnya, aku sendiri sudah menemui masalah dalam membuka kontak dengan ketua perhimpunan alumni ini yang tampak cenderung menghindariku. Aku sempat menduga bahwa ia punya rencana tersendiri atas penjualan kaos oleh pihak perhimpunan yang dikhawatirkan terganggu oleh rencana kami. Bahkan hingga hari ini, setelah semua terlaksana, tidak sekalipun ia berhasil aku hubungi atau mencoba kembali meresponku. Hanya sebuah keputusannya yang akhirnya kami dapatkan namun tidak langsung darinya adalah bahwa tidak satu pihakpun dizinkan menjual kaos almamater kecuali pihak perhimpunan.
Rupanya dua permasalahan di atas tadi justru melahirkan suatu kepastian buat kami bahwa dana yang kami miliki sudah cukup untuk membiayai produksi kaos yang jumlahnya sesuai dengan kondisi konsinyasi dengan pihak perhimpunan. Itupun kami jadikan hal yang positif mengingat pihak perhimpunan akan menyediakan sarana mesin kartu kredit seperti yang terjadi tahun lalu, yang membuka kemungkinan lebih besar atas penjualan lebih banyak ketimbang jika kami sendiri yang melakukannya tanpa sarana tersebut. Hal lain yang sempat membuat kami lega adalah bahwa sistem konsinyasi ini otomatis membebas tugaskan pihak kami dalam turun tangan langsung dalam penjualan yang selayaknya dilakukan oleh para personel yang telah ditunjuk pihak perhimpunan untuk melakukan penjualan. Kami hanya perlu membandingkan jumlah produk yang kami serahkan dan kami terima kembali di penghujung acara dalam mendapatkan hitungan dana yang masuk dan yang harus dibagi kepada pihak perhimpunan.
Keputusan demi keputusan yang diterbitkan secara sangat lambat baik oleh pihak perhimpunan maupun pihak panitia ini membuat pergerakan produksi kami terhambat. Dan ketika waktu sudah kian sempit, kami harus menerima fakta bahwa ada kesalahan disana sini dalam produksi pemesanan kami yang tidak mungkin lagi mengalami revisi dari pihak produser. Apa yang kemudian kami lakukan di hari-hari terakhir menjelang hari H adalah menyiasati segala ketimpangan yang disebabkan oleh kesalahan produksi tersebut, termasuk memotong label ukuran yang salah dan menggantikannya dengan stiker yang bertuliskan ukuran yang benar, yang kami kerjakan hingga tengah malam sebelum event berlangsung. Pengiriman setengah dari jumlah kaos yang diproduksi di pabrik kami di Jawa Tengah juga hanya terpaksa mengalami keterlambatan hingga lebih kurang satu jam setelah acara dibuka.
Tidak seperti tahun sebelumnya, penjualan kaos oleh perhimpunan ini dilakukan di dua titik. Awalnya aku sempat mengira penambahan titik penjualan ini didasari oleh jumlah kaos yang disediakan pihak perhimpunan mengalami peningkatan dua kali lipat seperti yang pernah diutarakan ketua perhimpunan. Desain yang adapun diperbanyak mengingat ia begitu yakin penjualan kali ini bisa menggandakan jumlah tahun lalu yang mencapai hampir seribu kaos. Lucunya, pada saat kami hendak mengurus legalitas kerjasama dengan pihak perhimpunan, mereka dengan mudahnya mempersilahkan kami melakukan sendiri penjualan kaos kami dengan catatan bahwa konsinyasi dibatalkan. Alasannya klasik saja....mereka sudah terlalu sibuk mengurus hal lain sehingga tidak ingin dipusingkan dengan hal ini. Lho?
Maka sejauh itu, kami hanya ingin lebih melihat momen ini sebagai blessing in disguise dimana berapapun profit yang akan kami dapatkan tidak akan lagi terpotong royalti buat pihak perhimpunan. Namun dibalik ini semua justru ada hal lain yang terselubung. Ruangan yang disediakan untuk kami justru terpisah jauh dari tempat dimana kaos perhimpunan dijual. Kami mendapat ruangan yang letaknya di bagian belakang sekolah yang disekitarnya tidak ada kegiatan apapun. Tempat ini adalah satu-satunya tempat penjualan kaos alumni oleh pihak perhimpunan yang berseberangan dengan aula tempat diadakannya bursa tenaga kerja di tahun sebelumnya. Tahun ini, mereka menempatkannya di bagian depan di satu sisi lapangan sepak bola dimana beberapa pertandingan diadakan.
