Entah sejak kapan, penggunaan kata Kamu itu jadi begitu luas. Dulu sekitar awal tahun 1983, sebelum aku hijrah ke negeri seberang, seingatku orang lebih sering mengucapkan Anda atau nama dari individu yang diajak bicara. Stasiun radio sudah banyak, tapi TVRI adalah stasiun TV satu-satunya yang menampilkannya secara visual. Mungkin karena sekarang kita bisa lebih mudah dan sering mendengar (dan
melihat) orang menggunakannya sebagai sebutan untuk pihak kedua. Apalagi yang namanya Talkshow sudah menjamur di begitu banyak stasiun visual termasuk yang di internet. Di acara seperti inilah para host sering menyebut Kamu pada tamu-tamunya.
Koq rasanya aneh mendengar siapa saja bisa menggunakannya pada perbincangan dengan sembarang orang. Hal ini mulai terasa sejak kepulanganku ke tanah air, dimana aku mulai kembali menjalani keseharianku dengan menggunakan bahasa nasional. Lalu tak lama kemudian ada seorang teman yang menganjurkan agar aku lebih baik menggunakan Anda atau nama. Alasannya simpel...Kamu lebih terasa pas untuk digunakan di masa lalu dan hanya pada pembantu. Jujur saja...memang sebelum kepergianku, aku hanya ingat kata itu dipakai dalam
kehidupan sehari-hari di sekolah (guru mengatakannya pada murid) dan di
rumah (orangtua ku mengatakannya pada pembantu mereka).
Secara teori, memang Kamu merupakan kata resmi untuk orang kedua. Itu sudah jelas digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia; "Nama kamu siapa?" "Kamu hendak pergi kemana?" dan seterusnya. Namun dalam pemraktekkannya, (seingatku) digunakannya untuk orang yang (jauh) lebih muda (misalnya anak kecil) atau punya status kedudukan yang juga (jauh) lebih rendah. Penggunaan seperti itu, yang sudah diterapkan (sepertinya) sejak zaman kolonial, rupanya telah membentuk image begitu, sehingga (buatku) tidak lagi terdengar pantas bila digunakan di lain kondisi. Itu sebabnya hingga kini lebih suka menyebut nama asli atau panggilan, atau kata-kata seperti Saudara, Dirimu, Anda, Dikau, Kau, bahkan Lu (khusus ke teman, atau di Jakarta), dlsb.
Kemarin di sebuah acara makan siang yang diadakan oleh seorang teman, aku dikenalkan pada seorang wanita pengusaha setengah baya, yang notabene lebih tua dariku hanya di tampilan wajahnya. Kami berdua lalu terlibat dalam perbincangan tentang bisnis yang dijalaninya sambil ia terus menerus menggunakan kata Kamu padaku. Selama itu pula aku juga terus menerus merasa terganggu, namun mencoba menahan diri untuk tidak protes. Mindset ku hanya terpaku pada fakta bahwa kata itu adalah kata yang sah dipakai dalam bahasa Indonesia tanpa memandang umur, jabatan, profesi atau (kalau boleh aku sebut) kasta. Sampai pada poin tertentu dimana aku tak tahan lagi menerimanya, aku yang dari awal menyebutnya dengan namanya, mulai menggunakannya juga padanya.
Nah...ketika itulah ia terlihat kaget dan seolah mulai terganggu. Mimik muka dan bahasa tubuhnya jelas menampakkan kegelisahnya. Lalu senyuman demi senyuman sinis kerap terlihat di wajahnya setiap aku mengunakannya. Perbincangan kami sontak menjadi terbata-bata, hingga akhirnya ia meminta permisi untuk menemui tamu-tamu yang lain. Pendek cerita, seusai acara, teman yang mengenalkanku padanya memberi tau bahwa wanita itu sempat mengeluh padanya atas tindakanku mengalamatkan kata Kamu padanya. Lhoh...aneh ya? Bukankah sebelumnya ia juga melakukan hal yang sama padaku? Temanku menduga bahwa wanita itu merasa tak layak disebut Kamu oleh orang seperti aku. Seperti aku? Ya...seperti orang yang tak sesukses dia.
