Tuesday, December 23, 2014

Buruk Hingga Ke Tulang

Kemarin aku menonton sebuah film lama yang dibintangi Benyamin dan Hamid Arif. Seperti pada kebanyakan film mereka, karakter Hamid Arif sangat membenci karakter Benyamin hingga ia sempat menyebutnya sebagai Dajjal.
Lalu aku teringat obrolanku sekitar satu dekade lalu dengan seorang mantan housemate ku semasa aku di rantau. Pada masa-masa itu, kami memang seringkali harus melalui banyak kondisi yang memaksa kami mengambil jalan pintas demi bisa lolos dari segala kesulitan hidup. Dan jalan pintas ini memang bukanlah hal terpuji yang pantas ditiru meskipun kami selalu berdalih bahwa apapun yang kami lakukan tidaklah merugikan bangsa dan negara kami.

Temanku yang memang punya banyak teori yang sering sulit diterima oleh orang semacam aku, yang bisa dibilang sudah banyak merasakan pahit dan manisnya hidup, menceritakan bahwa Dajjal itu awalnya hanyalah manusia biasa yang mengikatlan diri pada kontrak dengan Allah swt untuk menjalani hidupnya sebagai mahluk terjahat sejagat raya selama 1000 tahun. Dengan status seperti ini, ia mendapatkan kekuatan yang hebat untuk melakukan segala kejahatan terhadap umat manusia. Dikatakannya bahwa meski masih jauh di bawah kehebatan Allah swt, namun kedahsyatan kemampuannya dalam merusak iman manusia menempatkannya di peringkat kedua. Artinya, di dunia kegelapan, dialah pemegang tampuk tertinggi.

Nah, temanku ini berkata bahwa saat itu adalah tahun ke 1000 dari masa kontrak yang dijalani Dajjal, sehingga sudah saatnya ada yang menggantikan kedudukannya dengan kontrak baru untuk 1000 tahun ke depan. Ia lalu bertanya apakah aku berminat untuk posisi tersebut dengan dalih aku bisa mempunyai kemampuan yang tak terdandingi selain oleh Allah swt. Ia sendiri tidak berminat karena menganggap aku lebih qualified mengingat saat itu aku memang lebih banyak punya kenekadan dalam urusan bermain api.
Aku tersenyum sejenak yang membuatnya bertanya-tanya. Kukatakan padanya bahwa tanpa menjadi Dajjal pun aku sudah pernah berada di sisi tergelap kehidupan...dan aku sukses melewatinya. Buatku, aku tidak perlu menjadi yang terburuk bagi umat manusia karena aku sudah cukup buruk dengan menjadi Dajjal bagi diriku sendiri. Dan temanku tertawa setelah teringat akan apa saja yang pernah aku perbuat dahulu.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kelemahan mereka sebetulnya ada dalam diri mereka sendiri. Bisa saja Dajjal menjadi sosok jahat yang punya kekuatan hebat, namun bukan berarti kekuatannya tak tertandingi jika memang kita membiarkan Allah swt membantu kita dalam melawannya. Yang namanya buruk hingga ke tulang yang terdalam itu tentunya juga karena buruk ringan yang dibiarkan memberat. Kalau memang benar teori temanku itu, berarti bahkan Dajjal pun menjadi yang terburuk karena seperti itulah pilihan hidupnya. Dan tanpa harus menandatangani kontrak 1000 tahun, setiap orang mampu menjadi yang Dajjal bagi dirinya sendiri.


 .

Monday, December 22, 2014

Pengingatan

Mungkin masih banyak dari kita yang belum tau mengapa hari ini diperingati sebagai Hari Ibu Nasional.
Alangkah baiknya sementara kita dengan tulus mengucapkan selamat hari ibu, kita juga mengetaui latar belakang penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu nasional...

Penetapan Hari Ibu di Indonesia berawal dari bertemunya para pejuang wanita yang menggelar Kongres Perempuan Indonesia I  pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Tak kurang dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di pulau Jawa dan Sumatera hadir dalam kesempatan itu.
Salah satu hasil kongres adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).  Tujuan utama organisasi ini adalah berjuang menuju Indonesia merdeka dan perbaikan nasib perempuan.

Berbagai isu yang diangkat di antaranya adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, dan pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa.
Isu lainnya yang juga diperjuangkan adalah memerangi perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita serta menentang pernikahan usia dini bagi perempuan.