Ruangan tempat kami berjualan hanya di tempati oleh satu pihak lainnya yang juga menjual kaos almamater. Tempat yang diset seperti tahun lalu, dimana belasan desain kaos bisa dipaparkan di atas belasan jajaran meja hanya terisi oleh dua pihak penjual dengan total lima desain kaos. Ironisnya, beberapa personel panitia justru kaget melihat keberadaan kami disitu dan sepinya gelombang pengunjung yang datang, seolah mereka tidak tau menau tentang penggunaan ruangan tersebut. Mereka juga lalu menganjurkan kami untuk pindah bergabung dengan penjualan kaos yang dilakukan pihak perhimpunan di ruangan depan. Suatu anjuran yang bagus hanya jika hal itu dapat terlaksana. Nyatanya, di ruang depan itu settingan meja yang disediakan tidak mencapai setengah dari ukuran ruangan, sehingga tidak mungkin buat kami untuk seenaknya hijrah tanpa harus memaksa pihak lain bergeser mengurangi jatah lapak yang menjadi haknya.
Kepindahan kami akhirnya memang terlaksana setelah beberapa pihak yang ada di ruangan depan sudah mulai bersiap-siap menutup penjualannya di penghujung acara yang akhirnya usai jauh lebih awal dari tahun sebelumnya. Meski terbilang sepi pengunjung, kepindahan kami ini sempat mendatangkan pembeli dua buah kaos kami. Lagi-lagi sebuah berkah yang pantas disyukuri sehingga penjualan kami mencapai tiga puluh dua buah dari empat ratus kaos yang kami siapkan. Kami juga sempat siap memberi diskon besar di penghujung acara namun hal itu rupanya tidak lagi menarik sisa pengunjung yang tinggal sedikit karena pementasan grup sehebat Colors band yang dijadikan puncak acara tidak menghentikan penonton yang beranjak meninggalkan acara sebelum penampilannya dimulai.
Overall, istilah flop memang pantas diberikan kepada penjualan kami hari itu. Namun untuk sebuah event besar yang terbilang sepi pengunjung dan harus tuntas jauh lebih awal dari tahun sebelumnya, apalagi dengan segala jegalan yang pantas dinamai hingga sebagai faktor X, Y & Z ini, aku bersyukur bisa menempa banyak ilmu dan hikmah dari usaha ini. Paling tidak, ada banyak pembelajaran penting yang bisa aku dapatkan untuk melanjutkan usaha ini di masa depan. Ilmu tentang bagaimana harus menghadapi berbagai pihak yang terkait, tentang bagaimana menyikapi birokrasi yang berbelit, mengelola segala kekurangan hingga mendapatkan solusi dan memandang semuanya dari sisi yang positif. Bagaimanpun juga, ini adalah bagian dari ujian kehidupan. Ujian yang menuntut perjuangan yang hebat dan keikhlasan yang tulus untuk meraih sebuah kesuksesan. Menyiastinya dengan bersabar dan bersyukur sudah sangat cukup untuk mengahdirkan senyum kelegaan di wajahku. Alhamdulillah.
Tuesday, March 11, 2014
Failed Designs
I am an architect. Even though I no longer work in the field, I am still an architect since I studied it and got my degree from a school of architecture. During about 15 years of practice as an architect, I dealt with many clients who insisted to involve whether in the designing process or in the execution of it. I despite that action and had to turn down many projects because of it. It's not like I didn't need the money...I did. But designing buildings means creating arts, and I need freedom to explore my ideas alone.
Now that I don't work as an architect anymore, some may consider me as an unsuccessful one. They can say whatever they want to say about me, but I'm happy that I didn't let clients make me do what they wanted me to do. That, to me, is what I consider an achievement.
And as I continue admiring designs created by great architects without involvement of their clients, I can always smile, looking at the products that may be the results of their designers' lack of commitment to art.
Thursday, January 9, 2014
Tuesday, January 7, 2014
The Unknown B.W
Ada beberapa kenalan dari stus-situs media sosial yang ternyata punya bakat seni yang tidak dijalani secara profesional. Dalam keluangan waktunya, mereka kadang mempublikasikan karya-karyanya tanpa mengharapkan komen apapun apalagi peluang untuk menjadi orang terkenal. Ada yang trampil dalam membuat sketsa dan lukisan, ada yang puitis, dan adapula yang cakap dalam bidang musik. Hasrat ingin berbagi sajalah yang melatarbelakangi postingan mereka itu.