Wah...kalau begitu prinsipnya boleh dibilang sama seperti aku donk? Tapi layakkah bila ia merasa lebih sukses dari aku sehingga hanya ia yang pantas menggunakan Kamu dalam perbincangan kami itu? Sukses itu khan subyektif. Memang kalau dalam bisnis yang digelutinya, tentu saja ia lebih sukses dari aku yang sama sekali tidak paham apalagi menjalaninya. Tapi aku yakin aku unggul di suatu bidang tertentu darinya. Yang pasti aku lebih sukses dalam hal penggunaan kata panggilan yang lebih baik demi menghormati dan menghargai perasaan orang yang aku ajak bicara. Buktinya, sampai pada poin tertentu tadi, aku lebih sukses menjaga perasaannya di saat dari awal ia sudah gagal menjaga perasaanku...
Ceritanya, anak sulungku kemarin bersama enam teman sekelasnya membuka stand martabak manis dan pudding di acara pensi sekolah dalam rangka perpisahan dengan kakak-kakak kelas mereka yang sedianya siap meninggalkan bangku sekolah menengah pertama. Acara yang dihadiri oleh semua siswa termasuk para orangtua siswa kelas sembilan ini diisi dengan pagelaran seni dan bazaar yang diikuti oleh siswa kelas tujuh dan delapan. Stand yang ada pun ada belasan dan kebanyakan menjual panganan. Jadi boleh dikatakan bahwa keahlian siswa dalam berkreasi memilih jenis panganan dan strategi penjualannya pun benar-benar diuji.
Sebagai orangtua yang tidak terundang bahkan tidak diperbolehkan hadir, aku menghargai usaha anakku dengan cara tidak ikut campur di dalamnya mulai dari persiapannya hingga pengeksekusiannya. Dukungan yang bisa aku berikan hanyalah memberinya modal urunan dan transportasi selama proses dijalankannya usaha itu. Aku setuju dengan ide bahwa mereka bebas memilih cara menjalaninya tanpa campur tangan orangtua. Mereka bahkan cenderung belajar membuat martabak dan puddingnya dari video-video tutorial di YouTube ketimbang mendapatkannya dari orangtua atau keluarga.
Maka bergulirlah acara tersebut dengan semestinya, dan kelompok anakku berhasil menjual habis 32 porsi pudding serta menyisakan sedikit potong martabak dari sekian banyak yang disediakan. Aku terkagum-kagum dengan hasil akhir yang mereka capai. Sangatlah mungkin bahwa hasil sebaik itu tak tercapai jika aku yang berjualan mengingat aku payah sekali dalam hal marketing. Dalam penasaranku, aku tanya anakku bagaimana bisa menjual begitu banyak stok disaat ada banyak pilihan panganan. Jawabannya unik sekaligus lucu...
Jadi mereka rupanya sempat bingung karena progres penjualannya dianggap sangat lambat. Martabak yang ditawarkan dengan harga Rp. 4000,- per potong dan pudding seharga Rp. 2000,- per porsi mungkin masih dianggap mahal. Penolakan halusnya adalah, "Nanti saja. Mau lihat-lihat dulu yang lain". Alasan klasik yang biasanya berarti bahwa yang ditawari tidak akan kembali lagi begitu ia meninggalkan stand mereka. Lalu mereka memutuskan untuk menjemput bola dengan berkeliling menawarkan dagangannya. Namun karena hal itu belum juga efektif, mereka menerapkan sistem Combo, alias memaketkan sepotong martabak dengan seporsi pudding dengan harga jual Rp. 5000,-.
Hasilnya sangat baik karena mereka berhasil menjual setengah stok yang ada. Namun mereka bertarget menghabiskan stok karena tak ingin repot membawa sisa dagangan pulang. Dan setelah bersama-sama berpikir keras mencari solusi, mereka menemukan sebuah cara yang inovatif. Diajaklah Reza, seorang teman yang cukup populer di sekolah karena ketampanannya untuk mendampingi mereka dalam menawarkan dagangannya ke para siswa putri. Dengan paket Combo yang harganya telah dikembalikan ke harga normal, Rp. 6000,-, mereka memberi tawaran yang ternyata sulit diabaikan kebanyakn siswa putri; "Dapat kesempatan selfie bareng Reza".
Dan penawaran itulah yang nyaris meludeskan dagangan mereka bahkan jauh sebelum acara berakhir.