Pada 1938, ketika Kongres Perempuan Indonesia III  digelar ditetapkanlah 22 Desember sebagai Hari Ibu,  yang penetapannya diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Meutia, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Hajjah Rangkayo Rasuna Said  dan lain-lain.
Setelah Indonesia merdeka, melalui Dekrit Presiden  no. 316 tahun 1959, presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional.


Selamat Hari Ibu



 

Wednesday, December 17, 2014

Berkah Di Balik Kesabaran

Sudah seminggu terakhir ini kondisi finansialku benar-benar mengenaskan gara-gara ada saja hal-hal tak terduga yang terjadi yang memaksaku memeras kocek. Belum lagi memang di akhir tahun seperti sekarang, job bisa dibilang sepi. Beberapa proyek yang telah aku rintis penggarapannya sejak lebih kurang 2 bulan yang lalu tak kunjung bisa dimulai karena para bohirnya menemui berbagai masalah administrasi.

Aku punya banyak alasan untuk menjadi "moody" dan sensitif jika ada hal-hal yang bersinggungan dengan kebutuhan dana, baik itu di rumah maupun di tempat kerja. Namun aku juga sadar bahwa tindakan negatif apapun yang bisa aku lakukan tidak akan mengubah kondisi keuanganku. Maka tidak ada hal lain yang aku lakukan selain bersabar dan menunggu suatu mukjizat yang dapat melepaskanku dari keterpurukan ini.

Dua hari yang lalu adikku, yang menjadi mitra bisnis merchandiseku, lewat pesan singkat menanyakan nasib produk kami yang aku titipkan di toko merchandise sekolah almamaterku beberapa bulan sebelumnya.
Aah...aku memang lupa akan produk-produk itu. Bahkan aku sempat harus mencari-cari lagi nomor handphone contact person yang bertanggung jawab atas kerjasama ini. Dan kemarin aku sudah berhasil menghubunginya lalu membuat janji untuk menemuinya pagi ini.

Bapak ini sempat memberi info adanya beberapa butir produk yang terjual namun aku tidak menanyakan rincian jumlahnya karena aku pikir toh kami akan bertemu dan membahasnya. Sebutlah aku "jaim", namun aku memang tidak ingin memberi kesan "amatiran" dalam berurusan dengan pihak sekolah yang punya arti besar dalam perjalanan sejarah pendidikanku. Lagipula, aku berasumsi kalaupun terjadi transaksi pembayaran tunai, tentunya tidak signifikan jumlahnya.

Namun aku harus menelan kekecewaan ketika bapak ini ternyata tidak ada di tempat sesampainya aku disana. Padahal kemarin ia menyatakan akan stand by di tempat sejak pukul 7 pagi. Handphonenya yang tertinggal di sekolah karena kepergiannya yang mendadak itu membuatnya mustahil untuk dihubungi, sehingga aku memutuskan untuk pergi dan kembali lagi esok hari. Aku tidak mungkin marah padanya karena aku ingin bersikap luwes dan memberi respek tinggi terhadap segala kebijakan dan aturan main yang mereka terapkan.

Sebelum aku benar benar menjauh dari lingkungan sekolahku itu, aku sempatkan diri mampir ke masjid terdekat yang di pelataran parkirnya tersedia banyak tukang jajanan, membeli makan siang yang dibungkus untuk kusantap di tempat kerjaku nanti. Dan pada ketika aku siap meninggalkan tempat jajanan itulah aku dihubungi oleh bapak dari sekolahku itu, yang memberitau bahwa ia telah berada kembali di sekolah. Aku pikir, keinginanku untuk jajan itu merupakan mukjizat yang telah membuat perjalanan jauhku tidak sia-sia.

Tidak hanya itu, bapak itu ternyata menawarkan penyelesaian yang tak pernah kami duga sebelumnya mungkin terjadi. Pasalnya, agar tidak merepotkan dalam hal penyetoran hasil jualan, pihak sekolah berniat membeli putus semua stok barang yang dititipkan. Suatu deal yang tanpa perlu dibahas dulu dengan adikku langsung aku terima. Apalagi hasil pembelian putus ini langsung diselesaikan saat itu juga. Tentu saja adikku menyambut baik kabar ini. Bagaimana tidak? Kami mendapatkan sampai 10 kali lipat dari apa yang ketika terbangun pagi tadi aku duga akan kuterima.