Salah satunya, sebut saja namanya Hitam Putih (karena akupun tidak tau apakah nama yang ia gunakan di situs seberang sana itu nama aslinya atau bukan), sempat menampilkan beberapa corat coretannya yang diakuinya dilakukan sebagai pembunuh waktu nganggurnya. Biasanya, ia memulai karya dari sekedar menggunakan bolpen atau pinsil di atas kertas biasa. Namun karena ia juga sering menggunakan komputer, setelah karyanya itu discan, ia terus menyelesaikannya dengan komputer atau gadget lainnya. Umumnya penyelesaian dengan penggunaan teknologi ini dilakukan dalam pewarnaan.
Hanya dua yang aku tampilkan di sini karena aku juga tidak ingin terlalu mengekspos semua karyanya mengingat ia menganggap bahwa apa yang dibuatnya belum layak dilihat banyak orang. Mungkin suatu hari nanti, aku bisa membuat suatu pameran sketsa dan lukisan yang dibuatnya, dan/atau kenalanku yang lainnya.
So, Hitam Putih, wherever you are, you know I'm talking about you and thank you for letting me use these pictures to make my site more cheerful.
Salah satunya, sebut saja namanya Hitam Putih (karena akupun tidak tau apakah nama yang ia gunakan di situs seberang sana itu nama aslinya atau bukan), sempat menampilkan beberapa corat coretannya yang diakuinya dilakukan sebagai pembunuh waktu nganggurnya. Biasanya, ia memulai karya dari sekedar menggunakan bolpen atau pinsil di atas kertas biasa. Namun karena ia juga sering menggunakan komputer, setelah karyanya itu discan, ia terus menyelesaikannya dengan komputer atau gadget lainnya. Umumnya penyelesaian dengan penggunaan teknologi ini dilakukan dalam pewarnaan.
Hanya dua yang aku tampilkan di sini karena aku juga tidak ingin terlalu mengekspos semua karyanya mengingat ia menganggap bahwa apa yang dibuatnya belum layak dilihat banyak orang. Mungkin suatu hari nanti, aku bisa membuat suatu pameran sketsa dan lukisan yang dibuatnya, dan/atau kenalanku yang lainnya.
So, Hitam Putih, wherever you are, you know I'm talking about you and thank you for letting me use these pictures to make my site more cheerful.
Saturday, January 4, 2014
Pembelajaran
Suatu sore, sekitar 3 tahun yang lalu, aku menerima sebuah pesan singkat yang terkirim dari nomor telpon yang tidak kukenal. Isi pesannya sangat mirip sekali dengan tipikal spam yang biasanya diramu seolah berasal dari kenalan yang minta diisikan pulsa. Pesan seperti ini mungkin bisa sekali tiap dua minggu aku terima dari nomor-nomor asing, sehingga aku hampir saja mengabaikan dan langsung menghapus pesan yang aku terima sore itu. Namun ketika aku menyadari namaku disebut di dalamnya, aku mulai mempertanyakan identitas si pengirim dengan membalas pesan itu. Ternyata ia adalah kenalan dekat yang pernah berbisnis denganku beberapa tahun sebelumnya. Ia juga orang yang berjasa mengenalkan dan mengajari aku tentang penggunaan photoshop yang kemudian menjadi salah satu program andalan dalam menjalankan bisnisku.
Nilai pulsa yang dimintanya memang cukup besar hingga seratus ribu, nominal yang tidak pernah aku beli kecuali untuk pembelian paket internetan, apalagi ketika nilai sebesar itu harus aku belikan untuk orang lain. Tidak ada yang istimewa dari permintaannya kecuali permohonan yang bernada memelas tanpa memberi alasan jelas untuk apa ia membutuhkan pulsa sebanyak itu. Berhubung dana yang kumiliki juga tidak seberapa, aku tawarkan setengah dari jumlah yang dimintanya, yang langsung disetujuinya. Serta merta aku belikan pulsa untuknya dengan menggunakan internet banking karena saat itu aku harus segera pergi meninggalkan tempat kerjaku sehingga aku tidak akan mungkin lagi melakukan transaksi keuangan untuk beberapa saat. Pesan singkat mengenai pengiriman pulsa itupun aku kirimkan padanya sebelum aku pergi.
Di tengah perjalanan, ia mencoba menghubungi aku lagi untuk beberapa kali karena kondisiku tidak memungkinkanku menjawab panggilan telponnya. Lagipula aku merasa tidaklah perlu menjawab panggilan telpon itu jika ia hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Sesampainya aku di tempat tujuan, aku langsung menjawab telpon darinya yang masih juga menghubungiku. Kali ini, ia justru memintaku untuk kembali membelikannya pulsa sebesar lima ratus ribu rupiah. Hah?! Bukankah tadi sudah jelas aku informasikan bahwa seratus ribupun aku tak mampu, mengapa sekarang jumlahnya lebih besar lagi? Lima kali lipat pula jumlahnya. Pertanyaan itu diresponnya dengan nada yang sedikit keras dengan dalih bahwa ia sedang menghadapi masalah yang sulit. Entah apa yang dilakukannya sehingga ia, seperti yang diakuinya, tengah berurusan dengan pihak berwajib di kantor polisi.