Lalu kompensasi apa yang diminta oleh Reza? Sama sekali bukan materi, karena baginya, jadi rebutan siswa putri untuk foto bareng memberinya kepuasan tersendiri dan itu dianggapnya sudah imbang dengan bantuan yang ia berikan buat teman-temannya.
Ck ck ck...anak-anak zaman sekarang... :p
Entah apa penyebab awalnya, di antara orangtua wanita dari siswa seangkatan anak keduaku terjadi pengelompokan yang tidak sehat. Situasi yang istilah umumnya gap-gap-an ini rupanya sudah terbentuk sejak dua tahun yang lalu ketika anakku duduk di kelas empat. Dugaanku, penyebabnya tak jauh dari faktor materi duniawi yang mempengaruhi life style mereka. Aku menduga demikian karena satu yang pertama punya gaya hidup yang bisa dibilang mewah...minimal butuh uang banyak untuk mendukungnya. Sedangkan kelompok kedua terlihat lebih membumi karena memang banyak anggotanya datang dari kalangan pas-pas-an bahkan kurang mampu.
Salah satu contoh perbedaannya adalah bahwa meskipun keduanya punya kegiatan pengajian, namun kelompok pertama sering menyewa catering makanan untuk disajikan dalam pengajiannya sementara kelompok kedua lebih mengandalkan apapun panganan ringan seperti kue kering, kacang atau gorengan yang dibawa secara sukarela oleh para anggotanya. Contoh lainnya adalah kegiatan arisan yang iurannya jauh berbeda antar kedua kelompok. Nah...perbedaan-perbedaan mencolok seprti inilah yang kemudian merusak hubungan pertemanan antar anggota kedua kelompok ini. Ini yang aku sebut di atas "tidak sehat". Awalnya mungkin tidak terlalu bermasalah karena (buat aku) kasus semacam ini kerap terjadi di antara wanita, namun lama kelamaan efeknya mulai terasa di antara anak-anaknya. Parahnya, ada beberapa anak yang kemudian mulai tidak menghormati ibu-ibu, sebut saja para emak dari kelompok kedua yang kebetulan punya masalah dengan ibunya.
Kondisi ini makin meruncing ketika anak-anak mereka duduk di kelas enam. Hal ini disebabkan karena makin banyaknya kegiatan yang perlu dilakukan oleh para emak dalam rangka mempersiapkan berakhirnya masa sekolah anak-anak seperti acara pelepasan siswa, perpisahan, pembuatan buku tahunan, dll. Kegiatan-kegiatan yang layaknya dilakukan oleh semua orangtua murid secara terpadu cenderung jadi tersendat-sendat karena adanya faktor saling menghambat. Berbagai perbedaan prinsip tak mudah diselesaikan karena mereka tidak saling mengalah. Belum lagi tugas-tugas yang dengan sengaja tidak diselesaikan hanya karena ketidaksukaan satu sama lain. Sementara itu, pihak sekolah tidak kuasa untuk menengahi ketika urusannya menyangkut dana, karena larangan dari Pemerintah Daerah bagi semua sekolah negeri. .
Akhirnya semua permasalahan ini memuncak dengan rencana diterbitkannya Buku Tahunan di acara Pelepasan Siswa yang saat ini sudah naik cetak. Ada tujuh emak dari kelompok pertama yang tidak membayar iuran yang diperlukan. Padahal mereka sudah berkali-kali diingatkan baik secara verbal maupun tulisan lewat surat edaran orangtua siswa kelas enam dan di grup Whatsapp. Kemarin, lewat salah satu emak yang mewakili enam orang lainnya, mereka berniat melakukan pembayaran agar anak-anak juga kebagian Buku Tahunan tersebut. Sayangnya...upaya mereka ini tidak berbuah hasil seperti yang mereka harapkan. Kecuali mereka mau membayar lebih berlipat-lipat, proses pencetakan ini tak mungkin lagi diinterupsi. Aku paham sekali kondisi ini mengingat aku juga dulu pernah menjalani usaha percetakan. Banyak faktor yang mencekal upaya penambahan segelintir oplaag cetakan jika proses pembuatan buku sudah melampaui tahap pencetakan.