Sepanjang perjalanan kembali ke tempat kerja, aku terus mensyukuri berkah ini sambil mengingat kembali bagaimana aku terus menerus menolak untuk menyerah kalah pada kegentingan kondisi finansial yang seolah sempat mendorongku ke posisi tidak sabar. Posisi yang memperbolehkanku melakukan semua sikap negatif dalam merespon keadaan. Dan untungnya, aku juga terus menerus memanuverkan fokusku dari hal-hal yang belum menjadi miliku ke semua hal positif yang telah aku terima hingga selama dalam masa keprihatinanku....secuil apapun itu. Alhamdulillah...



Monday, December 15, 2014

Yang Sederhana Dulu

"Kejarlah ilmu hingga ke negeri Cina."
Begitulah pepatah terkenal yang maknanya mengingatkan bahwa begitu banyak ilmu yang bisa didapatkan dimana saja di segala penjuru muka bumi ini hingga di luar angkasa.
Selayaknyalahpun orang bisa menerima dan memberikan ilmu tanpa mengenal batasan umur.
Mungkin pepatah inilah yang mendasari banyak orang untuk terus menggali dan mencari ilmu agama seperti yang dilakukan beberapa kenalanku.

Sebutlah A, yang ingin sekali menjadi manusia Islam yang baik dan benar. Tak segan-segannya ia mendengarkan khotbah dan tausiah dari banyak ustadz/ustadzah lokal yang makin hari makin banyak jumlahnya. Lalu, tanpa mengkaji lebih jauh apa yang ia dapatkan, diterapkannya ajaran-ajaran baru itu dalam hidupnya. Tak hanya itu, ia dengan rajin membagi-bagikannya tidak hanya kepada kerabat dan teman-teman dekatnya namun juga kepada umum lewat jejaring sosial yang juga menjadi salah satu sumber darimana ilmu itu ia dapatkan. Ia juga sering tertarik untuk hadir dalam acara-acara dzikir bersama atau tabligh akbar yang terbuka untuk umum yang dirasanya sebagai tempat menimba ilmu baru.

Sedikit berbeda dengan B, yang lebih menyeleksi nara sumbernya dengan menetapkan beberapa penceramah asing yang secara rutin ia tonton lewat internet. B ini lebih filosofis sehingga ia lebih mudah tertarik pada ilmu yang dikemas secara intelektual. Namun, meskipun yang ini lebih selektif dalam menyaring ajaran-ajaran yang didengarkannya, namun ia punya kesamaan dengan A dalam mencari ilmu baru yang diharapkan bisa membuatnya mengarahkannya ke pola hidup Islami yang baik dan benar. Dan seperti halnya A, ia juga rajin sekali membagi ilmu-ilmu barunya itu secara umum melalui jejaring sosial.

Aku memang bukan seperti mereka.
Mungkin aku lebih suka mempertahankan ilmu yang telah aku miliki ketimbang menggantinya dengan yang baru. Dalam hal ini, aku bicara lebih ke perubahan besar, karena akupun sadar bahwa tidaklah benar jika aku menganggap ilmu yang kumiliki sudah sempurna. Sehingga aku tau bahwa alterasi terhadap ilmu yang kuanggap benar itu kadang perlu dilakukan dalam skala kecil karena aku yakin segala ilmu yang kupraktekan selama ini tidak mungkin mutlak salah. Apalagi aku mendeteksi makin ramainya orang mencoba menunjukkan kalau dirinya berilmu, dan hal ini membuat apa yang beredar di kalangan umum merupakan campuran ilmu yang benar dan salah.

Aku menolak bahkan untuk mendengarkan ocehan orang-orang yang terlihat ingin terkenal seperti halnya banyak ustadz/ustadzah seleb. Atau orang yang memaparkan ilmu agamanya tanpa menyadari bahwa ia menjalani hari-harinya dengan melakukan hal-hal yang justru diharamkan oleh agamanya. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Islam adalah agama yang mudah yang harusnya membuat penganutnya punya kesederhanaan hidup. Bahwa Al-Qur'an merupakan kitab suci yang gunanya menuntun penganut Islam ke jalan yang benar tanpa harus menyiksa kehidupannya. Dan aku sudah melihat bagaimana seorang kerabat dekatpun menghancurkan hidupnya dan keluarganya setelah mencoba menemukan arti sesungguhnya dibalik ajaran Al-Qur'an untuknya.