Ketika aku mencoba menjelaskan lagi kondisiku, ia malah mulai berbicara dengan nada tinggi. Semakin aku mencoba membuatnya mengerti, semakin kasar pula bahasa yang digunakannya dan semakin aku kehilangan simpatiku padanya. Permohonannya berubah menjadi makian dengan kata-kata yang kasar hingga kotor. Belum lagi tuduhan bahwa aku tidak punya belas kasihan dan keinginan untuk menolongnya...salah satu tabiat yang aku benci dari orang yang pernah aku bantu. Ia juga sempat mengancam akan menterorku kelak nanti bila kesempatan itu datang. Di posisi seperti inilah aku menyadari kalau orang yang tengah aku hadapi bagaikan bukan dirinya yang kukenal. Seribu pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dihadapinya memenuhi benakku, namun aku tidak merasa perlu mendapatkan jawabannya saat kekalapannya telah menguasainya seluruh dirinya.
Dua tahun sebelumnya, ketika aku baru saja dipaksa melepas hak kepemilikanku atas usaha jasa percetakan oleh mitra kerjaku, aku mencoba mencari jalan untuk memutar dana yang aku dapatkan sebagai kompensasi atas pelepasan sahamku itu kepada beberapa teman termasuk seseorang yang saat itu masih secara rutin bekerja sama dengan bekas perusahaan percetakaanku. Ia adalah wiraswastawan kecil yang dulunya sering menawarkan usaha kerjasama di luar urusan perusahaan dengan konsep aku yang memodali calon proyek-proyek kecil di bidang pengkomplitan barang cetakan yang dilakukannya untuk perusahaan lain. Hal seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan dengan hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Karena saat itu ia sedang tidak ada proyek, maka ia berjanji akan menghubungiku jika ada peluang lagi.
Sekitar tiga bulan kemudian, ia mengontakku dan menagih janjiku atas dana yang pernah aku tawarkan. Jumlah terbilang sedang, namun ada dua faktor yang memberatkanku. Pertama, dana yang dulu kumiliki kini telah terpakai untuk usaha lain yang telah kumulai, dan kedua adalah bahwa ternyata dana yang dibutuhkannya itu bukan untuk suatu proyek tapi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Dengan kata lain, yang ia ajukan adalah proposal peminjaman dana untuk keperluan pribadinya. Aku sempat iba dengan kondisi keuangannya yang seret sementara tuntutan pendidikan anaknya begitu menjepitnya. Namun aku jadi kaget mendengar apa yang dikatakannya padaku setelah aku menyampaikan kesediaanku untuk memberinya sepertiga dari jumlah yang diharapkannya.
Alasan bahwa dana yang kumiliki memang sudah tidak tersedia sebanyak itu tidak menahannya untuk mencaci makiku. Ia menuduhku sebagai orang yang riya', menyombongkan kekayaan yang kumiliki sekaligus memberikan harapan kosong padanya dengan memberikan janji palsu. Lhoh...janji palsu gimana? Riya' gimana? Bukankah dana yang pernah jadi pembahasan itu aku siapkan untuk suatu kolaborasi bisnis yang sifatnya win/win? Apakah gagasan untuk menjalankan usaha bersama karena aku sedang punya dana membuatku riya'? Lagipula kami toch tidak pernah membuat perjanjian kalau dana pasti selalu tersedia untuknya? Kalaupun dana yang ia minta memang untuk suatu usaha, bagaimana kalau ia datangnya satu tahun kemudian? Apakah aku akan tetap dianggap tidak menepati janji?
Intinya, ia tengah berada di ujung tanduk. Di satu pihak ada keperluan sekolah anak-anaknya yang sangat mendesak yang harus dipenuhinya, di lain pihak bisnis yang digelutinya sedang lesu sehingga income-nya sedikit. Tapi apa iya situasi seperti ini lalu memberinya hak untuk melemparkan tuduhan-tuduhan seperti itu kepadaku? Aku mengenalnya sebagai orang yang taat beragama, dan hal itu pulalah yang mendasari minatku untuk berbisnis dengannya. Namun jika ketaatannya itu lalu melahirkan penilaian riya' padaku, aku jadi enggan sekali untuk berurusan dengannya. Ia juga sempat melontarkan mencap aku sebagai orang yang tidak punya belas kasihan sehingga tidak mau membantunya. Maka setelah gagal memberinya pemahaman tentang maksud awalku, aku sudahi saja pembicaraanku dengannya saat itu.