Yang aku sayangkan adalah segala aksi pembelotan dari ketujuh emak ini melulu didasari ego pribadi semata tanpa menimbangkan anak-anaknya. Aku bisa membayangkan betapa kecewanya ketujuh anak ini kelak ketika mereka tidak punya kumpulan dokumentasi perjalanan studi mereka di sekolah dasar selama enam tahun. Di buku itu, tentunya ada foto dan nama mereka...hanya saja mereka tidak memilikinya sebagai kenang-kenangna untuk disimpan. Kalau sudah begini, para emak itu akan bicara apa? Saat ini mungkin anak-anak itu manut saja dengan para emak-nya. Tapi kelak belum tentu mereka bisa memaklumi aksi para emaknya. Jangan lupa bahwa masa-masa di sekolah dasar merupakan masa-masa transisi dari anak menjadi remaja. Biasanya masa-masa itu sulit terlupakan.
Lalu, layakkah masa-masa itu dikorbankan demi ego para emaknya? Renungkanlah....
Sosok presiden yang satu ini cenderung gemulai, persis seperti sahabatku yang telah pergi mendahuluiku beberapa tahun silam. Di balik pembawaan sahabatku yang terkesan "priyayi" ini (kebetulan almarhum juga orang Jawa), aku ingat ia bisa terlihat ganas ketika naik pitam hingga suatu ketika sampai mendobrak paksa pintu yang tak sengaja terkunci dari dalam. Jadi yang aku bayangkan adalah bahwa selemah-lemahnya anggapan orang tentang pribadi seperti ini, bisa saja tersembunyi ketegasan yang melebihi mereka yang terlihat garang.
Jujur saja, aku dulu lebih mencari sosok yang tegas sebagai pemimpin. Namun aku juga selalu kagum dengan kekaleman Jokowi yang terkesan "anti panik". Dan bawaannya yang sangat sederhana dari awal itu benar-benar klop dengan prinsip hidup yang sudah sejak muda aku coba jalankan. Sehingga ketika ia terpilih sebagai presiden, aku yakin kesemrawutan kondisi berbagai sektor di negeri ini, kelak akan tertangani dengan baik di bawah kepemimpinannya, disamping memang sebagai warga yang bermaksud loyal terhadap negara, aku harus mendukungnya sebagai seorang pemimpin.
Inti tulisanku ini bukan tentang kekagumanku pada pembawaannya, namun pada kehadirannya dalam mimpiku semalam. Yang mengesankan adalah bahwa ini kali pertama aku bermimpi bertemu dengan seorang presiden. Dan pertemuan ini bukan terjadi di suatu ajang resmi tapi justru dalam suasana yang begitu santai. Bertempat di rumah kediamannya yang sama sekali tidak mewah, aku termasuk diantara sekitar enam tamunya yang tengah menyantap malam di meja makannya yang ukurannya pas untuk delapan orang. Aku tak ingat siapa saja tamu lainnya, yang jelas pembicaraan kami tak serius yang berkisar seputar apa yang telah dilalui masing-masing individu selama seharian.
Dan ketika makan malam usai, tiga diantara kami pamit dan beranjak pergi. Aku dan kedua tamu lainnya kemudian digiring ke ruang keluarga yang sama sekali tidak luas. Lucunya, kami dan bapak presiden ini lebih memilih duduk di karpet setelah meja di atas karpet itu kami pinggirkan. Begitu santai dan bebasnya hingga beberapa dari kami bisa menyulutkan rokok kami. Hari gini, dimana lagi bisa bebas merokok di sebuah ruang keluarga?
Lagi-lagi pembicaraan kami tidak menyangkut urusan negara tapi justru tentang pernikahan.
"Apakah dalam mimpimu itu ia memang seorang presiden? Jangan-jangan ia hanya seorang biasa", mungkin saja itu jadi pertanyaan orang yang mendengar kisahku.
Pasalnya, aku ingat betul betapa aku sempat memikirkan bagaimana cara mengajaknya selfie agar nantinya aku bisa punya bukti bahwa aku bertemu dengan seorang presiden. Hanya saja aku tak ingin malu jika ia mungkin merespon dengan anjuran agar aku tidak bersombong diri...huff
Perbincangan kemudian berlanjut pada soal perkembangan penduduk negeri ini. Ia lalu membuka sebuah peta besar di atas karpet dan menunjukkan marka-marka merah yang mengidikasikan daerah mana saja yang pertumbuhan penduduknya pesat. Ketika itulah ibu negara datang sambil membawa nampan berisi empat set cangkir, meletakkannya di atas meja dan menyilahkan kami menikmati hidangan teh nya. Wah...kesederhanaan yang seperti itu yang sempat ingin aku abadikan tapi tak terjadi hanya karena aku khawatir kesannya aku norak dan kampungan.