Buatku, Islam adalah agama yang menyejukkan. Dan hal itulah yang harusnya selalu kurasakan. Bukan agama yang njelimet yang justru membuat penganutnya terbebani dalam mendapatkan kebaikan dalam beragama. Dengan menggunakan ajaran Al-Qur'an dan "contoh-contoh" dari Rasulullah sebagai pedoman hidup, harusnya setiap insan Muslim mampu menikmati dan mensyukuri hidup yang dihadiahkan oleh Allah swt.
Apa yang terjadi padaku hingga saat ini adalah apa yang sudah menjadi suratanku. Seburuk-buruknya itu, aku tidak berpikir ada cara "khusus" untuk merubahnya selain apa yang telah aku lakukan selama ini.

Aku lebih suka mengkaji cara mempraktekkan ajaran-ajaran dasar agamaku terlebih dahulu sebelum mencari-cari ajaran-ajaran lainnya yang sifatnya lebih mendetil. Jika memang aku masih belum bisa memberikan komitmen yang sepenuhnya pada pengamalan ajaran dasarnya, bagaimana mungkin aku pantas memikirkan ajaran-ajaran lainnya yang sifatnya mendetil?
Bagaimana mungkin seseorang bisa mendapatkan ilmu dari negeri Cina jika perahu layar sederhana sebagai kendaraan yang seharusnya membawanya kesanapun masih belum bertiang sedangkan niat untuk mendirikannya masih belum dimilikinya?

Niatkanlah dulu untuk membenahi segala yang sederhana...



Tuesday, November 25, 2014

Drama

So it begins to show who are still getting tied up with disappointment over the new government, and who are getting fed up with their attitudes toward it.

Looks like it's gonna be a long lasting drama...
 


Wednesday, November 19, 2014

Never Give Up

Tepat pukul 00:00 kemarin, akhirnya harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi; Premium dan Solar dinaikkan oleh pemerintahan baru yang dimulai sejak akhir bulan lalu. Memang dilihat sepintas, kenaikan harga BBM ini terasa janggal mengingat saat ini harga minyak dunia justru sedang menurun. Apalagi partai yang kemarin mengusung capres Jokowi kerap menyuarakan ketidaksetujuannya pada rencana kenaikan BBM yang terhembus di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Belum lagi jenis BBM yang harganya dinaikkan hanya yang menjadi konsumsi mayoritas penduduk negeri ini yang tingkat kehidupannya di bawah level "sangat kecukupan".

Alhasil, tidak hanya mereka yang dulu memihak Prabowo, tapi juga para pendukung Jokowi kini mengeluh atas kebijakan ini. Di luar itu, kebanyakan dari pendukung Prabowo mencibir bahkan mensukurin mereka yang dulu memilih Jokowi untuk menjadi presiden. Sementara pendukung Jokowi kini lebih memilih tidak memberikan pembelaan atas keputusan presiden pilihannya seolah memang tidak ada hal apapun yang dirasa mampu membenarkannya.
Sebenarnya seperti apakah sikap yang harus dimiliki oleh baik pendukung Jokowi maupun Prabowo dalam menghadapi  situasi seperti ini?

Kenaikan harga BBM itu bukan hal yang baru bagi negeri ini. Di setiap era kepemimpinan para presiden yang hebat (karena tidak semua presiden kita orang yang hebat), hal itu pasti terjadi. Kalau hanya dipatok dari harga minyak dunia, tentunya kita seolah tidak punya masalah lain di negeri ini. Tapi buktinya, kita punya begitu banyak urusan yang harus dibenahi sehingga pembenahannya bisa, mau tidak mau, melibatkan berbagai sektor. Bisa jadi saat ini, dinaikannya harga BBM itu bermaksud untuk mengatasi satu atau lebih masalah yang sedang kita hadapi. Bahwa kali ini, yang jadi tumbal bukan termasuk kalangan "mewah", ya tidak selalu mereka harus jadi bagian juga. Mungkin suatu hari nanti, akan ada kebijakan yang melulu hanya berdampak buruk pada mereka yang punya harta berlimpah.

Segala hal yang terjadi di seputar kenaikan BBM selalu sama dari masa ke masa. Berburu bensin hingga rela mengantri sekian lama di SPBU, aksi menentang dari berbagai kalangan, protes menuntut diturunkannya kembali harga yang telah terlanjur dinaikkan, ikut naiknya harga kebutuhan rumah tangga dan tarif angkutan umum, dll. Dengan terjadinya semua itu, hanya sesekali saja ada kebijakan susulan yang menetralisir kegundahan rakyat. Sisanya, harga BBM tetap pada pakemnya karena dirasa sebagai hal yang paling tepat untuk dijalankan oleh pemerintah. Dan akhirnya toch masyarakat luas mau dan mampu menerima dan mengatasi dampaknya.