Hingga saat ini, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan kedua orang ini, meskipun ia telah beberapa kali mereka mencoba menelponku atau sekedar menyapa lewat nomor-nomor telpon yang aku kenali. Aku tidak tau apa yang akan diucapkannya...kekesalan, kemarahan atau justru penyesalan. Namun aku sudah terlanjur kesal dengan yang mereka lakukan dulu, apapun alasan yang melatarbelakanginya. Buatku, lebih baik menghindari konflik yang masih mungkin terulang daripada gambling merespon mereka untuk mencari tau mengapa mereka mencoba menghubungiku lagi setelah apa yang mereka lakukan.
Dan ketika aku ceritakan hal ini pada orang lain, ada yang menganjurkan agar aku merespon mereka dengan niat yang baik, untuk menjaga hubungan silaturahim dengan mengasumsikan bahwa niat mereka pun baik. Tapi aku cenderung bertahan pada keputusanku sekedar untuk mengusung prinsip yang kumiliki....baik itu dianggap orang lain benar atau salah.
Yaaah...anggap saja aku mencoba belajar dari pengalaman...
Nilai pulsa yang dimintanya memang cukup besar hingga seratus ribu, nominal yang tidak pernah aku beli kecuali untuk pembelian paket internetan, apalagi ketika nilai sebesar itu harus aku belikan untuk orang lain. Tidak ada yang istimewa dari permintaannya kecuali permohonan yang bernada memelas tanpa memberi alasan jelas untuk apa ia membutuhkan pulsa sebanyak itu. Berhubung dana yang kumiliki juga tidak seberapa, aku tawarkan setengah dari jumlah yang dimintanya, yang langsung disetujuinya. Serta merta aku belikan pulsa untuknya dengan menggunakan internet banking karena saat itu aku harus segera pergi meninggalkan tempat kerjaku sehingga aku tidak akan mungkin lagi melakukan transaksi keuangan untuk beberapa saat. Pesan singkat mengenai pengiriman pulsa itupun aku kirimkan padanya sebelum aku pergi.
Di tengah perjalanan, ia mencoba menghubungi aku lagi untuk beberapa kali karena kondisiku tidak memungkinkanku menjawab panggilan telponnya. Lagipula aku merasa tidaklah perlu menjawab panggilan telpon itu jika ia hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Sesampainya aku di tempat tujuan, aku langsung menjawab telpon darinya yang masih juga menghubungiku. Kali ini, ia justru memintaku untuk kembali membelikannya pulsa sebesar lima ratus ribu rupiah. Hah?! Bukankah tadi sudah jelas aku informasikan bahwa seratus ribupun aku tak mampu, mengapa sekarang jumlahnya lebih besar lagi? Lima kali lipat pula jumlahnya. Pertanyaan itu diresponnya dengan nada yang sedikit keras dengan dalih bahwa ia sedang menghadapi masalah yang sulit. Entah apa yang dilakukannya sehingga ia, seperti yang diakuinya, tengah berurusan dengan pihak berwajib di kantor polisi.
Ketika aku mencoba menjelaskan lagi kondisiku, ia malah mulai berbicara dengan nada tinggi. Semakin aku mencoba membuatnya mengerti, semakin kasar pula bahasa yang digunakannya dan semakin aku kehilangan simpatiku padanya. Permohonannya berubah menjadi makian dengan kata-kata yang kasar hingga kotor. Belum lagi tuduhan bahwa aku tidak punya belas kasihan dan keinginan untuk menolongnya...salah satu tabiat yang aku benci dari orang yang pernah aku bantu. Ia juga sempat mengancam akan menterorku kelak nanti bila kesempatan itu datang. Di posisi seperti inilah aku menyadari kalau orang yang tengah aku hadapi bagaikan bukan dirinya yang kukenal. Seribu pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dihadapinya memenuhi benakku, namun aku tidak merasa perlu mendapatkan jawabannya saat kekalapannya telah menguasainya seluruh dirinya.
Dua tahun sebelumnya, ketika aku baru saja dipaksa melepas hak kepemilikanku atas usaha jasa percetakan oleh mitra kerjaku, aku mencoba mencari jalan untuk memutar dana yang aku dapatkan sebagai kompensasi atas pelepasan sahamku itu kepada beberapa teman termasuk seseorang yang saat itu masih secara rutin bekerja sama dengan bekas perusahaan percetakaanku. Ia adalah wiraswastawan kecil yang dulunya sering menawarkan usaha kerjasama di luar urusan perusahaan dengan konsep aku yang memodali calon proyek-proyek kecil di bidang pengkomplitan barang cetakan yang dilakukannya untuk perusahaan lain. Hal seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan dengan hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Karena saat itu ia sedang tidak ada proyek, maka ia berjanji akan menghubungiku jika ada peluang lagi.