Ketika selang beberapa waktu kemudian aku berdiri dan bermaksud ke kamar kecil. Dalam perjalananku menuju toilet, aku dapati sebuah kamar dengan pintu yang terbuka lebar. Disitu aku melihat kepala Sekolah Dasar anakku tengah men-tutor tiga orang anak didiknya.
Aneh bukan? Tapi khan wajar saja jika ada keanehan dalam sebuah mimpi? :)
Dan ketika aku tiba di pintu kamar kecil, aku terbangun di tengah malam karena aku memang perlu pergi ke kamar kecil.
Kenapa aku bermimpi ketemu presiden Jokowi seperti itu?
Entahlah.
Apa makna dibalik mimpi itu?
Tidak ada satu manusiapun yang pernah tau, jadi tak perlu ditebak-tebak.
Bagaimana kesan-kesannya buat aku?
Senang sekali tentunya. Ini bukan mimpi yang biasa, karena tak hanya aku bisa berinteraksi langsung dengan seorang presiden Jokowi, tapi juga aku bisa terbangun untuk melaksanakan shalat malamku. Alhamdulillah...
Aiiih....mimpiku semalam begitu indahnyaaa...
Bagaimana tidak jika dipenuhi udara cinta dari orang-orang yang aku cintai dan balik mencintaiku; ayahku, ibuku dan dirinya?
Tak ada pertengkaran dan pertikaian. Tak ada kegaduhan atau tekanan. Yang ada hanya senyuman, canda dan romansa.
Aku tak ingat bagaimana berakhirnya, namun yang pasti tak ada pemotongan kisah, yang biasanya membuatku terjaga dalam penasaran.
Dan yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa aku terbangun di tengah malam persis seperti harapanku sehingga aku bisa sahur dan melakukan shalat malam. CintaNya kepadaku?
Aaww...cinta yang hadir semalam dalam tidurku begitu komplitnya.
Sebenarnya apa iya shalat yang diterima Allah swt itu hanya yang khusyuk? Lalu bagaimana sih shalat yang khusyuk itu?
Kalau bicara soal agama, ilmu ku amat sangat cetek. Ibarat sebuah kolam renang, mungkin bisa dibilang ilmu ku hanya setinggi genangan air yg tersisa setelah air sekolam itu dibuang.
Jadi sebelum membahas soal khusyuk-nya shalat, perlu aku tekankan dulu bahwa apapun yang aku tulis berikutnya murni hanyalah hasil pemikiran ku sebagai seorang Muslim yang awam...yang pemikirannya lebih mendasar pada logika sederhana.
Aku hanya sering bertanya dan menjawab sendiri sampai sejauh mana aku memfokuskan diri pada shalat yang aku kerjakan. Maaf...bukannya aku tidak menghargai pendapat orang lain yang (sangat) mungkin lebih mendalami ilmu Islamnya...tapi aku selalu berpendapat bahwa apapun yang aku lakukan dalam beragama itu baik buruknya toch buat aku sendiri, sehingga aku lebih suka menerapkan metode yang kuanggap paling pas buatku: metode ku sendiri. Tentunya ada dengan pengaruh dari pendapat si A dan/atau si B dan/atau si C, dst., yang kemudian bisa aku kombinasikan sesuai akal sehatku.
Buatku, salah satu cara efektif untuk bisa khusyuk dalam menjalankan shalat adalah dengan mengerti arti setiap bacaan yang kita bacakan. Dalam hal ini, yang kumaksud tak hanya sekedar mengerti namun juga memikirkan arti itu ketika membacanya. Misalnya ketika aku mengucapkan takbir, yang ada dalam benakku tak lain adalah aku tengah mengatakan "Allah Maha Besar". Sama halnya dengan ketika aku tengah berbicara dalam bahasa Indonesia, aku tau pasti apa yang aku ucapkan. Dalam kasusku, hal itu juga terjadi ketika aku tengah menggunakan (mengucapkan atau menulis dengan) bahasa Inggris. Misalnya, ketika aku mengucapkan, "I'm talking to you", yang ada dalam benakku adalah kalimat, "Aku berbicara dengan anda". Berbeda dengan ketika aku sedang menyanyikan lagu berbahasa Inggris, bisa saja karena yang keluar dari mulutku adalah sesuatu yang sudah aku hafal sehingga di benakku yang terlintas bisa apa saja selain lirik lagu yang aku nyanyikan.