Sudah untuk sekian lama dunia menganggap perekonomian negara kita ini ringkih dan tidak stabil. Dan kebanyakan dari kitapun sudah mengakuinya. Tapi bahwa hingga saat ini kita masih eksis, itu menandakan bahwa untuk sekian lama pula usaha kita untuk bangkit tidak menemui jalan buntu, dengan siapapun kita dipimpin. Jika kita dianggap terpuruk, kita bukanlah negara satu-satunya, apalagi masih ada negara lain yang kondisi perekonomiannya lebih buruk. Sejak awal, kita sudah memulai bangkit tanpa topangan negara-negara kapitalis. Boleh saja Malaysia, Filipina, Singapura atau Hong Kong menempati posisi di atas kita dalam hal kemakmuran, namun sejarah menunjukkan negara besar mana saja yang pernah ada di belakang mereka di awal kedaulatannya sebagai sebuah negara merdeka. Kemerdekaan yang kita raih 69 tahun yang lalu itu merupakan kemerdekaan yang murni dari keterlibatan negara kapitalis.

Kita baru memulai era baru dengan pemimpin negara dan jajaran alat pemerintahan yang baru. Seperti halnya yang sudah lalu, selayaknyalah kita memberi kesempatan kepada mereka dan diri kita sendiri untuk membangun negeri ini. Beri kesempatan untuk bangkit dari keterpurukan yang mungkin sudah terlalu lama kita alami. Beri kesempatan untuk menjadi dewasa dan bijaksana dalam berjuang mendapatkan hidup yang lebih baik tanpa harus saling mencibir, mensukurin, mengejek atau mengecam. Bagaimanapun, kita adalah bangsa yang punya leluhur yang dari awal tidak pernah menyerah memperjuangkan kemuliaan bagi negeri ini.
Be humble and never give up!



Thursday, November 13, 2014

Bukan Seniman

Kedua putra ku memang punya tabiat menunda pekerjaan yang tidak diminatinya. Hal ini adalah sesuatu yang aku maklumi karena hingga sekarangpun aku terkadang masih melakukannya saat aku merasa sedang melakukan hal lain yang aku anggap tidak mungkin ditinggalkan. Namun makin lama kebiasaan mereka makin parah karena seringkali penundaah itu disebabkan oleh acara televisi atau permainan video game. Padahal apa yang sering mereka tunda hanyalah pekerjaan yang sangat ringan seperti mengambil benda yang jatuh ke lantai. Dan aku sudah sering mengomel sanbil mengancam memberikan sanksi seperti pelarangan menonton televisi atau bermain video game untuk periode yang (bagi mereka) cukup panjang jika mereka tidak segera melakukan apa yang harus mereka prioritaskan terlebih dahulu.

Mungkin penundaan seperti ini bisa dianggap masalah sepele kalau saja mereka nantinya tidak lalu lupa untuk melakukannya. Faktanya, kadang mereka baru ingat setelah terlambat atau waktu yang tersisa tinggal sedikit. Misalnya penyiapan buku pelajaran atau pembuatan pe-er yang selalu aku minta untuk dilakukan begitu mereka tiba di rumah sepulangnya dari sekolah. Alhasil karena penundaan itu, sering kali mereka baru menyadari jika ada hal yang harus dibeli saat toko-toko telah tutup. Pengingatan mereka juga acap terjadi setelah ada teman yang menanyakannya. Begitu pula dengan seragam sekolah yang harus dikenakan namun ternyata masih harus disetrika bahkan belum dicuci.

Sejauh ini aku selalu mencoba bersabar dengan hanya mengingatkan bahwa suatu hari nanti penundaan seperti itu akan berdampak vital dalam hidup mereka. Aku pun sering harus membantu mereka keluar dari permasalahannya hingga larut malam saat mereka sudah tertidur pulas hanya karena aku tak ingin mereka mendapatkan hukuman dari gurunya. Terdengar memanjakan memang, namun selama aku menganggap masih ada harapan buat mereka untuk berubah, aku tidak keberatan untuk membantu melepaskan mereka dari ancaman dapat nilai rendah di sekolah.