Sekitar tiga bulan kemudian, ia mengontakku dan menagih janjiku atas dana yang pernah aku tawarkan. Jumlah terbilang sedang, namun ada dua faktor yang memberatkanku. Pertama, dana yang dulu kumiliki kini telah terpakai untuk usaha lain yang telah kumulai, dan kedua adalah bahwa ternyata dana yang dibutuhkannya itu bukan untuk suatu proyek tapi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Dengan kata lain, yang ia ajukan adalah proposal peminjaman dana untuk keperluan pribadinya. Aku sempat iba dengan kondisi keuangannya yang seret sementara tuntutan pendidikan anaknya begitu menjepitnya. Namun aku jadi kaget mendengar apa yang dikatakannya padaku setelah aku menyampaikan kesediaanku untuk memberinya sepertiga dari jumlah yang diharapkannya.
Alasan bahwa dana yang kumiliki memang sudah tidak tersedia sebanyak itu tidak menahannya untuk mencaci makiku. Ia menuduhku sebagai orang yang riya', menyombongkan kekayaan yang kumiliki sekaligus memberikan harapan kosong padanya dengan memberikan janji palsu. Lhoh...janji palsu gimana? Riya' gimana? Bukankah dana yang pernah jadi pembahasan itu aku siapkan untuk suatu kolaborasi bisnis yang sifatnya win/win? Apakah gagasan untuk menjalankan usaha bersama karena aku sedang punya dana membuatku riya'? Lagipula kami toch tidak pernah membuat perjanjian kalau dana pasti selalu tersedia untuknya? Kalaupun dana yang ia minta memang untuk suatu usaha, bagaimana kalau ia datangnya satu tahun kemudian? Apakah aku akan tetap dianggap tidak menepati janji?
Intinya, ia tengah berada di ujung tanduk. Di satu pihak ada keperluan sekolah anak-anaknya yang sangat mendesak yang harus dipenuhinya, di lain pihak bisnis yang digelutinya sedang lesu sehingga income-nya sedikit. Tapi apa iya situasi seperti ini lalu memberinya hak untuk melemparkan tuduhan-tuduhan seperti itu kepadaku? Aku mengenalnya sebagai orang yang taat beragama, dan hal itu pulalah yang mendasari minatku untuk berbisnis dengannya. Namun jika ketaatannya itu lalu melahirkan penilaian riya' padaku, aku jadi enggan sekali untuk berurusan dengannya. Ia juga sempat melontarkan mencap aku sebagai orang yang tidak punya belas kasihan sehingga tidak mau membantunya. Maka setelah gagal memberinya pemahaman tentang maksud awalku, aku sudahi saja pembicaraanku dengannya saat itu.
Hingga saat ini, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan kedua orang ini, meskipun ia telah beberapa kali mereka mencoba menelponku atau sekedar menyapa lewat nomor-nomor telpon yang aku kenali. Aku tidak tau apa yang akan diucapkannya...kekesalan, kemarahan atau justru penyesalan. Namun aku sudah terlanjur kesal dengan yang mereka lakukan dulu, apapun alasan yang melatarbelakanginya. Buatku, lebih baik menghindari konflik yang masih mungkin terulang daripada gambling merespon mereka untuk mencari tau mengapa mereka mencoba menghubungiku lagi setelah apa yang mereka lakukan.
Dan ketika aku ceritakan hal ini pada orang lain, ada yang menganjurkan agar aku merespon mereka dengan niat yang baik, untuk menjaga hubungan silaturahim dengan mengasumsikan bahwa niat mereka pun baik. Tapi aku cenderung bertahan pada keputusanku sekedar untuk mengusung prinsip yang kumiliki....baik itu dianggap orang lain benar atau salah.
Yaaah...anggap saja aku mencoba belajar dari pengalaman...
Friday, January 3, 2014
Friends Indeed
Sekali lagi aku dihadapkan pada masalah yang bersumber dari kebodohanku sendiri. Bukan hanya kebodohan dalam menentukan nilai tunggakan hutang tanpa memeriksa dengan teliti semua dokumen yang harusnya bisa memberiku informasi terlengkap, namun yang lebih parah adalah bahwa kejadian semacam ini sudah berulang kali kualami. Ini benar-benar bukti bahwa aku seringkali tidak belajar dari pengalaman.