Nah, jujur saja....sudah berkali-kali aku kecolongan sehingga ketika membaca takbir, pikiranku bisa sedang kemana-mana tanpa secuilpun terpikir tentang keMaha Besaran Allah swt.
Sekarang bayangkan jika setiap kalimat, setiap ayat, dan setiap doa yang kita ucapkan dibarengi dengan pemikiran tentang arti harafiahnya. Betapa konsentrasinya kita terhadap apa yang kita ucapkan ketika kita sembari berpikir tentang bagaimana kita memuji Allah, Tuhan semesta alam, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan Penguasa Hari Pembalasan, bagaimana kita menyembahNya, memohon pertolonganNya dan meminta ditunjukkan jalan yang lurus. Itu saja hanya baru saat kita membaca Al-Fatihah. Belum lagi surat-surat dan bacaan-bacaan lainnya. Dalam duduk diantara sujud saja kita minta diampuni, dikasihani, dicukupkan kekurangan kita, diangkat derajat kita, diberi rezeki, petunjuk, serta kesehatan, dan dimaafkan kesalahan kita. Bukankah itu sudah merangkup semua yang kita butuhkan dariNya? Kalau memang permintaan-permintaan itu memang ada dalam benak kita, dalam arti kita sadar dengan apa yang kita minta,bukankah kita sedang khusyuk? Tentunya akan berbeda total ketika kita sedang meminta tapi pikiran kita kosong atau bahkan kita sedang memikirkan hal yang lain. Permintaan kita seolah hanyalah materi hafalan yang terucap begitu saja sebagai bagian dari shalat tanpa dijiwai.
Menurutku, melakukan shalat itu tak sama dengan menyanyikan sebuah lagu berbahasa Arab dengan fasih (karena hafal) tanpa mengerti artinya kalimat demi kalimat. Jika aku menjadi seorang imam dalam suatu shalat berjamaah, lalu membaca surat panjang dengan alunan nada yang indah, tapi tidak dibarengi dengan pengertian apa yang aku bacakan, mungkin saja kekhusyukanku hanya berapa persen yang mana itu buat konsentrasi pada kehati-hatianku agar aku tidak salah baca (yang bisa bikin malu sendiri di depan para jamaah). Mungkin ada saja orang yang bertanya dalam hati, "Koq surat yang dia pilih yang pendek-pendek melulu?", tapi aku lebih nyaman dengan surat-surat pendek yang ketika kubaca dibarengi dengan pengertian artinya, karena berarti aku bisa lebih khusyuk. Toch...sekali lagi...apa yang aku lakukan baik buruknya akhirnya hanya untuk aku sendiri...bukan untuk orang lain.
Jadi seperti itukah kekhusyukan semua shalatku? Sayangnya tidak. Aku masih sering kecolongan, lebih memikirkan hal-hal lain ketimbang arti dari apa yang aku bacakan... :p
Pesan tayangan kakakku semalam di grup Whatsapp keluarga itu tak terlalu panjang tapi tak seorangpun dari kami bertiga yang mempertanyakannya. Padahal tak jarang pernyataan darinya mengundang pertanyaan dari kedua siblingku yang lain saking formatnya yang cenderung tak lengkap dan misterius. Aku sendiri biasanya sudah lebih mengerti makna yang terkandung dibalik pernyataan-pernyataannya karena kami (biasanya) sudah membahasnya terlebih dahulu lewat jalur pribadi. Bahkan ia kadang perlu meminta pendapatku tentang bagaimana menyampaikannya di grup kami ini...meskipun nantinya tetap saja ia sajikan dengan caranya sendiri.