Hari Minggu kemarin, aku memaksa anak sulungku untuk mengerjakan pe-er prakarya yang seharusnya telah dimulainya seminggu yang lalu. Suatu proyek panjang yang layaknya dicicil mengingat proses pengerjaan yang tidak mudah. Tugas utamanya adalah mengepang 3 batang kertas koran hingga membentuk sebuah tali yang panjangnya tidak boleh kurang dari 10 meter bahkan dianjurkan hingga 20 meter. Makin panjang makin baik. Namun untuk mendapatkan batangan kertas itu, ia harus sebelumnya memotong kertas koran selebar 6 cm, yang kemudian dilipat sebanyak 4 kali hingga membentuk sebatang kertas. Dan dengan setiap 3 batang yang dikepang itu dihasilkan seuntai tali sepanjang lebih kurang 30 centimeter. Jika untuk mendapatkan tali sepanjang 3 meter dibutuhkan 30 potongan kertas koran, maka bisa dibayangkan beban kerjaan yang dimilikinya untuk mendapatkan tali sepanjang 10 meter.
Untuk mempercepat waktu pekerjaan sekaligus mengurangi beban kerjanya, aku turun tangan dalam memotong dan melipat kertas korannya sehingga siap dikepang olehnya. Maka kami pun mengerjakannya selama seharian hingga ia berhasil mendapatkan untaian tali sepanjang 8 meter di penghujung hari yang akan ia bawa ke sekolah.

Dan di malam hari berikutnya, sepulangku dari bekerja, aku menanyakannya tentang apa yang terjadi di sekolah dengan hasil kerjanya. Ia lalu menceritakan dengan singkat bahwa disamping mendapat pujian, ia dianjurkan untuk melanjutkan tugasnya hingga panjang tali mencapai minimum 10 meter. Ia juga mengatakan bahwa masih banyak temannya yang bahkan belum mengerjakannya hingga sepanjang 5 meter. Hal itu membuatku lega karena nyatanya ia telah mengerjakan lebih banyak dari kebanyakan temannya.
Namun di pagi keesokan harinya, ketika aku melihatnya tengah menyiapkan tas sekolah yang seharusnya dilakukan di malam sebelumnya, aku tidak melihatnya mengeluarkan tali tersebut. Aku menanyakan dimana tali itu disimpan dan aku mulai curiga ketika ia mulai mencari sambil mengaduk-aduk isi tasnya. Bahwa kemudian ia ingat tali tersebut tertinggal di laci bangku sekolahnya, aku menjadi geram. Buatku, "kelupaan" itu harusnya telah terpikirkan olehnya ketika semalam ia bercerita padaku.

Kegeramanku berdasar pada kelalaiannya dalam menyimpan suatu barang berkarya yang telah dilakukannya seharian. Sementara hasil kerjanya itu merupakan barang yang mungkin saja sangat berharga bagi teman yang menemukannya mengingat semua siswa setingkatnya punya kewajiban membuat tugas yang sama. Hasil kerjanya itu tidak terindikasi sebagai miliknya karena tidak bernama sehingga dengan mudah diakui orang lain sebagai miliknya sementara tidak mungkin anakku bisa membuktikan jika barang itu memang miliknya.

Sebenarnya aku sudah seringkali hanya menceramahinya kalau ia melupakan suatu barang yang ia dapatkan secara gratis seperti barang-barang yang didapatkannya sebagai hadiah atau pemberian. Namun kali ini aku sangat kesal melihat begitu cerobohnya ia dalam menjaga suatu barang yang merupakan hasil jerih payahnya. Bagaimana pula orang lain akan menghargai hasil kerjanya jika ia sendiri tidak dapat menghargainya?
Alhasil, aku tidak hanya mengomel panjang lebar pagi itu, namun juga mengantarnya ke sekolah lebih awal untuk mencarinya . Beruntung baginya barang itu masih ada di tempat ia meninggalkannya kemarin. Tidak terbayang betapa akan tidak bersemangatnya ia untuk memulainya lagi dari nol.
Ia memang bukan (baca: belum jadi) seniman yang layaknya menghargai hasil seni yang dibuatnya, tapi ia tetap harus bertanggung jawab atas tugas-tugasnya sebagai seorang murid. Dan ia juga tetap harus menerima sanksi yang lebih berat dari yang pernah ia terimanya.
Semoga itu membuatnya jera dan menjadikannya orang yang lebih menghargai kewajibannya...