Maka sebagai akibatnya, selain kenyamanan finansial yang telah beberapa bulan terakhir akhirnya dapat aku nikmati tiba-tba sirna dalam sekejap, aku juga dihimpit tenggat waktu dan tanggung jawab yang kemudian menjadi beban yang terasa begitu berat di pundakku. Di satu sisi aku punya tanggung jawab moral berupa janji pada pihak tertentu, di lain sisi aku hanya punya sedikit waktu untuk menepatinya. Dan semua itu menjadi bumerang dari kecerobohanku dalam menyeimbangkan income dengan expenses ku.
Sudah seminggu terakhir ini aku mencoba mencari jalan keluar yang bisa membebaskanku dari ancaman stress. Acapkali aku berdoa dan mengharapkan suatu mukjizat dariNya, namun tidak jarang pula aku seolah lupa ingatan dan mulai memakiNya atas kesialan yang hadir lagi dalam hidupku. Terkadang meskipun aku sependapat dengan nasihat soul mate ku untuk tetap bersabar dan ikhlas menghadapinya, aku masih saja sempat nekad mengeluh saat jalan pikiranku sudah membuntu.
Mungkin aku akan menjalani ini semua dengan tenang jika saja aku (bisa dan mau) bersikap terbuka pada mereka-mereka yang punya urusan langsung dengan masalah yang aku hadapi. Tapi itu memang bukan lah aku. Dari dulu aku punya kecenderungan untuk menjalani hari-hari sulit ku dengan cara bersolo karir. Bedanya, dahulu aku memang tidak perlu memikirkan individu lain selain diriku sendiri, dan itulah yang membuatku lebih siap menerima pukulan hidup yang setelak-telaknya.
Untungnya, kebesaranNya telah dibuktikan dengan menghadirkan segelintir orang-orang yang bisa mengerti dan memaklumi caraku berpikir sehingga bantuan moril maupun materil dari mereka masih bisa aku terima. Memang individu seperti mereka ini tidak mudah dipertahankan kalau saja aku tidak melakukan hal yang sama untuk mereka pada saat keadaan sedang membalik. Entah apakah hal itu pernah terjadi atau tidak, yang jelas bantuan dari mereka ini membuatku sadar bahwa perilakuku pasti sangat menentukan berapa besar atau kecilnya kans untuk lolos dari suatu masalah atas jasa orang lain.
Perjalanan hidup yang telah aku lalui terbilang cukup panjang yang penuh dengan keanekaragaman peristiwa yang bisa memberi pembelajaran penting buatku. Jarak yang masih harus aku tempuh selalu menjadi misteri yang tak seorangpun bisa mengetahuinya. Namun menggandeng dan merangkul orang dengan cara yang bijaksana juga menjadi tuntutan hidup sebagai jaminan mulusnya perjalanan hidupku yang mudah-mudahan masih panjang. Dari jumlah orang yang berada dekat denganku, mungkin hanya sedikit dari mereka yang bisa aku sebut sebagai "teman" yang layak berjalan di depan, di samping ataupun di belakangku.
Maka sebagai akibatnya, selain kenyamanan finansial yang telah beberapa bulan terakhir akhirnya dapat aku nikmati tiba-tba sirna dalam sekejap, aku juga dihimpit tenggat waktu dan tanggung jawab yang kemudian menjadi beban yang terasa begitu berat di pundakku. Di satu sisi aku punya tanggung jawab moral berupa janji pada pihak tertentu, di lain sisi aku hanya punya sedikit waktu untuk menepatinya. Dan semua itu menjadi bumerang dari kecerobohanku dalam menyeimbangkan income dengan expenses ku.
Sudah seminggu terakhir ini aku mencoba mencari jalan keluar yang bisa membebaskanku dari ancaman stress. Acapkali aku berdoa dan mengharapkan suatu mukjizat dariNya, namun tidak jarang pula aku seolah lupa ingatan dan mulai memakiNya atas kesialan yang hadir lagi dalam hidupku. Terkadang meskipun aku sependapat dengan nasihat soul mate ku untuk tetap bersabar dan ikhlas menghadapinya, aku masih saja sempat nekad mengeluh saat jalan pikiranku sudah membuntu.
Mungkin aku akan menjalani ini semua dengan tenang jika saja aku (bisa dan mau) bersikap terbuka pada mereka-mereka yang punya urusan langsung dengan masalah yang aku hadapi. Tapi itu memang bukan lah aku. Dari dulu aku punya kecenderungan untuk menjalani hari-hari sulit ku dengan cara bersolo karir. Bedanya, dahulu aku memang tidak perlu memikirkan individu lain selain diriku sendiri, dan itulah yang membuatku lebih siap menerima pukulan hidup yang setelak-telaknya.