Isi tayangannya begitu sederhana dan to the point. Buatku, sepertinya yang membuat pesannya mudah diterima dan dicerna oleh kami bukanlah kesederhanaan itu tapi justru kepasrahan kami atas apapun yang akan terjadi dengan nasib perusahaan tambang mendiang ayah kami yang sejak mangkatnya almarhum telah kami, khususnya aku dan kakakku ini, perjuangkan untuk bisa bertahan menghadapi dampak negatif dari aturan pemerintah yang sejak diberlakukannya tahun 2014 silam telah menumbangkan puluhan perusahaan tambang lokal. Dampak yang telah menganjlokkan nilai-nilai jual hasil tambang di pasar dunia ini akhirnya berpengaruh juga bagi kelangsungan hidup perusahaan ayah kami.
Pesan kakakku yang dimulai dengan "Bad news" ini menjelaskan bahwa akhirnya perusahaan ini hanya dinilai impas untuk melunasi hutang-hutang perusahaan yang ditimbulkan oleh pimpinan perusahaan terdahulu setelah kiatnya untuk membangun kerjasama dengan pihak lain berakhir dengan kebuntuan. Nilai yang milyaran jauh di bawah nilai kandungan hasil bumi yang dikuasainya ini tentu layak membuat kami shock. Sudah pada tempatnya jika pemberitauan dari kakakku mendorong kami untuk mempertanyakannya padanya sebagai suatu aksi "tidak percaya" atau bahkan "tidak terima". Namun kesan yang semalam aku dapatkan dengan membaca respon-respon dari kedua siblingku yang lain adalah suatu wujud keikhlasan.
Perjalanan kami melewati masa-masa kritis dalam memperjuangkan apa yang dahulu dirintis mendiang ayah kami memang luar biasa. Untuk kesejahteraan masa depan kami memang pasti...tapi mungkin yang dahsyat justru kami juga berusaha mewujudkan cita-cita beliau menyantuni ribuan mantan karyawan perusahaan BUMN yang pernah dipimpinnya selama puluhan tahun sebelum lebih kurang satu dekade kemudian ia mendirikan perusahaan ini. Mungkin memang akan menjadi sesuatu yang super dasyat jika hal itu akhirnya bisa kami realisasikan, namun bahwa dengan mengusung amanah almarhum sepanjang perjuangan kami justru memberi rasa manis dalam kebuntuan yang kami hadapi saat ini.
Keteguhan kami memperjuangkan amanah itu seolah membiaskan suatu cahaya terang dan aroma yang harum ketika dipadukan dengan keikhlasan kami menerima kenyataan yang mungkin dirasa pahit bagi orang-orang yang mengincar keuntungan materi keduniawiannya. Kedua siblingku hanya merespon dengan pengharapan bahwa kelak kami mendapat sesuatu yang bermanfaat dengan keadaan ini. Entah impian apa saja yang pernah dimiliki oleh mereka, namun terasa sekali bahwa berita ini diterima dengan ikhlas dan legowo tanpa diiringi nada kekecewaan. Aku mengindikasikan keikhlasan itu karena itulah yang aku rasakan. Terlepas dari kegagalan atas segala usahaku menyelamatkannya, aku merasa lega bahwa akhirnya aku sampai di ujung jalan. Bahwa aku tak mungkin meneruskan perjalananku tentunya sudah jelas karena disitulah jalan itu berakhir...bukan karena aku tak punya kekuatan atau keinginan untuk berjalan.
Sudah terlalu lama aku diombang ambingkan ketidakpastian akan nasib perusahaan ini. Sudah sekian kali usahaku disini gagal karena pihak lain. Sudah banyak aku bertemu mereka yang serakah, yang dengan egoisnya ingin menjadikan perusahaan ini sebagai mesin uang baginya. Melelahkan sekali. Karena itulah terhentinya aku disini terasa melegakan sekali. Aku tak kecewa karena aku sudah bekerja maksimal. Aku puas dengan effort yang telah aku berikan. Dan kalau memang akhirnya harus begini ya aku bersyukur alhamdulillah karena aku masih diberi kesempatan untuk merasakan manisnya akhir perjalanan panjang ini. Kelak aku (dan siblingku) mungkin masih mewujudkan harapan mendiang ayahku dengan cara lain dan lewat jalan yang berbeda. Dan ketika itu terjadi, aku yakin aku akan lebih berbunga-bunga lagi.
Yaa Allah...terima kasih atas segala berkah, kekuatan dan kesabaran yang telah Kau limpahkan selama perjalanan ini sehingga aku bisa sampai disini. in shaa Allah apa yang aku dapat memberiku pelajaran yang sangat bermanfaat bagi hidupku kelak...aamiin.