Untungnya, kebesaranNya telah dibuktikan dengan menghadirkan segelintir orang-orang yang bisa mengerti dan memaklumi caraku berpikir sehingga bantuan moril maupun materil dari mereka masih bisa aku terima. Memang individu seperti mereka ini tidak mudah dipertahankan kalau saja aku tidak melakukan hal yang sama untuk mereka pada saat keadaan sedang membalik. Entah apakah hal itu pernah terjadi atau tidak, yang jelas bantuan dari mereka ini membuatku sadar bahwa perilakuku pasti sangat menentukan berapa besar atau kecilnya kans untuk lolos dari suatu masalah atas jasa orang lain.
Perjalanan hidup yang telah aku lalui terbilang cukup panjang yang penuh dengan keanekaragaman peristiwa yang bisa memberi pembelajaran penting buatku. Jarak yang masih harus aku tempuh selalu menjadi misteri yang tak seorangpun bisa mengetahuinya. Namun menggandeng dan merangkul orang dengan cara yang bijaksana juga menjadi tuntutan hidup sebagai jaminan mulusnya perjalanan hidupku yang mudah-mudahan masih panjang. Dari jumlah orang yang berada dekat denganku, mungkin hanya sedikit dari mereka yang bisa aku sebut sebagai "teman" yang layak berjalan di depan, di samping ataupun di belakangku.
Tuesday, December 3, 2013
Sepatu Pembawa Berkah
Mimpi
itu begitu indah ketika aku dipertemukan lagi dengan ayahku. Seperti
semasa hidupnya, aku memang lebih sering bertemu ibuku mengingat
kesibukan ayahku yang begitu hebatnya. Dan meskipun harus diomelin
ayahku, aku selalu menganggap apapun yang dilakukannya kepadaku adalah
suatu tanda kecintaannya padaku dan betapa beliau masih memperhatikanku
disela-sela kepadatan jadwal kerjanya.
Itulah yang terjadi dalam mimpiku semalam ketika aku kena semprot beliau hanya karena ia tidak suka melihat sepatu yang kupakai. Buatnya, kondisi sepatuku berada jauh di bawah standard-nya meskipun terlihat sah-sah saja buatku. Sepatu yang kupakai itu memang tidak sebaik dan semengkilap kembarannya, yang jarang dipakai dan masih tersimpan apik di rumahku, namun (buatku) masih layak pakai. Satu hal yang aku sukai dari sepatu ini adalah sol-nya yang sudah aus sehingga memungkinkanku untuk sering bermain prosot-prosotan di atas lantai.
"Sepatu sudah dekil begitu koq masih dipakai?", kata ayahku emosi.
"Begini koq dekil sih Pap?", aku membela sepatu yang seringkali aku semir untuk menghilangkan kesan kusamnya.
"Khan nggak keliatan karena ketutup celana, Pap"
"Nggak peduli (ini phrase khas dari ayahku). Kalau duduk khan celananya terangkat...khan kliatan jadinya. Nggak punya sepatu lain?"
"Ada sih Pap...persis seperti ini"
"Dekil juga??"
"Ya nggak lah, Pap. Jarang dipakai jadi masih mengkilap koq."
"Kenapa nggak dipakai?"
"Khan buat serep kalau yang ini jebol"
"Pakai saja yang itu. Yang ini dibuang!"
"Nah terus kalau yang itu jebol? Khan jadi nggak ada serepnya."
"Ya beli lagi! Uang begitu banyaknya koq pelit buat beli sepatu?"
Yang aku ingat dari sisa mimpi itu hanyalah bagaimana aku merasa geli mendengar bagian terakhir dari omelannya itu. Beliau memang sama sekali tidak menyebut seberapa kayanya aku atau mengindikasikan dari mana aku mendapatkan begitu banyak uang seperti yang diungkapkannya, namun aku mengakui kebenarannya.
Satu hal lagi yang aku tidak mengerti dari mana asalnya namun jelas terbentuk dalam mindset ku adalah bahwa aku tau pasti beliau mengarahkan aku pada toko-toko sepatu ternama di Amerika yang menjadi tempat langganannya belanja sepatu. Tidak pernah terbayang sebelumnya jika aku akan pernah belanja sepatu di toko-toko itu, namun dalam mimpiku kemungkinan itu jelas dapat terlaksana dengan mudah.
Apakah ini suatu ramalan terselubung atas masa depanku? In shaa Allah begitu. Aamiin.
Yang jelas sepatuku menjadi hal yang membuat mimpiku indah. Sebuah berkah buatku.
Subscribe to:
Posts (Atom)




















